Obsesi Cinta Mafia

Obsesi Cinta Mafia
Season 2 - Malas Melawan.


__ADS_3

Nathan tidak bisa memejamkan matanya ketika malam hari, dirinya terjaga hingga matahari terlihat. sampai telinganya mendengar suara dari luar kamarnya, Nathan pun dengan segera membuka pintu kamarnya dan melihat Aurina yang berada di dapur hotel itu. Aurina sedang kelaparan dan juga kehausan, ia membuka lemari es dan mengambil buah disana. Aurina memang tidak berniat mengganggu Nathan, dirinya masih ingat apa yang terjadi sore kemarin.


"kenapa tidak memanggilku? " suara Nathan mengejutkan Aurina, sampai buah apel ditangannya terjatuh menggelinding kearah Nathan. pria itu tersenyum mengambil apel itu, kemudian berjalan kearah Aurina yang memegang pisau.


"kau sedang tidur, aku tidak ingin menganggumu. " ucap Aurina, Nathan mengambil pisau ditangan gadis itu.


"jika kau melukai tanganmu bagaimana, harusnya tetap ketuk pintu kamarku. " ucap Nathan, dirinya memang tidak tidur semalaman. jika Aurina bisa melihat, dia akan melihat mata pria itu sedang kelelahan kurang tidur sekarang. Nathan pun mengupas apel itu, sebelumnya ia meletakkan air dingin didalam gelas yang langsung diteguk oleh Aurina. Nathan menarik kursi didekat dapur, dan meminta Aurina untuk duduk disana.


"apa ada buah lain didalam kulkas?" tanya Aurina, mulutnya mengunyah apel yang sudah dikupas oleh Nathan.


"kau ingin apa, ada pisang dan semangka disini. " Aurina terdiam dengan sedikit berpikir kemudian menggelengkan kepalanya, meraba Nathan yang berada di sampingnya.


"cari kursi lagi, duduklah dan makan buah bersamaku. " ucap Aurina, Nathan pun menarik kursi lain dan duduk disamping Aurina. pria itu menatap gadis itu, kemudian menemukan mata gadis itu sembab.


"kenapa dengan matamu, apa kau tidak tidur semalam? " tanya Nathan, Aurina menggelengkan kepalanya.


"aku tidur cukup larut, mungkin mataku kelelahan kurang tidur. " ya mata itu sama dengan mata Nathan, karena semalaman juga Aurina tidak tidur memikirkan hal yang sama.


"aku ingin kau melupakan perkataanku semalam, aku tidak tahu kenapa aku mengatakan hal itu. " ucap Nathan, Aurina terdiam ia meneguk air sebelumnya untuk melarutkan apel yang ia kunyah didalam mulutnya. tangannya meraba tangan Nathan, ia menggenggam tangan pria itu dengan tangan lentik dan mungilnya.


"uncle Darius sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri, dia menganggapku sebagai putrinya. karena itu aku selalu menganggapmu sebagai kakakku, aku bahagia memiliki 3 kakak seperti kalian dan juga Dahlia sebagai saudariku. aku tidak pernah berpikir kita akan lebih dari seorang saudara, Nathan tolong jangan pernah berpikir seperti itu lagi. kau bisa mencari wanita lain selain diriku, banyak diluar sana yang bisa menjadi pasanganmu. yang pintar, cantik, baik, dan pastinya akan mencintaimu dengan tulus. " ucap Aurina, sunggu kejam perkataan gadis itu bagi Nathan. karena memang itu benar adanya, Aurina hanya menganggap Nathan sebagai saudaranya setelah kakak kembarnya.

__ADS_1


"semua itu ada pada dirimu, hanya saja tidak ada cinta darimu. lupakan saja, anggap semuanya tidak terjadi apapun. " ucap Nathan, Aurina mengangguk dengan itu. "aku harap semuanya bisa berjalan dengan baik Aurina, karena aku berpikir perasaan ini tidak akan pernah hilang dari hatiku. " ucap Nathan lagi, pria itu melepas tangan Aurina dan pergi dari sana. masuk kedalam kamar mandi, Aurina terdiam disana dengan memegang dadanya sendiri.


...****************...


siang harinya mereka berdua pergi ke suatu tempat, Nathan membawa gadis itu berkeliling kota California. sebuah pasar rakyat ada disana, setelah memarkirkan mobil Nathan mengajak Aurina untuk melihat lihat yang ada dipasar. meskipun tidak bisa melihat, Aurina senang mendengar suara priak priuk ramai pedagang yang menawarkan dagangannya.


"kau mau permen strawberry?" tanya Nathan, Aurina menoleh kearah Nathan kemudian mencium bau gula yang menjadi kesukaan gadis itu. tanpa berpikir lagi Aurina menganggukkan kepalanya, Nathan pun menggandeng tangan Aurina kearah pedagang gula buah atau bisa disebut permen buah.


"aku mau Strawberry saja. " ucap Aurina, Nathan pun mengangguk kemudian meminta pedagang memberikan pesanannya. sebuah permen gula strawberry diberikan, setelah membayar Nathan menyerahkannya kepada Aurina.


"ini sangat manis, apa gigimu tidak merasa ngilu?" tanya Nathan, Aurina tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"ini enak, lagipula aku tidak mempunyai riwayat sakit gigi. mungkin kau harus mencobanya, satu gigitan saja. " ucap Aurina, entah tangannya disodorkan kearah lain olehnya. Nathan pun menarik tangan itu, dan mencoba mengigit satu permen gula strawberry itu. benar saja rasanya tidak cocok dilidah Nathan, lidah pria itu tidak bisa merasakan manis sedikit pun.


"lidahmu memang rusak Nathan, masa iya tidak terasa manis. aneh. " ucap Aurina terkekeh kecil, ia melanjutkan memakan permen gula itu. sambil dilanjut nya berkeliling, ia melihat dimana ada seorang penjual kalung. ia membawa Aurina untuk berhenti, disana Aurina hanya menikmati permennya tidak tahu Nathan sedang memilih kalung yang cocok untuknya.


"berikan aku kalung bulan itu,.. " ucap Nathan, pedagang itu pun memberikannya. Nathan langsung memakaikan nya pada Aurina, sedikit terkejut Aurina memegang kalung itu yang ia rasakan berbentuk bulan sabit. "hm.. cocok, akan kubayar dulu. " setelah itu Nathan pergi, kembali setelah membayar menatap Aurina memakai kaling baru pemberiannya.


"kenapa membeli kalung? "


"sebagai hadiah, aku juga membeli kalung untuk Dahlia. saat dia kesini nanti, aku akan memberikan padanya. " ucap Nathan, Aurina mengangguk dengan itu. beberapa jam mereka berkeliling, Nathan pun mengajak Aurina kembali untuk beristirahat.

__ADS_1


perjalanan cukup jauh dari hotel, karena keduanya memang pergi berkeliling hingga jauh. di perjalanan tidak ada percakapan apapun, hanya diam di sepanjang jalan. tiba tiba saja supir Nathan menghentikan mobilnya secara mendadak, dengan sigap Nathan menahan tubuh Aurina dengan tangannya agar tidak terdorong kedepan.


"ada apa? " tegas Nathan, ia melirik Aurina yang nampak terkejut memegang tangannya.


"maaf tuan, didepan ada sebuah kendaraan yang berhenti. akan saya lihat dulu... " ucapnya kemudian turun, Nathan melirik kearah anak buahnya yang langsung diangguki. Nathan waspada karena takut itu jebakan, mereka ada di negara yang baru dan tidak tahu seperti apa tempat disana. beberapa detik kemudian terlihat beberapa orang datang, memberikan pukulan pada supir yang mengecek sebelumnya.


"sial." pekik Nathan, pikirannya dipenuhi rasa khawatir. bagaimana tidak ia hanya membawa beberapa anak buah, jebakan itu cukup banyak orang yang melakukannya.


"perampok, mereka seorang perampok! " ucap Aurina, iya benar itu adalah jebakan dari perampok di kota itu jalanan yang sepi selalu menjadi tempat tergetnya. yang ditakutkan Nathan bukan dirinya terluka, melainkan Aurina yang berada disana. jika Nathan keluar melawan mereka, maka Aurina berada didalam mobil sendirian. tidak ada pilihan lain saat beberapa perampok mulai mendekat, Nathan memilih untuk turun.


"apa yang kalian inginkan?" tanya Nathan disana, terlihat mereka benar benar seorang perampok bukan musuh Azriel. karena kota itu bukan daerah kekuasaan Azriel, jadi tidak akan mungkin musuhnya ada disana.


"serahkan mobilmu, aku lihat itu cukup mahal. " ucap salah satu bos mereka, Nathan pun memilih untuk mengalah. pria itu membawa keluar Aurina, gadis itu nampak ketakutan berada dalam pelukan Nathan.


"ambil saja, tapi jangan lukai siapapun. " ucap Nathan, perampok bergerak kearah mobil itu dan menyalakan mobil. Nathan membiarkan perampok membawa mobilnya, anak buahnya mendekat kearah Nathan dan Aurina untuk meminta maaf.


"kami lengah, maafkan kami. " ucap anak buah Nathan, wajah pria itu kali ini dipenuhi kemarahan.


"Azriel memerintahkan orang bodoh seperti kalian, apa gunanya. " saut Nathan, Aurina tersenyum menahan tawa.


"kau juga takut, kau bisa melawan mereka kenapa malah menyerahkan mobilmu begitu saja." ucap Aurina, Nathan juga merasa bodoh akan hal itu. tapi alasannya juga satu ia tidak ingin melukai Aurina disana, jadi tidak ingin ada perlawanan karena juga merasa malas melawan.

__ADS_1


"mobil akan segera datang tuan. " ucap anak buahnya, Nathan pun tidak peduli ia membawa Aurina duduk di sebuah batu besar pinggir jalan. Aurina sibuk menertawakan pria itu, ia tidak tahu Nathan sedang menahan kesal pada anak buah nya.


"sudah jangan kesal, duduklah. " ucap Aurina, Nathan pun ikut duduk menunggu mobil datang.


__ADS_2