
Sebelum Dokter melanjutkan penanganan kepada Gesya, mereka sudah memindahkan Fiky keruangan yang lain, agar tidak mengganggu kesehatannya, saat ini kondisi Fiky agak membaik ia hanya mengalami koma beberapa jam saja karena efek bius yang diberikan dokter kepadanya.
Saat tubuh Gesya hendak di pindahkan ke ruangan mayat, tiba-tiba suara Zeline menggema sambil menangis dan berlari menghadang suster yang sedang mendorong brankar berisi jasad Gesya yang sudah terlihat sangat pucat dan dingin.
" Ya tuhan Gesya.. padahal aku baru bertemu dengamu sebentar, kenapa engkau sudah meninggalkan kami duluan, apakah kau tidak sayang kepada putrimu? " ucap Zeline sembari menatap wajah pucat Gesya yang sudah tidak bernyawa.
" Gesya kau masih disini kan, ayo bangun lah, lihat lah putrimu dia merindukkan mu, dia sangat sedih sampai menangis histeris setelah mengetahui kamu dan Fiky kecelakaan, ayo Gesya bangun jangan tinggalkan kami seperti ini. " sambung Zeline dengan tangisannya yang tersedu-sedu, sambil memeluk tubuh Gesya yang sudah kaku dan dingin, Zeline masih tidak percaya dengan semua ini, karena pertemuan mereka yang sangat singkat.
" Mohon maaf nyonya, sebaiknya anda minggir terlebih dahulu, kita akan membawanya ke dalam kamar mayat, " perawat berujar dengan sopan kepada Zeline, Aryan yang melihatnya segera merengkuh dan menjauhkan tubuh Zeline dari branker Gesya dengan pelan.
" Mama yang sabar, ini sudah kehendak tuhan, saat ini tuhan sayang dengan Gesya. " tutur Aryan menenangkan istrinya, Aryan pun sebenarnya merasa sangat sedih bahkan ia ingin menangis namun ia menahannya dengan sekuat hati.
" Tante Gesya.. kenapa secepat ini tante pergi, padahal kemarin kita habis bercanda bareng dengan tante dan om. " Agnes juga ikut menangis saat menatap jenazah Gesya yang dibawa ke ruangan mayat, mata Agnes sembab dan memerah karena tangisnya.
" Sudah Agnes yang sabar, ini semua sudah kehendak tuhan nak, " ujar Aryan yang mencoba menenangkan kedua wanita yang saat ini sedang menangisi Gesya.
Setelah beberapa menit jenazah Gesya sudah dipindahkan keruangan mayat tiba-tiba suara Rossa terdengar.
" Mamaaaa.. " ucapnya dengan lirih, sontak membuat semua orang yang menjenguknya menoleh ke arah Rossa, lalu Rossa segera berlari dan memeluk tubuh Gesya dengan erat.
" Mama, kenapa mama tega ninggalin aku dan papa, apakah mama tidak sayang lagi sama kita, aku sayang sama mama, mama ayo bangun maa.. " ucap Rossa sembari mengayun-ngayunkan tubuh Gesya sambil menangis.
__ADS_1
" Sayang sudah jangan menangis, ikhlaskan mamamu nak, biar mama mu bisa tenang dialam sana. " tutur Zeline mencoba kuat lalu mendekat ke arah Rossa dan mengelus punggunng Rossa dengan lembut.
Sontak Rossa berbalik dan segera memeluk Zeline. " Tantee mama ku tante, aku tidak mau ditinggalin sama mama tante. "
Rossa menangis di pelukkan Zeline, Zeline yang merasakan kesedihan Rossa ikut meneteskan air matanya kembali.
Alex membisu seribu bahasa, kali ini ia sungguh merasakan hatinya benar-benar sakit seperti disayat sayat melihat Rossa seperti itu, ia begitu terpukul atas kejadian yang menimpa orang tuanya.
" Kakak sabar, biarkan tante tenang di alam sana kak, " ucap Agnes yang mendekat ke arah Rossa lalu memeluknya, Rossa pun membalas pelukkan Agnes, dan akhirnya mereka bertiga menangis bersamaan.
***
Hari ini, hari dimana jenazah Gesya akan dimakam kan, dan juga acara pernikahan Rossa dan Alex pun sebentar lagi, saat ini semua orang berkumpul di kediaman Fabricia, hanya Fiky dan Lovata saja yang tidak datang karena Fiky sendiri masih belum sadarkan diri di rumah sakit, sementara Lovata menemani Fiky sebentar dan akan menyusulnya mereka ke pemakaman beberapa saat lagi.
Semua orang berpakaian serba hitam, mewakili rasa duka yang mendalam atas kepergian Gesya, Rossa sangat terpukul dengan kepergian mamanya, sering kali ia jatuh pingsan dikala melihat jenazah mamanya sedang dimasukan ke dalam mobil Ambulance.
Rossa sudah mencoba setegar mungkin dengan menahan rasa sedih yang seakan menghancurkan dunianya saat ini, ia mengikuti langkah kaki semua orang menuju pemakanan bersama keluarga terdekatnya dengan langkah lesu, dan tatapan mata yang kosong.
Rossa didampingi oleh Zeline, Aryan, Alex, Agnes, Queen, dan Aska, dan juga orang-orang terdekat lainnya, bahkan para tetangga yang berdekatan dengan rumah Fabricia ikut berduka cita dan mengiringi ketempat peristirahatan terakhir Gesya.
Bahkan Alex tidak berucap sepatah kata pun, ia hanya menemani langkah kaki Rossa di sampingnya, ia pun sama ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Rossa. Dan padahal pernikahaannya tinggal dua hari saja, tetapi ia tidk ada niatan untuk membahasnya karena situasinya sedang berduka.
__ADS_1
Ambulance yang membawa jenazah Gesya telah sampai di area pemakaman, kemudian Rossa melangkahkan kakinya dengan berat memasuki area pemakaman dan menuju tempat peristirahatan terakhir mamanya.
" Mama pasti aku dan papa akan merindukan mama, mama yang tenang ya Rossa dan papa akan terus menyayangi mama, " lirih Rossa saat melihat jenazah mamanya yang akan memasukan ke liang lahat.
" Rossa kamu yang sabar ya, kamu masih punya kita, " ucap Queen yang tiba-tiba merangkul pundak Rossa, ia mencoba menenangkan sahabatnya, namun Rossa tetap terdiam dengan air matanya yang terus menetes menatap jenazah mamanya dengan tatapan kosong.
" Iya kakak, kakak yang sabar, ikhlasin tante Gesya, " saut Agnes yang dari tadi ikut menangis.
Saat jenazah Gesya akan dimasukkan ke liang lahat. Namun, seseorang pria paruh baya menghentikannya.
" Tolong berhenti.. Aku ingin melihat jenazah terakhir istriku, " ujar Fiky lirih, raut wajahnya terlihat masih pucat.
Fiky datang bersama Dokter Lovata menggunakan kursi roda, semua orang langsung menoleh ke arah Fiky dan Dokter Lovata.
" Papa! " teriak Rossa sambil melepaskan rangkulan dari Queen lalu berlari melangkahkan kakinya ke arah papanya, akhirnya mereka berdua pun berpelukkan sambil menangis, semua orang yang berada tempat itu pun terharu dan ikut meneteskan air matanya saat melihat kedua papa dan anak itu berpelukan.
" Papa, kenapa papa bisa sampai disini? Papa kan belum sehat, papa jangan menangis lagi pa, " ucap Rossa menenangkan papanya sambil menghapus air mata di papanya, ia berusaha tegar menenangkan papanya walau dengan sedikit sisa tangisnya. Namun Fiky hanya diam tidak menjawab ucapan Rossa, hanya deraian air matanya yang terus menetes dari mata tajamnya yang kini sayu oleh duka dan penyesalan.
" Andai saja aku tidak berangkat ke luar kota dan mengajak istriku waktu itu tidak akan menjadi seperti ini jadinya, pasti semua akan baik-baik saja, maaf kan aku istriku, " teriakan sesal dalam hati Fiky.
Rossa dan Fiky mendekat ke arah jenazah Gesya yang sudah siap di kebumikan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat jenazah Gesya pun selesai di kebumikan, akhirnya Rossa tidak bisa membendung air matanya lagi. Tangisannya seketika pecah, ia jatuh terduduk disamping pusaran makam mamanya sambil menebarkan bunga di atas makam sang mama.
***