
Sesampainya di taman. Queen menggandeng tangan Rossa dengan berlarian menuju ke arah anak-anak kecil yang sedang asik bermain di taman.
Rossa dan Queen ikut bermain bersama anak-anak kecil yang ada disana, mereka berdua juga tertawa ceria layaknya anak-anak kecil itu, ada yang sedang berlarian kesana kemari, ada yang bermain kejar kejaran, ada yang bermain pasir membuat istana, ada yang bermain bola dan masih banyak lagi.
" Kaka-kaka cantik ayo tangkap aku, " ujar seorang gadis kecil manis pada Queen dan Rossa, mereka berdua mengiyakan seraya mengejar gadis menggemaskan itu.
" Oke kakak tangkap kamu ya, " balas Queen.
" Queen kamu tangkap dia dari sana biar aku yang kejar, " sahut Rossa sambil tertawa.
" Aaaaaak, " teriak gadis kecil itu, saar dirinya tengah berhasil ditanggap oleh Rossa.
" Hahahaha. " Rossa dan Queen tertawa bersama, dengan anak-anak lainnya.
Dua gadis itu terlihat sangat ceria, mereka berdua sangat menikmati suasana ini, seperti suasana masa kecil mereka, sampai pikiran Rossa yang tadinya kacau sekarang gadis itu seperti sudah melupakkan.
Rossa tidak sadar ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya dari dalam mobil jalan samping taman tersebut.
" Hemm ternyata dia tidak seperti anak orang kaya yang lainnya, " gumam seorang laki-laki dengan mengembangkan senyum dibibirnya.
Kemudian laki-laki itu kembali menutup kaca mobilnya dan segera berlalu dari sana, sebelum kedua gadis itu mengetahui keberadaannya.
" Rossa, aku capek ayo kita cari minum dulu, " ajak Queen, tenggorokkannya sudah terasa kering, gadis itu merasa kehausan akibat banyak bermain bersama anak anak itu.
" Iya boleh Queen, aku juga haus, tapi bagaimana dengan mereka? " tanya Rossa sambil menunjuk ke arah anak anak yang masih asik bermain itu.
" Biarkan mereka disini, kan ada orang tuanya disana, " sahut Queen sambil menunjukan keberadaan orang tua anak-anak kecil tersebut.
Rossa terkeleh, " Oooh iya ya hehehe. "
Rossa dan Queen berjalan disekitar taman untuk mencari pedagang minuman, sampai mereka berdua berhasil menemukan satu pedagang yang masih buka, karena hari sudah mulai sore, banyak pedagang yang menutup tokonya.
" Ah segarnya, " ujar Queen setelah dia selesai meminum air kemasan yang di jual tidak jauh dari mereka bermain tadi.
Hari mulai petang, akhirnya mereka segera meninggalkan taman tersebut. Queen mengantar Rossa pulang kerumahnya, yang awalnya raut wajah Rossa ceria, kini berubah kembali muram.
" Sudah Rossa jangan di pikirin, tenangkan pikiran mu, besok pagi aku tunggu kamu di lobi kampus kamu harus menemui aku dulu sebelum ke kelas ok, " ujar Queen dan Rossa mengangguk setuju.
Sesampainya di rumah Rossa. Queen segera berpamitan pulang kepada Fiky dan Gesya.
" Om, tante Queen pamit pulang dulu ya, " ujar Queen kepada orang tua Rossa.
__ADS_1
" Iya nak, terimakasih sudah mengantar Rossa pulang, apa perlu om panggilkan orang suruhan om untuk mengantarmu pulang nak? " tanya Fiky, namun Queen menggeleng.
" Tidak perlu om, Queen bisa pulang sendiri kok, terima kasih atas tawarannya om, " balas Queen sambil tersenyum.
" Baiklah kalau begitu, sekarang pulanglah nak, ini sudah malam dan hati hati dijalan, " ujar Fiky.
" Sekali lagi terima kasih ya nak Queen, " sahut Gesya.
" Hehe iya om, tante sama-sama, om tante Queen pamit ya, " mereka semua mengangguk dan tersenyum hangat membalas ucapan Queen.
Rossa mengantar Queen menuju teras rumahnya, gadis itu melambaikan tangannya kepada Queen dengan tersenyum lebar. Queen juga membalas lambaian yang sama. Rossa tidak langsung masuk ia masih berdiri di teras rumahnya sambil melihat mobil Queen sampai menghilang dari pandangannya.
Rossa masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu, lalu berlalu ke kamar, gadis itu mengacuhkan kedua orang tuanya.
Gesya yang hendak menghampiri putrinya ia ingin menyapanya karena hari ini Rossa acuh, tetapi di tahan oleh suaminya.
" Biarkan Rossa tenang dulu ma, biar dia memikirkan keputusan besok dengan matang, " ujar Fiky.
" Baiklah pa, "
***
Selama dikampus gadis itu tetap memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil. Namun, ia masih belum menemukan jawabannya, disisi lain Rossa tidak bisa mencari pacar sampai saat ini, tetapi Rossa juga tidak bisa menerima perjodohan papa sama mamanya itu, karena Rossa ragu dan belum siap sepenuhnya.
Akhirnya jam mata kuliah kampus hari ini sudah berakhir, tetapi Rossa juga belum mengambil keputusan yang tepat, gadis itu masih terlihat melamun dikelasnya.
Sampai ia tidak menyadarinya bahwa kelas sudah tampak sangat sepi, hanya dirinya yang masih ada disana.
Rossa berjalan keluar dari kelasnya, hari ini ia malas sekali untuk pulang, pasti nanti berujung debat dengan papanya perihal keputusan perjodohan.
Rossa berjalan tidak tentu arahnya kemana, sampai ia tidak sengaja melihat ruangan yang bertulisan perpustakaan. Lalu Rossa menghentikan langkahnya didepan perpustakaan itu.
" Dari pada aku pulang sekarang, mending aku ke perpustakaan dulu untuk membaca mencari pengetahuan baru yang lebih berfaedah, dari pada pulang yang ahirnya debat masalah perjodohan, " gumam Rossa, gadis itu menarik kedua sudut bibirnya sampai membentuk sebuah senyuman manis.
Dengan semangat yang membara. Rossa memasuki ruang perpustakaan itu, gadis itu begitu tertegun melihat isi perpustakaan itu, ada banyak buku berjajar serta meja dan kursi yang ditata dengan rapi.
Rossa meletakkan tasnya diatas meja perpustakaan, gadis itu segera berjalan mendekati rak buku disana, kemudian memilih buku yang ingin ia baca.
Akan tetapi saat gadis itu hendak mengambil buku yang ingin ia baca. Namun, tiba tiba saja buku yang sempat ia ambil itu malah terjatuh dan membentur keningnya.
" Aduhhh, " Rossa mendesis kesakitan tak kala buku itu berhasil membuat keningnya sedikit merah.
__ADS_1
Pada saat Rossa hendak membalikkan badannya untuk membereskan buku yang terjatuh tadi, Rossa dikagetkan oleh seseorang laki laki yang sekang ada dibelakangnya.
" Astagaaaa.! " pekik Rossa terkejut, gadis itu segera memegangi dadanya yang terasa jantungnya mau copot dari tubuhnya.
Dan laki-laki yang berada di belakang Rossa itu adalah Alex. Alex juga tidak sengaja memasuki perpustakaan, ia memang selalu berada diperpustakaan setelah jam kampus selesai.
Kening Alex berkerut halus, karena dirinya tidak sengaja melihat kening Rossa yang merah.
" Ada apa dengan keningmu? " tanya Alex.
Rossa merasa gugup, gadis itu berusaha menutupi keningnya. Namun, Alex menepis tangan Rossa yang hendak menyentuh keningnya .
" Jangan disentuh, aku akan mengobatimu, duduklah disana.! " perintah Alex yang seperti biasa dengan nada datar dan dingin, tapi Rossa tetap menolak.
" Ah tidak usah ini tidak sakit, " akan tetapi yang didapat oleh Rossa adalah tatapan tajam dari laki-laki itu. Rossa yang melihatnya itupun begidik ngeri, mau tidak mau Rossa harus mau menerimanya.
Akhirnya Rossa berjalan menduduki kursi yang ditunjuk oleh Alex, laki laki itu juga sempat membereskan buku yang nerjatuhan akibat ulah Rossa.
Setelah selesai membereskan buku yang berjatuhan itu, Alex segera berdiri meninggalkan Rossa di tempat.
Alex kembali datang dengan membawa sebuah kotak yang bertulisan P3K, tanpa banyak basa-basi Alex langsung berjongkok tepat di hadapan Rossa.
" Eh tidak perlu, saya bisa mengobatinya sendiri, "
Mendengar penolakan halus dari Rossa. Alex langsung menatap Rossa dengan tajam lagi, memberi isyarat agar gadis itu diam, dan tidak banyak bicara.
Rossa segera membungkam mulutnya rapat, gadis itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa menerima perlakuan Dosennya tersebut.
Alex kembali melanjutkan niatnya, laki laki itu mengambil sebuah kapas yang berada di dalam kotak tersebut lalu mengoleskan kapas itu dengan sedikit salep, kemudian di tempelkan pelan pelan ke kening Rossa yang memar.
" Aah perih, " desis Rossa ketika kapas itu berhasil menempel dikeningnya, akibat gugup wajah Rossa tiba tiba berubah memerah, gadis itu menjadi malu dan salah tingkah.
" Terima kasih, " ucap Rossa setelah Alex selesai mengobati lukanya. Alex yang mendengar ucapan terima kasih dari Rossa itu langsung menarik satu sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyum sinis.
" Kenapa, " tanya Rossa keheranan saat melihat senyum Alex, tetapi Alex tetap diam tidak berbicara, laki-laki itu segera mengambil kotak P3K yang sudah ia tata kembali untuk di kembalikannya ke tempat semula.
Selesai mengembalikan kotak P3K-nya, kini Alex duduk di kursi agak jauh dari Rossa. Alex kembali mengacuhkan Rossa, laki laki itu terlihat mengambil satu buku kesukaannya dan membacanya.
Rossa hanya melirik ke arah Alex sebentar, " Dasar manusia seperti dua musim, kadang hangat kadang dingin. " gerutu Rossa dalam hatinya, karena dia merasa heran sekaligus kesal.
***
__ADS_1