
Sampai di sebuah restoran dekat Rumah Sakit, kini Alex dan Agnes segera memesan beberapa makanan untuk diri mereka sendiri dan juga Rossa.
Selesai memesan Alex dan Agnes menunggu di meja deretan nomor dua, setelah duduk disana Alex merogoh sakunya yang berisi ponsel miliknya, kemudian laki-laki itu terlihat mengirim beberapa pesan untuk seseorang.
" Pernikahanku jadi dilaksanakan, siapkan semuanya untuk besok, jangan lupa suruh beberapa orang untuk memata matai keluarga Adinata juga. "
Tidak lama orang suruhan Alex segera membalas pesannya tersebut. "Siap tuan."
Selesai mengabari orang suruhannya, Alex bergantian mengecek masalah perusahaannya di kantor lewat ponsel pintarnya, dan ternyata semuanya baik baik saja, Alex langsung menghembuskan nafanya pelan karena lega, ketika Alex fokus memaikan ponselnya tiba-tiba suara seorang perempuan berhasil menyita perhatiannya.
" Ini tuan makanannya beserta bil nya, " ujar perempuan itu sambil menyerahkan makanan beserta selembar bill pembayaran kepada Alex.
Setelah beberapa saat, Agnes dan Alex pun sudah sampai di Rumah Sakit. Agnes sedari tadi hanya diam saja, tanpa membuka obrolan dengan calon kakak iparnya tersebut, sampai tidak terasa mereka berdua sudah sampai di ruangan Fiky.
Ceklek...
Pintu dibuka oleh Alex, kemudian diikuti Agnes dibelakangnya, terlihat hanya ada Aryan dan Zeline yang menemani Fiky disana, sementara Rossa, gadis itu sudah tidak ada disana.
" Ma, pa! " sapa Alex.
" Rossa kemana? " sambungnya kemudian, sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah orang tuanya serta calon mertuanya tersebut.
Agnes pun sama, ia mengikuti langkah Alex, kemudian menutup pintu setelah itu meletakkan makanan yang sudah ia beli untuk diletakkan di sofa yang ada didalam.
" Rossa, dia pamit ke kamar mandi sayang, " balas Zeline dengan suara lembut.
" Kamar mandinya kan ada disini juga ma, kenapa pakai yang diluar? " Alex keheranan.
" ossa menggunakan kamar mandi di luar, tadi sekaligus ia berpamitan untuk membeli sesuatu dimini market, " tutur Zeline menjelaskan. Alex pun langsung mengerti, laki-laki itu mengangguk mengiyakan membalas ucapan mamanya.
" Om tante mari makan, " ajak Agnes kepada kedua orang tua Alex, saat itu Agnes sudah tidak bisa menahan rasa laparnya lagi, karena sedari pagi ia belum sarapan karena moodnya sama seperti Rossa.
__ADS_1
" Iya nak Agnes, kita sudah kok kamu makan saja dulu, kita mau pamit pulang, " jelas Zeline dan Aryan mengangguk membenarkan.
" Kenapa buru buru om tante? " tanya Agnes lagi sembari menata makanannya di meja.
" Om masih ada urusan, jadi om harus pamit, om juga akan mempersiapkan acara pernikahan kakakmu besok, " ujar Aryan menjelaskan.
Agnes pun mengerti, gadis itu mengangguk sambil tersenyum, kemudian orang tua Alex segera berpamitan pulang dan saat ini Fiky sedang tidur karena harus banyak beristirahat.
Di ruangan itu hanya ada Agnes, Alex dan juga Fiky yang masih tertidur.
" Kak aku keluar bentar mau bertemu papa, " ujar Agnes setelah menyelesaikan makannya. Alex tidak menajawab ucapan Agnes, ia hanya mengangguk sebagian jawaban sambil duduk di kursi sebelah ranjang Fiky.
Setelah keluarnya Agnes dari ruangan tersebut, beberapa saat kemudian Fiky bangun dari tidurnya, ia hanya melihat Alex saja yang menemaninya.
" Nak Alex, " ucap Fiky.
" Eh iya om, om sudah bangun, " ujar Alex, kemudian ia segera beranjak dari duduknya membantu Fiky untuk bersandar.
***
Rossa sedikit menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman, ketika melihat pemandangan langka yang ada didepan matanya sekarang, meskipun matanya sembab akibat kebanyakan menangis, tapi ia merasakan hatinya sedikit lega dan bahkan juga senang.
" Papa! " sapa Rossa setelah berhasil membuka pintu ruangan papanya, kemudian menutup kembali pintunya, sontak membuat dua orang berada disana langsung menoleh.
" Sayang, " balas Fiky dengan suara lirih sambil tersenyum hangat.
Rossa mendekat ke arah Alex dan papanya dengan meletakkan beberapa kantung kresek yang ia bawa di atas nakas, lalu ia duduk di sebelah kiri papanya, sementara Alex masih sibuk menyuapi Fiky dengan telaten.
Tanpa disadari oleh Alex maupun Fiky, Rossa menatap Alex tanpa berkedip. Namun, pikirannya tertuju pada mama Gesya.
" Mama, andai saja mama masih hidup dan ada disini, disamping Rossa dan papa, pasti mama akan bahagia sekali melihat moment ini, mama juga pasti bahagia kan di sana. Rossa akan tetap selalu menyayangi mama sampai akhir hayat Rossa. Rossa izin ma, besok Rossa akan melangsungkan pernikahan dengan Dosen Rossa sendiri demi mama dan papa, Rossa sudah memikirkannya dengan matang, apakah mama bahagia? jika mama bahagia Rossa pun akan ikut bahagia. " batin Rossa.
__ADS_1
Rossa masih menatap kedua pria tersebut tanpa berkedip kemudian ia tersenyum hangat walau ada bulir-bulir air mata yang jatuh, tapi hatinya benar-benar lega setelah ia tadi mampir ke masjid untuk melaksanakan sholat dan memutuskan matang-matang menikah dengan Alex besok.
***
Ketika hari mulai gelap Rossa pulang dari rumah sakit diantar oleh Alex, di perjalanan pulang itu hanya hening yang menyelimuti keduanya, bahkan tidak ada yang berbicara sepatah kata pun disana.
Sesampai di rumah Rossa, ia segera masuk ke dalam dan diikuti oleh Alex.
" Mau mampir dulu? " tanya Rossa dengan tiba tiba. Alex yang mendengarnya itu menjadi sedikit terkejut karena Rossa kini sudah mau mengajaknya untuk berbicara bahkan menawarinya masuk, dengan nada yang lembut dan tidak seperti biasanya yang suka marah-marah saat bersama dengannya.
" Emm tidak aku pulang saja, kau istirahat lah dan siapkan dirimu buat pernikahan kita besok, " ujar Alex sambil tersenyum, kali ini dia tidak ingin berdebat dengan Rossa karena melihat kondisinya.
" Baiklah, " balas Rossa yang sedikit lembut, lalu menundukkan kepalanya karena sedikit malu.
Kemudian Alex segera mengantar Rossa sampai ke dalam rumahnya, dan terlihat bi Moey yang sudah menunggu kedatangan mereka disana segera mendekati putri dari majikannya tersebut.
" Mari masuk nona Rossa dan tuan Alex, " ujar bibii Moey, akan tetapi Alex menolaknya halus.
" Iya bibi terima kasih, saya langsung pamit pulang saja, biar Rossa bisa istirahat untuk besok, "
" Baiklah tuan, terima kasih sudah mengantar nona kami dengan selamat, " balas bibi Moey. Alex mengangguk, tidak lama kemudian ia segera kembali kedalam mobilnya dan mengemudikannya meninggalkan kediaman Rossa. Rossa yang melihat mobil Alex semakin jauh langsung memilih kembali ke kamarnya.
" Nona, ayo makan dulu, saya sudah menyiapkan makan malam untuk nona, nona pasti belum makan kan, " ujar bibi Moey berniat membujuk putri majikannya tersebut agar mau makan.
" Tidak bi, aku sudah makan tadi, aku langsung ke kamar saja, " balas Rossa dengan menolak halus dan tidak menatap bibi Moey, ia langsung menuju ke dalam kamarnya.
Bi Moey menatap Rossa yang mulai memasuki kamarnya manjadi sedih, kemudian bibi Moey ikut menteskan air matanya.
" Nona aku tahu perasaan nona sekarang saat ditinggal kan oleh sosok ibu, rasanya sungguh sakit. " Batin bibi Moey.
***
__ADS_1