
sebuah langkah kaki melangkah di sebuah lorong ruangan, tatapannya dingin mematikan siapapun yang melihatnya. berjalan dengan kepala tegak arogan, siapa yang melihatnya hanya bisa gemetar dan menundukkan kepalanya.
"sudah ditangkap? " tanyanya dengan dingin, beberapa orang bertubuh tegap mengangguk.
"sudah tuan, dia ada di ruang hitam. " setelah seseorang mengatakan itu, pria itu tidak bertanya dan langkahnya menuju tempat yang dimaksud.
pria dingin itu tidak lain adalah Azriel Sea Gilbert, wajahnya datar, dingin dan memiliki aura tajam layaknya seekor elang yang lapar mencari mangsa. sifat itu sudah melekat pada tubuh Azriel hingga diusianya 28tahun, pria tampan dengan tinggi 189cm itu. Azriel dijuluki dengan pria sempurna, dengan wajah yang memiliki rahang tegas, hidung mancung, bibir tipis bervolume, alisnya tebal menambah ketampanannya.
ternyata sifat Alzio menurun pada putranya, Azriel dikenal sebagai pria yang arogan, kejam, tanpa belas kasih jika melihat orang yang lemah. sifatnya lebih tajam dari pada Alzio, mungkin karena Alzio sudah memiliki Krystal jadi tidak terlihat garang seperti sebelumnya.
Azriel adalah seseorang yang memimpin suatu organisasi, organisasi itu sudah menjadi sangat berpengaruh di berbagai dunia. Azriel sebagai pemimpin utama, organisasi itu bergerak dibidang obat obatan dan juga barang senjata ilegal yang dikelola langsung olehnya. parahnya saudari kembarnya ikut serta hal itu, Airella menjadi salah satu anggota tersembunyi disana.
Alexander yang menculik siadik telah kabur dari markasnya, dan takdir tidak berpihak pada Alexander. karena dalam waktu cepat, anak buah Nathan menemukan Alexander disuatu bandara. pria itu akan melarikan diri, tentu tidak akan bisa melarikan diri dari tangan Azriel maupun Nathan.
Azriel melihat pria yang tidak berdaya dihadapannya, terlihat Alexander lemas telah dihajar habis habisan oleh anak buah Azriel.
"aku akan langsung menghabisi dirimu hari ini, kau sudah kuberi maaf tapi kau tidak tahu Terima kasih! " ucap Azriel, ia telah membidik senjatanya tepat dikepala Alexander. tapi sebuah tangan lentik menghentikannya, ia menoleh dan melihat Airella disana dengan pakaian menutup identitasnya.
"aku yang akan lakukan." ucap Airella, Azriel langsung menurunkan tangannya. Airella menodongkan senjatanya, tangannya tidak bergetar sama sekali karena sudah terbiasa memegang senjata itu. "karena kau ucapan menyakitkan terdengar oleh telingaku, dan kau akan habis ditanganku! " setelahnya terdengar suara tembakan yang nyaring, Airella menembakkan seluruh peluru yang ada di senjatanya.
__ADS_1
"urus mayatnya! " ucap Azriel, hal itu langsung diiyakan oleh anak buahnya. Azriel menoleh kearah Airella, gadis itu membuka penutup kepalanya kemudian melihat kearah Azriel.
"aku pergi sekarang, banyak pekerjaan dikantor. " ucapnya, Azriel menarik tangan gadis itu dan memeluknya erat. Airella tidak berontak, ia merasakan apa yang sedang Azriel lakukan sekarang.
"jangan marah, aku menyesal mengatakan hal itu. " ucap Azriel, Airella tersenyum tanpa mengeluarkan suara. "aku tahu semua orang sudah berusaha untuk kesembuhan Aurina, Daddy Mommy, aku dan juga kau. harusnya aku tidak menyakitimu mengatakan itu, aku menyesal. " ucapnya lagi, Airella melepas pelukan itu dan menatap Azriel.
"kenapa kau tidak bilang maaf, kau bersalah kan? " hal yang jarang diucapkan Azriel adalah kata maaf, meskipun pada kembarannya ia tidak pernah mengatakan maaf karena gengsi. "El ayo katakan, aku akan memaafkanmu. "
"tidak, enyah saja kau! " saut Azriel, Airella tidak menyerah. gadis itu mengejar Azriel, ya begitulah mereka berdua artinya sudah akur. bertengkar pun mereka tidak akan lama, hanya beberapa jam saja.
...****************...
karena terus melamun dirinya tidak menyadari disamping tangannya terdapat gelas air, ia menyenggol gelas itu hingga terjatuh dan pecah dilantai. seorang pelayan langsung datang, dengan cepat membersihkan pecahan itu.
"maafkan aku.. " ucap Aurina, para pelayan itu sudah terbiasa dengan itu dan menyadari kekurangan nona muda yang cantik itu.
"tidak masalah nona, kami akan mengambilkan air yang baru untuk anda. " Aurina mengangguk dengan itu, kemudian ia merasa seseorang datang mendekat kearahnya.
"Nathan? "
__ADS_1
"bagaimana kau bisa tahu ini aku.. " ucap Nathan tersenyum, Aurina mengangguk dengan itu.
"aku sudah hafal , duduklah mari sarapan bersama. " saut Aurina, Nathan berdiri disamping gadis itu dan meletakkan air disamping piring Aurina.
"lupa letak gelas? "
"tidak, tadi aku melamun jadi menyenggolnya. " saut Aurina tersenyum, Nathan pun duduk di kursi lain dengan menatap Aurina.
"memikirkan Ai dan El, mereka pasti baikan lihat saja nanti. " ucap Nathan, Aurina pun mengangguk dengan itu. Keduanya berakhir makan sarapan bersama, Aurina sudah tidak memikirkan hal lainnya.
"sarapan sendirian, beraninya kau!" suara Airella menggema, hal itu membuat Aurina menoleh ke asal suara. Aurina tersenyum dengan itu, Airella berjalan kearah sang adik dan mengusap rambut sangat adik. bukan hanya Airella, Azriel juga datang langsung dipeluk oleh Aurina.
"kalian datang bersama, artinya sudah baikan? " ucap Aurina, Azriel dan Airella saling memandang.
"tidak, dia tidak mengucapkan maaf padaku. aku tidak memaafkannya, dia sudah mematahkan hatiku." ucap Airella, ia meneguk susu yang sudah disediakan di sana. Aurina tertawa kecil dengan itu, ia paham Azriel tidak akan mudah mengatakan maaf pada siapapun.
"dia sudah melenyapkan Alexander, aku juga sudah memperketat penjagaan Aurina dan rumah ini. Alexander memiliki banyak seseorang yang akan membalas, karena itu kita harus waspada. " ucap Azriel pada Nathan, pria itu mengangguk dan mengerti apa yang dikatakan Azriel. Azriel melihat kearah Aurina, menatap adiknya dengan senyuman tipis. Aurina meraba wajah Azriel, pria itu memejamkan mata kemudian tersenyum.
"kenapa menatap ku, aku bisa tahu.. "
__ADS_1
"saat Daddy kembali dia akan membawa kabar baik, tunggu saja." ucap Azriel, Airella dan Nathan saling menatap. kabar apa yang dimaksudkan. bahkan Azriel tidak bercerita padanya, membuat rasa penasaran tiga orang itu meningkat.