
waktu berjalan begitu cepat, satu tahun berlalu. Aurina resmi memegang saham milik nya sendiri, Airella terbebas dari urusan perusahaan. Airella lebih suka dalam urusan bersama Azriel, melakukan misi rahasia entah itu menguntungkan dirinya ataupun merugikan orang lain. Aurina menjadi pemilik perusahaan yang dibangun oleh Alzio dan diteruskan oleh Azriel, kini ia ikut andil dalam pekerjaan itu. apalagi Azriel memberikan hadiah satu perusahaan dibidang pakaian, cukup terkenal dengan jumlah pakaian bermerk yang datang dari dalam negeri ataupun luar negeri.
saat dipesta sebelumnya Aurina dan Gallan saling berkenalan, selama setahun itu mereka sering bertemu jika ingin bicara di sebuah restoran. cukup bebas untuk Aurina melakukan hal apapun, tanpa Nathan yang biasanya selalu mengikutinya. berpikir tentang Nathan gadis itu jadi merindukan Nathan, rindu saat pria itu menemaninya bahkan selalu membantunya. Nathan tidak mau bicara lagi padanya, setiap bertemu pria itu selalu menghindar.
sebelum ke kantor Aurina datang kerumah Nathan, seperti biasa rumah itu sepi hanya ada pelayan. Aurina masuk tanpa bicara dengan siapapun, sampai kakinya berhenti di kamar Nathan dan ia pun membuka pintu tanpa mengetuk. Aurina memasukkan kepalanya terlebih dahulu, ia melihat kamar itu gelap sampai kemudian tubuhnya masuk kemudian menutup pintu. Aurina menyalakan lampu, ia dikejutkan Nathan yang berdiri disamping pintu dengan telanjang dada.
"kau mengejutkan ku! " teriaknya kemudian membelakangi Nathan, pria itu memang berada di kamar dan akan mengganti pakaian. karena mendengar suara derap kaki, Nathan pun mematikan lampu dan berdiri dibelakang pintu. sudah diduga Aurina yang akan datang, karena tidak ada yang berani membuka pintu kamarnya kecuali gadis itu.
"kau sendiri menyelinap masuk, kalau tadi aku melepas semua pakaianku bagaimana? " ucap Nathan, Aurina menggelengkan kepalanya.
"maaf, aku tidak melihatmu beberapa hari ini jadi aku langsung masuk, aku tidak tahu kau ada di kamar. " ucap Aurina, ia merasa Nathan mendekatinya. saat akan pergi tiba tiba saja Nathan menahan tangannya, ia mengunci Aurina ditembok dengan tangannya.
"kenapa, apa kau merindukanku? "
"kau.. " ucapan itu terhenti, Aurina berbalik dan ia lupa Nathan yang masih telanjang dada. reflek tangannya menekan tombol lampu, ruangan itu pun menjadi gelap. "kenapa kau sangat dekat, sedikit menjauh... " ucap Aurina mendorong tubuh Nathan, tapi pria itu menahan tangan Aurina yang terlihat halus. "Nathan tubuhmu panas, apa kau demam? " tanya Aurina, ia menyalakan lampu kemudian melihat Nathan. tidak peduli pria itu telnajang dada atau tidak, yang pasti Aurina melihat wajah Nathan yang merah dan juga berkeringat.
"aku tidak tahu, aku pergi dengan Azriel pagi ini tapi aku merasa flu. Azriel memintaku kembali, sampai dirumah aku merasa badanku panas karena itu aku ingin mengganti pakaian sebelum istirahat. " ucap Nathan, Aurina pun membawa Nathan duduk disofa. memberikan air minum pada pria itu, Nathan menerima perlakuan Aurina dengan senyuman.
__ADS_1
"kau demam, aku akan menghubungi dokter." ucap Aurina, Nathan menggelengkan kepalanya.
"pergilah, nanti kau tertular. masalah dokter nanti saja, aku ingin tidur sekarang. " ucap Nathan, Aurina terdiam melihat pria itu berjalan kearah lemari pakaian. Nathan memakai kaos polos, dengan celana training yang ia pakai sebelumnya. sebelum mendarat dikasur Nathan melihat kearah Aurina, gadis itu tidak beranjak pergi tetap berdiri menunggunya.
"apa kau minum alkohol, ada dua botol disana." ucap Aurina, Nathan hanya tersenyum dengan itu.
"semalam tidak bisa tidur, jadi aku menghabiskan dua botol."
"Nathan itu tidak baik, karena itu kau sekarang demam... "
"aku... aku luang hari ini.. apa aku bisa menemanimu? " ucap Aurina ragu, Nathan pun diam kemudian membawa Aurina duduk disofa. Nathan memposisikan paha Aurina sebagai bantalan, tidak ada penolakan dari Aurina ia malah tersenyum tipis.
"temani aku seperti ini, jangan pergi dulu hanya sebentar. " ucap Nathan, Aurina mengangguk tanpa menjawab. Nathan memejamkan matanya, kepalanya memang pusing tapi perlahan menghilang karena keberadaan Aurina. "kenapa... perasaanku masih ada untukmu, aku berusaha menjauhimu kau malah datang sendiri kemari... " Aurina terdiam mendengar penuturan Nathan, sampai Nathan membuka matanya dan melihat Aurina yang menatapnya. "katakan padaku, apa yang kau rasakan ketika jauh dariku?"
"aku tidak terbiasa tanpamu, aku seperti merasa kekurangan. kalau boleh memilih, aku akan memilih lebih baik buta agar ditemani dan diperhatikan olehmu." saut Aurina tanpa berpikir lagi, Nathan terkejut dengan jawaban itu. "ciuman saat itu aku masih merasakannya hingga sekarang, itu adalah untuk pertama kalinya buatku. kau merenggut ciuman pertamaku, Nathan aku memang merindukanmu... " ucap Aurina disana, Nathan langsung mendudukan dirinya.
"kenapa jadi begini, apa yang terjadi padamu? " tanya Nathan, Aurina menatap Nathan lekat lekat. tapi siapa sangka ada hal yang menganggu keduanya, Nathan merasa perutnya bergejolak dan mulutnya siap memuntahkan seluruh isi perut itu. Nathan berlari kearah kamar mandi, ia menuju wastafel dan berhasil memuntahkan seluruh isi perutnya.
__ADS_1
"Nathan... "
"pergilah jangan dilihat, aku baik baik saja.... " Aurina tidak bisa jika diam saja, pria itu tidak baik baik saja. Aurina mengisi air didalam gelas, Nathan meneguk air itu dengan sekali teguk.
"Nathan aku akan menghubungi dokter... " ucap Aurina menekan tombol panggilan, setelah nya ia membopong tubuh Nathan yang lemah untuk berbaring diatas kasur. "dokter akan segera datang, ayo akan kutemani sampai kasur. " Aurina membantu pria itu berbaring diatas kasur, Nathan sendiri memejamkan mata dengan wajah merah dan suhu tubuh panas.
dokter datang setelah beberapa menit, dokter memeriksa keadaan Nathan dan memberikan resep. pelayan pribadi Nathan mengambil resep itu, dan segera membelikan obat yang dipinta oleh dokter. Aurina melihat Nathan yang tertidur, deruh nafas itu perlahan berhembus secara teratur. Aurina sangat khawatir, dia menatap wajah Nathan.
"kau mengabaikan aku setahun ini, apa sudah tidak mencintaiku lagi?" ucap Aurina, gadis itu, tidak tahu Nathan terbangun oleh suaranya. Nathan membuka mata, menatap Aurina yang nampak terkejut menatapnya.
"masih Aurina, aku masih mencintaimu. aku menjauhimu karena aku kesal kau menganggapku sebagai saudara, kau tidak tahu seberapa menderita nya aku saat menjauh darimu. bukannya melupakanmu, aku semakin mengingatmu dan cinta ini semakin tumbuh setiap hari. " ucap Nathan, Aurina selalu menggap Nathan saudaranya tapi kali ini kata saudara itu seperti tidak cocok diucapkan.
"istirahatlah Nathan, kita akan bicarakan lagi. " Nathan menarik tangan Aurina yang akan pergi, sampai gadis itu terjatuh dikasur dan langsung didekap oleh Nathan.
"jangan menjauh kumohon, cukup menganggapku sebagai saudara. jangan menyiksaku dengan perasaanku sendiri, berikan aku sedikit kesempatan untuk mencintaimu... " ucap Nathan, Aurina bisa merasakan pria itu menghembuskan nafas hangat. Nathan menempel kan dahinya pada dahi Aurina, gadis itu bisa merasakan panas suhu Nathan. Aurina mengigit bibir bawahnya, sampai Nathan menempel kan bibirnya pada bibir Aurina. tidak ada penolakan disana, Nathan menunggu reaksi Aurina tapi gadis itu malah memejamkan mata dengan mencengkram erat kaos yang dipakainya. kecupan itu berubah menjadi *******, Nathan semakin memperdalam ciumannya tanpa penolakan dari Aurina. suhu ruangan semakin terasa panas dengan adegan yang dilakukan mereka, Nathan mengambil kesempatan itu dan tidak akan melepaskan Aurina.
"aku sendiri bingung dengan perasaanku, apakah aku mencintaimu ataukah aku hanya menyayangimu... "
__ADS_1