
sebuah rumah megah dan mewah terbangun di salah kota disebuah negara, rumah mewah itu bernuansa gelap dan keemasan. didepan gerbang tertulis jelas, Mansion Walker. iya tentu saja rumah itu milik keluarga Walker, lebih tepatnya rumah Xavier Walker.
Walker adalah keluarga yang berasal dari dunia gelap, Walker dulu dikenal sebagai orang paling licik dalam membuat rencana dan menipu seseorang. tapi sayang keluarga itu dikalahkan oleh organisasi lain, bahkan saat itu organisasi Alzio tidak bisa membantunya karena Alzio yang bisa dibilang sudah pensiun. putra sulung Walker yaitu Alexander Walker harus kalah tanding dengan seseorang misterius, perusahaan dan wilayahnya telah dikuasai si misterius itu. yang tidak lain adalah organisasi milik Azriel, pria itu sudah mengalahkan banyak organisasi hingga wilayahnya bisa dibilang cukup besar.
Alexander Walker malah berakhir tragis ditangan Airella karena menganggu adik kesayangannya, Alexander tidak lagi diberikan kemurahan hati dan dihabisi tanpa belas kasih. Xavier tidak mengenal siapa Azriel dan Airella itu, karena dua orang itu memiliki identitas tersembunyi dan juga misterius. Xavier hanya tahu kakaknya sudah dihabisi oleh musuh lama kakaknya, dan ditambah ia kehilangan seorang adik kesayangan nya.
Xavier menemani sang adik dirumah sakit dalam perawatan yang akan dimakamkan, sampai ia bertemu dengan Alzio dan mengenal siapa Alzio sebelumnya. saat itu Alzio bercerita tentang dirinya yang mencari mata untuk putrinya, dengan segala kemurahan hati Xavier ia memberikan mata adiknya pada Alzjo untuk Aurina. ia berpikir bisa melihat adiknya hidup lagi meskipun hanya mata, karena ia suka melihat mata indah adiknya apalagi kini mata itu berada pada orang yang tepat.
Xavier Walker adalah seorang pria tampan berdarah California dengan usia 30tahun, pria itu dijuluki elang karena memiliki wajah dan juga mata yang tajam. Xavier dulunya hanya bekerja sebagai direktur utama di perusahaan nya, karena kematian sang kakak dan adiknya sekaligus ia ingin melindungi dirinya sendiri. ingin mencari siapa pembunuh kakaknya, sukanya tidak berhenti ketika sangat adik juga meninggalkannya dalam suatu kecelakaan tunggal.
Xavier menenangkan dirinya setelah kehilangan sangat adik, ia terus berada di sebuah bar setiap malam. tidak ada yang berani mendekatinya, seorang wanita pasti akan kabur jika melihatnya dengan tatapan tajam. tapi suatu malam seorang wanita mendekatinya, wanita yang tidak pernah ia lihat itu mendekat tanpa rasa takut sama sekali saat melihatnya. merayunya, mendekatinya tanpa henti. Xavier sudah berpikir dalam otaknya, dia bjkan sembarang wanita karena melihat earphone ditelinga wanita itu. sampai terjadilah bagaimana dirinya harus kehilangan sebuah properti milik kakaknya, pabrik senjata terbesar di California. Xavier mencari identitas wanita itu, bagaimanapun dia harus memberikan pelajaran yang semestinya didapat.
Xavier tinggal di London, pria itu memiliki perusahaan besar disana. apalagi perusahaan itu bekerja sama dengan Alzio, Xavier menjadi investor terbesar Alzio. disamping itu Xavier ingin mencari identitas Airella, yang bahkan dirinya tidak tahu nama gadis itu sebelumnya.
"dia berani meninggalkan noda lipstik dipipiku, bahkan menipuku aku tidak akan mengampuninya. " ucap Xavier pada dirinya sendiri, wajah Airella terlukis jelas dipikirannya dan tidak akan bisa hilang.
__ADS_1
Airella yang merasa dibicarakan hal buruk pun bersin, ia merasa tubuhnya tidak enak. tapi dia disini, di sebuah bar untuk menenangkan dirinya. dirinya cukup lelah melakukan pekerjaan dengan Azriel, dan sekarang dirinya baru bisa bersantai. Airella berada di sebuah club malam ditengah kota, ia menikmati minuman sendiri tanpa ditemani siapa pun.
"berikan segelas wine untukku. " suara itu terdengar familiar, Airella menoleh dan melihat pemilik suara itu seorang pria.
entah takdir baik atau buruk, Xavier mencari keberadaan Airella malah menemukan gadis itu sedang berada diclub yang sama. Airella yang berusaha menjauh, malah dipertemukan dikota yang sama dan tempat yang sama. Airella tidak bisa pergi saat Xavier sudah melihatnya, Airella berusaha menjauh tapi tangan Xavier dengan cepat mencengkram tangan Airella.
"lepaskan!" teriak Airella, suara musik yang keras tidak membuat teriakannya didengar orang lain, hanya didengar Xavier.
"takdir berpihak padaku, aku bertemu dengan wanita yang sudah lama kucari dalam setahun ini." ucap Xavier, tangannya terlalu kuat tidak bisa dilepaskan oleh Airella.
"kau salah orang tuan, lepaskan tanganku." teriak Airella lagi, gadis itu menendang kaki Xavier dengan kuat sampai terpaksa Xavier melepas tangan itu dan berkesempatan Airella berlari dari sana.
"kau tidak bisa lepas dariku, tidak ada kesempatan untukmu lari dariku." ucap Xavier menggema, Airella menujukkan wajah dinginnya, ia seperti siap melawan pria itu dan segera kabur dari sana.
"benarkah, kau bahkan kalah telak sebelumnya tuan Walker! " ucap Airella, gadis itu berusaha melawan Xavier dengan aksi tarungnya. melawan tanpa senjata bisa dilakukan Airella, tangannya memegang sebuah pisau untuk memperkuat perlindungan. Xavier sendiri tenang melawan Airella, semakin dilawan Airella semakin kuat untuk menyerangnya. sampai Airella kalah telak saat pisaunya sendiri mengarah ke lehernya, Xavier membuat pisau itu menempel tepat diurat nadi leher Airella.
__ADS_1
"kenapa, apa sudah lelah melawan? " ucap Xavier, Airella berusaha melepaskan dirinya dari lilitan pria itu. habis sudah kesabaran Xavier, ia membuang senjata itu dan menggeodng Airella diatas pundaknya.
"turunkan aku, lepaskan aku sialan. turunkan aku br*ngsek,!!! " teriak Airella terus meronta, Xavier tidak peduli ia berjalan menuju mobilnya dan membanting Airella di kursi belakang dan disusul dirinya masuk.
"cari hotel terdekat!"
Airella terkejut dengan perintah Xavier pada anak buahnya, Airella berusaha mencari jalan untuk dirinya keluar mobil itu. tidak kalah cerdik, Xavier membawa tubuh Airella berada dalam dekapannya.
"lepaskan aku, aku tidak mau ikut denganmu. hotel apa, untuk apa kau mencari hotel!" teriak Airella, dirinya sudah marah kelewat batas. Tapi Xavier tidak mendengarkan teriakannya, pria itu seperti tuli dengan mendekap tubuh Airella.
mobil semakin melaju mencari tujuan yang diperintahkan, Airella masih berusaha melepaskan dirinya karena semakin malam semakin membuatnya tidak nyaman. Xavier terlena dengan wangi tubuh Airella, ia merasa santai saja menghirup aroma tubuh itu yang berada dalam dekapannya.
"apa kau bodoh, lepaskan aku. aku tidak akan pergi kemanapun! "
"kau pikir aku percaya? " ucap Xavier, Airella menghela nafas kasar.
__ADS_1
"kau itu bodoh atau bagaimana hah? cukup memegangku dengan erat tidak akan bisa pergi, tidak perlu mendekap ku seperti ini. lagi pula siapa yang akan lari jika mobilmu melaju, dasar tidak waras! " ucap Airella yang sudah jengah, Xavier membenarkan hal itu dan akhirnya membiarkan Airella duduk di sampingnya. Airella membuang pandangannya kearah luar mobil, kini dirinya tidak bisa berkutik sedikit pun.
"kau yang meminta berurusan denganku, sejak kau mendapatkan cap jempolku urusan kita sama sekali bum selesai. jadi sampai kapanpun aku akan mencarimu, meski mendapat kabar kau mati sekalipun aku harus melihat nisanmu sendiri. " ucap Xavier dengan geram, Airella menghela nafas kasar, itu sudah jalan takdir kapanpun mereka juga pasti bertemu untuk menyelesaikan masalah.