
Dingin
Udara yang begitu dingin menusuk sampai ke tulang dan bahkan sampai setiap inci tubuh mereka, merasakan dingin yang seperti hendak memebekukan tubuh mereka, kini para pelaku penculikan Rossa itu diintrogasi satu persatu, mereka semua dikurung dalam sel besi dengan di ikat bersamaan seperti tawanan perang, mereka terduduk dengan beralaskan lantai yang dingin dan kotor, laki-laki bertopeng pun tak mengakui siapa dalang balik semua ini, ia hanya tertawa mengerikan dengan penuh tatapan sinis, ketika dirinya yang ditanya.
" Cihh sampai mati pun aku tak akan mengatakan kepada kalian semua, siapa dalang di balik ini! " ucap berulang kali seperti itu sambil tertawa ketika dirinya ditanya oleh anak buah keluarga Wiliams yang tak lain ialah asisten Lee,
Lama kelamaan Asisten Lee menjadi muak dan emosi, dengan sadis dan tidak kenal ampun ia menginjakkan kakinya pada laki-laki bertopeng sampai mengeluarkan suara retakan tulang, laki-laki bertopeng tersebut mengerang kesakitan. Namun, ia tetap bungkam enggan untuk mengatakan hal yang sejujurnya.
" Baik lah kalau kau tidak mau jujur, jangan harap kau bisa kembali melihat dunia ini karena presdir Alex akan turun tangan sendiri menemui mu! " ucap asisten Lee,
Meski laki-laki bertopeng itu mendesis kesakitan, tapi setelah mendengar ucapan dari asisten Lee, dengan entengnya ia mengaluarkan ludah dari mulutnya dengan kasar ke arah asisten Lee.
" Cuih, sampai kapan pun aku tidak akan mengatakan apapun kepada kalian! "
" Brengsek! " teriakan asisten Lee sambil menendang laki-laki bertopeng itu.
" Urus dia! " ujar asisten Lee kepada yang lain, sambil berjalan keluar dari ruang sel tersebut.
Terdengar suara mobil mewah datang dengan beberapa mobil yang mengikutinya dari belakang menuju rumah ber sel. Di depan rumah tersebut sudah di sambut oleh asisten Lee sambil mendudukan kepala dengan sopan.
Tidak banyak bicara hanya dengan isyarat Alex mengikuti asisten Lee yang berjalan di depannya menuju ruangan sel, ketika sudah sampai Alex melihat beberapa orang yang berada ruangan ditahan itu kondisinya menghawatirkan dengan luka yang berada disekujur tubuh mereka.
" Apa yang kau lakukan Lee? " tanya Alex,
" Mereka tidak mau mengakuinya tuan, jadi terpaksa saya memakai cara ini. " ujar asisten Lee dengan santainya.
" Haahhh. " desis Alex malas.
Kemudian ia mendekati tahanan yang ada diruangan itu, laki-laki yang begitu tegar dan kuat saat berhadapan dengan asisten Lee meski banyak juga luka dan merasakan sakit ditubuhnya. Namun, saat berhadapan dengan Alex, mereka menjadi gemetaran dan wajahnya berubah menjadi pias. Alex dengan santainya segera berjongkok tepat dihadapan laki-laki itu.
" Cepat katakan dengan jujur maka aku akan melepaskanmu begitu saja, " ujar Alex dengan nada dingin.
" Meski kau melepaskan ku bahkan ingin membunuh ku lakukanlah aku siap! Aku tak akan mengatakannya kepada mu, sekalipun kau mengancamku! " jawabnya dengan senyum mengerikan. Namun, sejujurnya tubuhnya bergetar, tetapi laki-laki itu berusaha untuk tenang.
" Oh yaaa? aku sudah tau asal usul mu, tak mungkin aku sulit untuk membunuh mu bukan, kalau sejujurnya ada keluarga yang sebenarnya kau lindungi? " ucap Alex, membuat pria itu seketika diam dan membeku ia tak bisa berkata apa-apa lagi, wajahnya sudah pucat pasi dan semakin pucat, tubuhnya sudah benar-benar bergetar hebat.
" Kenapa dia tahu semua tentangku dan keluargaku? Apa jangan-jangan keluargaku? " batinnya
__ADS_1
Alex tersenyum sinis saat melihat ekspresi yang di tunjukan oleh laki-laki yang ada di hadapannya.
" Katakan lah? atau setelah ini anak buah ku akan turun tangan detik ini juga. " ucapan Alex dengan ancamanya yang membuat laki-laki itu diam, wajahnya memucat dan tubuhnya bergetar, ia tak tau harus bagaimana, ia bisa saja mati tapi jangan sampai keluarganya juga merasakan apa yang saat ini sedang ia rasakan.
" Leee! " seru Alex dengan tegas.
" Iya tuan. "
" Segara kirim orang-orang kita menuju ketempat keluarganya dia! " ucap Alex kepada asisten Lee sambil menunjuk laki-laki yang sedang terduduk di hadapannya.
" Jangan! " ucap laki-laki bertopeng itu dengan cepat, mendengar ucapan itu membuat Alex menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyum sinis.
" Kenapa? " tanya Alex.
" Tadi kau memilih ingin mati bukan, tapi aku tidak mau membunuhmu, aku hanya menginginkan keluargamu, " sambung Alex kemudian, sambil menatap laki-laki bertopeng itu dengan tajam.
" Jangan bunuh keluargaku, aku mohon bunuhlah aku! " katanya dengan sedikit berteriak.
" Husstt, tapi aku tak mau membunuh mu, aku hanya ingin membunuh mereka semua. " ucap Alex dengan disertai senyum sarkasnya.
" Cepat katakan lah. " Dengan sedikit bimbang laki-laki bertopeng itu akhirnya mencoba membuka mulutnya dengan bibir yang bergetar.
" Kami ini semua suruhan..... " dan tiba-tiba.
DORR!!!!
" Arggghhh..... "
Suara tembakan yang mengenai tepat dijantung laki-laki bertopeng itu dengan cepat ia langsung ambruk disana, darahnya bercucuran membasahai lantai bersel tersebut.
Alex langsung terkejut dibuatnya, ia tidak menyangka ada mata-mata disekitar rumah tersebut, dan hanya sekelebatan bayangan disekitar rumah itu karena gerakan dan tindakan cepat yang di ambil oleh orang yang menembak laki-laki bertopeng.
" Sial, aku akan kehilangan jejak lagi, padahal sudah sedikit lagi! " umpatan Alex yang ia keluarkan dari mulutnya.
" Lee tangkap mereka yang menembak orang ini. "ucap Alex dengan menunjuk ke arah laki-laki yang tertembak pas mengenai jantungnya.
***
__ADS_1
Di ruang rawat VIP, Rossa yang sudah sadarkan diri, dan traumanya yang sudah mulai berkurang, karena dirinya telah mendapat perawatan terbaik dari rumah sakit tersebut. Rossa juga selalu rutin untuk mengikuti tes Psikologi agar dirinya segera sembuh.
Rossa merebahkan tubuhnya diranjang, ia melihat kekiri dan kekanan untuk mencari keberadaan kedua orang tuanya namun tidak ada, lalu dengan tiba - tiba terdengar suara seseorang membuka pintu ruangan rawat inapnya, dengan segera ia menolehkan pandangannya ke arah pintu.
Ternyata yang datang seorang gadis manis, gadis itu ialah sahabatnya Rossa, siapa lagi jika bukan Queen.
" Rossaaa! " seru Queen dengan suara ciri khas melengkingnya yang mengagetkan sahabatnya itu. Queen memasuki ruangan Rossa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, gadis itu juga membawa sebuah parcel buah yang sedang ia pegang di tangannya.
" Ahhh Queen! " Rossa mendesis kaget.
" Dasar bodoh, kenapa harus teriak - teriak begitu sih, " ketus Rossa dengan memegangi dadanya yang terasa jantungnya seperti mau copot karena ulah kelakuan dari sahabatnya itu.
" Hehe maaf, aku kangen tau sama kamu Sa, kamu juga sudah lama tidak masuk ke kampus gara - gara kamunya sakit. " ujar Queen sembari meletakkan parcel buahnya diatas meja sebelah ranjang rawat Rossa.
" Ayo lah cepat sembuh, biar nanti bisa kumpul sama aku dan Aska lagi, kamu tidak rindu memang? " tanya Queen seraya mendekati Rossa dan memeluk tubuh sahabatnya itu. Rossa dengan senang hati membalas pelukan Queen dengan lembut, meskipun Queen sedikit menjengkelkan baginya namun Rossa tetap menyayangi sahabatnya tersebut.
" Hmm iya aku juga rindu kalian, ini aku lagi berusaha untuk cepat sembuh, " balas Rossa sambil tersenyum ditengah pelukan dengan Queen.
Beberapa menit kemudian setelah mereka saling melepas rindu sambil berbincang-bincang, tiba - tiba terdengar suara pintu ruangan Rossa terbuka lagi, dan ternyata itu Gesya yang membuka pintu.
" Hay tante Gesya! " sapa Queen setelah mengetahui ternyata Gesya yang memasuki ruangan tersebut.
" Hay juga nak Queen, sudah lama kamu disini nak? " tanya Gesya sambil meletakkan barang yang ia bawa diatas meja.
" Nggk kok tante barusan aja Queen masuk. "
" Maaf ya tante habis keluar sebentar untuk mengambil pakaian ganti Rossa, karena sore ini Rossa sudah boleh pulang. "
" Beneran tan Rossa pulang hari ini? " tanya Queen dengan senangnya, gadis itu juga tersenyum lebar dan bergantian menatap kearah Rossa.
Rossa-pun mengangguk samar dengan tersenyum.
" Alhamdulillah, akhirnya sahabatku pulang hari ini, kalau begitu Queen ikut nganterin Rossa pulang boleh tan? " tanya Queen dengan antusias kepada Gesya.
" Tentu boleh dong sayang, malah bagus itu nanti pulang kerumah Rossa ada temannya. " Balas Gesya.
***
__ADS_1