My Lecturer Holy Love

My Lecturer Holy Love
BAB 28


__ADS_3

Jam menunjukan pukul sembilan malam, dan Alex masih dalam perjalanan untuk kembali ke kediaman Wiliams, di sepanjang perjalanan laki-laki itu menggerutu kesal karena kejadian tadi siang yang kacau, dan orang-orangnya pun yang menelusuri kejadian tersebut belum ada yang memberikan informasi.


" Argh sial! siapa tadi yang telah berani membunuhnya. " Lagi-lagi ucapan itu yang keluar dari mulut Alex, sang supir yang mendengar grutu Alex sedari tadi hanya diam ketika melihat tuannya sedang mengalami mood buruknya hari ini. Supir itu pun tak berani bertanya atau membuka suaranya, ia hanya melihat sekilas pantulan wajah Alex dengan kaca spion.


Akhirnya mobil merekapun sampai di halaman depan gerbang rumah mewah milik kediaman Wiliams.


Tiiinn...Tiiinn...


Bunyi suara klakson mobil dari luar gerbang terdengar dan satpam yang sedang bertugas jaga malam ini segera berlari dan membukkan gerbang, setelah gerbang sudah dibuka lebar satpam itu menundukkan kepalanya dengan hormat menyambut tuannya datang.


Alex sengaja menyuruh supirnya untuk menuju ke kediaman Wiliams, karena laki-laki itu ingin memberi tahu sebuah informasi kepada papanya atas kejadian tadi siang.


Kemudian mobil berhenti tepat didepan rumah besar milik keluarga Wiliams, sang supir segera turun dan membukakan pintu mobil untuk tuannya, dengan cepat Alex turun dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya memasuki rumah besarnya tersebut.


Di ruang keluarga terlihat seorang lelaki paruh baya sedang sibuk dengan koran yang ia pegang ditangannya, lelaki itu duduk disebuah sofa berukuran besar dengan ditemani secangkir kopi hitam kesukaannya. Alex yang melihat papanya yang sedang bersantai itu segera mendekatinya.


" Bagaimana apakah semuanya sudah beres? sudah kah kau urus mereka semua? " tanya Aryan dengan tiba-tiba tanpa menoleh ke arah putranya itu, karena papa Aryan sudah tahu jika yang datang itu adalah putra semata wayangnya.


Alex menghempaskan tubuhnya diatas sofa yang ada di depan papanya, lalu papa Aryan sedikit menurunkan kacamata beningnya ya ia pakai untuk membaca koran itu, lelaki paruh baya itu menoleh ke arah Alex yang terlihat lesu dengan memegangi tengkuk hidungnya yang pusing.


" Kenapa? " tanya Aryan karena penasaran dengan Alex yang tidak menjawab pertanyaannya.


" Semuanya gagal pa." balas Alex dengan mendengus pasrah.


" Kau mengurus tikus begitu saja bahkan tidak bisa. " ujar Aryan sambil tertawa untuk menggoda putranya itu.


Sontak Alex langsung menatap kearah papanya kesal dan mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


" Oh ****, papa! ini sungguh diluar dugaan Alex, ada yang sudah mengetahui rencana ku di rumah sel itu dan disaat aku hampir berhasil mendesak pria itu untuk mengatakan sejujurnya tiba-tiba datang seseorang yang menyamar seperti anak buahku lalu dia menembaknya. " Ujar Alex menjelaskan kepada papanya.


Aryan pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat putranya seperti itu.


" Hm ya sudah biarkan saja, lagian Rossa hari ini sudah boleh pulang kerumah. "


Seketika mata Alex terbuka lebar, laki-laki itu terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan papanya barusan. Alex menatap Aryan yang sudah kembali membaca koran, tanpa mempedulikan ekspresi Alex yg terkejut sekaligus senang,


" Benarkah dia sudah sembuh, bahkan aku sama sekali belum mengetahui kabar nya, selama itu kah aku mengurus mereka semua yang akhirnya tidak ada hasilnya. Ohh shitt! " gerutu Alex dalam hatinya, sambil iya memegangi kepalanya .


Disisi lain.


Reyhan turun dari mobilnya setelah ia mendapatkan telepon dari seseorang. Reyhan tersenyum puas sembari bicara dengan si penelepon diijung sana.


" Baiklah, kerja yang bagus. " ucap Reyhan sambail menutup panggilannya.


Reyhan berjalan santai menuju rumahnya dengan memasang senyum lebar setelah mendengar kabar yang menggembirakan itu.


1 minggu kemudian.


Di kampus Rossa melakukan aktivitasnya seperti biasa, Rossa pun sudah bisa berkumpul kembali dengan teman-temannya, begitu pun dengan Alex ia sudah bisa bertemu setiap harinya, namun Alex seperti biasa ia tetap dingin seperti biasanya ia menganggap Rossa sebagai muridnya bukan tunangan. Laki-laki itu seperti tak mengenal Rossa tapi Rossa tidak keberatan dengan semua ini, karena ia sadar akan statusnya yang hanya tunangan bohongan.


" Hmm aku harus menyelesaikan hubungan ini juga, jika diteruskan akan membuat kedua orang tua ku menjadi kecewa saat mereka tahu kalau kami tidak saling mencintai. " gumamnya pelan sambil meletakan jari telunjuknya didagu lancipnya.


Rossa berjalan mencari keberadaan Alex. Namun, tidak menemukannya.


" Apa dia sedang diperpustakaaan ya? tapi tadi pagi aku liat dia sedang mengajar dikelas sebelah, " batinnya

__ADS_1


Setelah mendapatkan jawaban dari pikirannya Rossa segera berlari kecil menuju ruang perpustakaan, meski banyak pasang mata menatap Rossa dengan heran saat sedang berlarian kecil.


Ceklek..


Pintu terbuka Rossa pun memasuki ruang tersebut, ia mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan perpustakaan, tapi ia tak mendapati keberadaan Alex disana.


" Ahh, dari tadi aku mencarinya tapi tidak menemukannya juga. " dengus Rossa, yang akhirnya milih menyerah.


Rossa memutuskan tetap didalam ruangan tersebut kemudian ia memilih buku yang ada perpustakaan itu lalu membacanya untuk menghilangkan rasa lelahnya.


Ketika Rosaa akan kembali mengambil salah satu buku tiba-tiba Rossa melihat bayangan hitam, gadis itu segera menjerit.


" Aakhhh! " teriaknya sambil menutup matanya yang ia kira bayangan tersebut adalah hantu.


Kini Rossa masih menutup matanya dengan gemetaran ia merasakan ada sesuatu mendekat ke arahnya. Rossa berjalan mundur dengan pelan, tiba tiba bulu kudunya berdiri karena takut, ia masih merasakan traumanya, tiba tiba sesuatu itu menyentuh tangan Rossa yang sedang menutup mata.


" Ahhh tidak, jangan sentuh aku, pergi! pergi! " ucapnya dengan cepat namun ternyata itu bukan hantu melainkan Reyhan yang mendekatinya, sontak Reyhan yang melihat tubuh Rossa bergetar langsung memeluknya.


" Hey sudah tenanglah, kau habis lihat apa? " suara lembut itu di dengar oleh Rossa, Rossa pun terperanjat kaget ia melepaskan pelukan itu.


" Eh, eh maaf maaf, " ucapnya dengan menundukkan kepalanya.


" Oke tidak masalah. Kenapa kamu takut? " Reyhan kembali membaca buku yang sedang ia pegang.


" Ternyata kau, em aku tidak apa apa, " ujar Rossa.


Rossa menatap punggung Reyhan dengan sedikit aneh, kali ini ia tak percaya jika seseorang yang terlihat dingin dan angkuh ternyata tidak bisa sebaik itu, bahkan sikapnya seperti bukan Reyhan.

__ADS_1


Selesai membaca buku diperpustakaan pikiran Rossa hanya dipenuhi pertanyaan tentang Reyhan karena sikap Reyhan yang dirasa sangat aneh hari ini, sikap nya yang dingin berubah 180 derajat menjadi manis.


" Kenapa dengan Reyhan ya, kok aku merasa aneh sama dia, tapi rasanya kenapa tetap saja aku tidak nyaman ketika bertemu Reyhan, " batin Rossa disepanjang perjalanananya, sampai tidak terasa banyak mahasiswa yang mentap Rossa dengan aneh, namun Rossa tidak menanggapinya sama sekali.


__ADS_2