
Krystal duduk di sebuah kursi roda, benda itu terbuat dari anyaman bambu yang kuat. kakinya terluka cukup parah, yang berakibat harus diperban begitu tebal. ia menikmati silir angin yang berhembus, dia sendiri tidak ingin tidur karena ada yang menganggunya. setiap kali ia menutup wajah wajah seseorang yang tidak dikenalnya terlihat jelas, Krystal berusaha mengingat tapi hasilnya tidak ada siapapun yang sama dengan mimpinya. karena sejatinya yang masuk kedalam mimpinya adalah Alzio, wajah garang Alzio, wajah lembut Alzio, semua masih tercetak jelas tapi tidak dikenal oleh Krystal sendiri.
ia hidup dengan nama baru dan identitas baru, semua orang mengenalnya dengan sebutan Ariel. sudah dua bulan dirinya berada disana, banyak orang yang sudah mengenalnya tapi dengan nama Ariel. Robert melihat Krystal yang duduk, ia membawa makanan dan juga obat gadis itu. Seperti biasa Krystal hanya memberikan senyuman, ia menerima makanan yang dibawa Robert untuk dimakan.
"makan secara perlahan, setelah ini aku akan membantumu membersihkan diri. " ucap Robert dengan lembut, Krystal mengangguk dengan itu. selama di rawat Robert dan ibunya, pria itu yang menjaga Krystal. mulai dari membersihkan diri hingga kebutuhan yang diinginkan Krystal, tanpa pamrih dan hanya puas melihat senyuman Krystal yang merekah padanya.
"aku tidak ingin mandi, kepalaku sangat pusing sekarang... " ucap Krystal meletakkan makanannya, Robert membantu gadia itu untuk minum dan memakan obatnya.
"apa kakimu bisa digerakkan? " tanya Robert lagi, Krystal menggelengkan kepalanya. karena benar kakinya tidak bergerak, dan itu terjadi selama ia bangun hingga sekarang.
Robert menatap Krystal sebagai Ariel yang ia kenal, ia membayangkan bagaimana Krystal terombang ambing dilautan dengan sebuah besi yang membawanya. untung saja waktu itu dirinya melihat gadis itu, jika tidak mungkin Krystal tidak berada disana dan sembuh dari sakitnya. Robert mengusap rambut panjang Krystal, benar sangat cantik dengan nama Ariel yang diberikan nama oleh ibunya dan pas menurutnya untuk wajah Krystal yang cantik.
Krystal terdiam dengan Robert yang menatapnya, pria itu dengan papan tulisnya melukis tubuh Krystal yang duduk di kursi roda. sangat fokus pada Krystal sampai tidak sadar lukisannya telah jadi, Robert pun berjalan kearah Krystal dan berlutut di hadapan gadis cantik itu.
"lihatlah, berapa nilainya?" ucap Robert menunjukkan lukisannya, Krystal tampan terpesona dan tersenyum merekah.
__ADS_1
"sangat indah, kau pintar sekali Robert. " ucap Krystal memuji, Robert merasa senang dan mengusap kepala Krystal dengan lembut.
"bukan aku yang pintar Ariel, tapi kau yang sangat cantik. " saut Robert, keduanya saling tersenyum kemudian tertawa kecil. Robert tidak segan mengajari Krystal melukis, ia tahu gadis itu bosan dan tidak ada yang bisa ia lakukan. Krystal melukis asal asalan, ia menurut dengan apa yang dipikirkannya. sampai sebuah lukisan itu berbentuk sebuah wajah, samar samar wajah itu berbentuk wajah Alzio yang selalu ada dalam mimpi dan bayangannya.
...****************...
ditempat Alzio semuanya berjalan normal, pria itu kembali bekerja meskipun masih duduk di kursi roda. selama dua bulan ini fokusnya bekerja telah kembali, tapi hidupnya hanya ia habiskan untuk bekerja. makan dan minum bahkan istirahat, akan disiapkan dan diingatkan oleh Darius begitu juga Natalia yang merawatnya. bayangan Krystal masih ada, tapi tetap saja mereka ingin melupakan gadis itu untuk melanjutkan hidup.
Alzio menghilang dari kantor, ponselnya tidak tersambung saat Darius mencoba menghubungi. tidak pernah seperti itu, Darius dengan ceroboh meninggalkan Alzio yang masih sedikit gila itu. tidak bisa kemanapun Alzio hanya bisa dijaga anak buahnya, ia pergi ke makam Krystal tanpa Darius dan hanya membawa anak buahnya. Alzio membelikan bunga setiap minggunya, ia tersenyum melihat makam Krystal yang terlihat cantik dengan banyak bunga diatasnya.
"kau tahu Aku paling tidak suka bicara sendiri, tapi kau malah membuatku bicara sendiri. tapi ya sudah lah kau pasti mendengarku, aku tidak ingin marah sekarang... " ucapnya lagi, secara bersamaan Natalia dan Darius berlari kearahnya. dua orang itu sudah mencari keberadaan Alzio, dan mereka sudah menduga pria itu ada di pemakaman tempat peristirahatan Krystal.
"kenapa tidak bilang ada disini, kami bisa ikut jika kau bilang... " ucap Natalia memarahi pri aitu, Alzio hanya diam menatap lurus ke makam cantiknya itu. "kau tahu kan besok pagi kita berangkat ke pulau, meskipun dialihkan pada Darius kau tetap harus ikut sebagai pemimpin.. " Natalia terkejut saat bibirnya di pegang oleh Alzio, pria itu menutup bibir itu dengan tangannya. menatap Natalia dengan tajam, kemudian menggelengkan kepalanya.
"kenapa kau berisik sekali, aku tidak bilang karena kau pasti berisik dan akan mengangguku. Krystal kan sedang istirahat, tutup mulutmu. " ucap Alzio, kemudian ia mengatupkan tangan untuk berdoa. hal itu diikuti Natalia dan juga Darius, setelah beberapa menit mereka pergi secara bersamaan.
__ADS_1
karena sebuah tugas penting mengharuskan Alzio untuk pergi, perjalanan sudah diatur mereka akan pergi dengan kapal besar pribadi milik Alzio. bukan bertiga yang pergi, melainkan empat sahabat Alzio juga ikut untuk meramaikan perjalanan. itu pekerjaan keenam pria itu, sedangkan Natalia hanya bertugas menjaga kebutuhan Alzio saat pria itu butuh.
kapal membawa mereka, Alzio duduk dipinggir kapal menikmati angin berhembus. ia masih memikirkan Krystal, mungkin hidupnya sudah berjalan normal tapi tidak hatinya yang seakan mati bersama Krystal. pria itu melihat lautan yang luas dan biru, laut cantik itu telah merenggut nyawa wanita yang dicintainya. sampai sesaat tiba tiba pandangannya berfokus pada hal lain, ia melihat sebuah kapal kecil yang tidak jauh dari kapalnya. mata Alzio yang tajam melihat kapal itu, seorang nelayan yang sedang menangkap ikan di laut. tapi bukan itu yang menjadi kefokusan Alzio, pria itu fokus pada seseorang yang duduk dengan manis dikapal itu.
seorang wanita cantik yang sudah ia rindukan selama berbulan bulan, wajah cantiknya tidak berubah dimata Alzio. ia berpikir itu halusinasi, tapi ketika wanita itu memegang air laut tiba tiba jantung Alzio seakan berdetak kencang.
"Krystal!!!! " teriaknya dengan sekuat tenaga, hal itu membuat Kelima sahabatnya dan juga Natalia berlari kearahnya. Alzio itu sudah berdiri dipagar pinggiran kapal, membuat Darius dan yang lain khawatir. "Krystal!! " panggilnya lagi, Darius membawa pria itu untuk duduk dikursinya lagi.
"apa yang kau lakukan, apa kau ingin mati? " sentak Gavin disana, Alzio terus menoleh kearah kapal yang dirinya melihat Krystal disana.
"aku melihat Krystal, gadis itu duduk dikapal. aku melihatnya, tidak mungkin aku salah. " ucap Alzio, pria itu terus berusaha untuk berdiri dari duduknya. ingin melihat Krystal lagi, ingin memastikan dirinya benar benar melihat Krystal. "aku melihatnya disana, ada kapal disana! " ucap Alzio, tapi semua tidak melihat kapal apapun. mereka semakin khawatir pada Alzio, pria itu bahkan seperti orang tidak waras yang selalu berhalunisasi tentang Krystal.
"Krystal sudah tidak ada didunia ini, kau sendiri yang menguburnya dengan layak. kami menjadi saksinya, lalu bagaimana ada Krystal ditengah laut. yang benar saja, apa kau sudah gila? " ucap Gavin lagi, Alzio langsung terdiam memikirkan hal itu. benar perkataan Gavin, tangannya sendiri yang mengubur Krystal dengan layak dan dirinya berhalusinasi lagi tentang Krystal. tubuhnya mendadak lemas, yang langsung dibantu duduk oleh Darius di kursi roda.
"aku tidak suka kau seperti ini, kau kekamar saja ya untuk istirahat. kalau kita sudah sampai aku akan membantumu, hm... jangan sedih oke? " bujuk Natalia, Alzio hanya mengangguk untuk menurut. pandangannya masih fokus kearah lautan, ia sangat merindukan Krystal dan masih tidak percaya kalau dirinya berhalusinasi.
__ADS_1