Obsesi Cinta Mafia

Obsesi Cinta Mafia
Season 2 - Perang Dingin.


__ADS_3

Aurina membuka matanya, ia merasa familiar dimana ia sedang diatas kasur kamarnya. ia meraba kasur itu, dan benar itu adalah kamarnya. ia ingat dirinya mengalami penculikan dan dirawat dirumah sakit, tapi dirinya sekarang ada di kamarnya. Aurina menurunkan kaki jenangnya itu dari atas kasur, ia berjalan mencari pintu kamarnya. Aurina ingin keluar dari kamar, ingin mencari seseorang untuk menjawab pertanyaannya.


Aurina tidak menemukan siapapun, hanya menemukan seorang pelayan. ia meminta pelayan untuk mengantarnya kerumah Nathan, karena ia ingat Nathan terluka parah karenanya. pelayan itu pun dengan sedia mengantar Aurina, karena rumah mereka tidak berjarak jauh hanya beberapa meter saja.


Aurina masuk kedalam rumah besar Nathan, hanya kesunyian disana. memang tidak ada siapapun dirumah itu, rumah pribadi milik Nathan adalah rumah milik Darius dan Natalia yang dibangun oleh Alzio. karena dua orang itu memilih tinggal dirumah utama, jadilah rumah itu ditinggali oleh Nathan sendiri kadang adiknya juga tinggal disana.


Aurina sudah hafal letak rumah itu, ia berjalan seperti orang normal menaiki anak tangga dengan perlahan. ia membuka kamar Nathan tanpa mengetuk, disana Nathan yang sedang terbaring terkejut melihat Aurina. posisi Nathan yang tidak memakai pakaian atas karena perban lukanya, tapi kenapa terkejut bahkan Aurina tidak bisa melihat dirinya memakai pakaian atau tidak.


"Nathan apa kau sedang tidur, apa aku menganggumu?" tanya Aurina, Nathan yang terbangun itu hanya diam. ia menatap Aurina yang tampak kebingungan, melangkah mendekat dengan meraba barang disekitarnya. Aurina duduk disamping pas Nathan terbaring, gadis itu merasa selimut dan merasakan Nathan ada disana. "Nathan tidur ya, apa dia masih terluka?" ucapnya pada diri sendiri, itu menjadi hal yang menarik bagi Nathan. hampir saja Aurina menyentuh bagian sensitif nya, Nathan langsung memegang tangan itu dengan cepat. hal itu membuat Aurina terkejut, ia kelagabakan karena Nathan terbangun.


"jangan makin kesana, itu adalah area terlarang." ucap Nathan, Pria itu tersenyum kemudian mendudukan dirinya dibantu oleh Aurina.


"aku menganggumu ya, sampai kau terbangun?" tanya Aurina, tentu tidak karena Nathan sudah membuka mata sejak gadis itu masuk tanpa mengetuk pintu.


"tidak, aku sudah terbangun kok dan kau menyentuh lukaku, jadi aku terkejut langsung memegang tanganmu. " saut Nathan, Aurina nampak bersalah.


"maafkan aku, aku hanya ingin memastikanmu baik baik saja. kau terluka parah kemarin, apa lukamu sudah sembuh? " Nathan tertawa dengan itu, kemudian menyentuh tangan Aurina.


"lukanya sudah kering, untuk sembuh tentu saja tidak akan secepat itu sembuh. masih butuh waktu, jangan khawatir. " ucap Nathan, Aurina pun mengangguk dengan itu. secara bersamaan seseorang mengeruk pintu, pintu terbuka menampilkan seorang pelayan datang membawa nampan makanan. Aurina meminta pelayan itu meletakkan makanannya di pangkuannya, agar ia bisa membantu Nathan saat makan.


"aku bantu boleh?" tanya Aurina, Nathan pun tersenyum dengan itu.

__ADS_1


"tentu, saat sakit disuapi oleh gadis cantik siapa yang akan menolak. " goda Nathan, Aurina tersenyum dengan itu. gadis itu pun menyuapi makanan itu, detik demi detik makanan itu telah habis membuat Nathan kenyang. Aurina menunggu Nathan mengatakan sesuatu, tapi pria itu hanya sibuk menatap Aurina yang nampak cantik


"aku akan pergi sekarang, aku takut Azriel mencariku dirumah. " ucap Aurina, gadis itu berdiri dari duduknya. belum Nathan bicara, Aurina menyenggol sebuah meja yang terdapat lampu meja. lampu itu akan terjatuh ketubuh Aurina jika Nathan tidak menarik gadis itu, Aurina jatuh kedalam dekapan Nathan tanpa disengaja. gadis itu terkejut merasa bingung dan kelagaoan, Nathan sendiri menatap Aurina dari jarak yang cukup dekat.


"auuhh... " pekik Nathan, Aurina mencengkram lengan Nathan yang terluka. alhasil luka itu mengeluarkan darah lagi, terlihat perban putih kembali dinodai dengan darah. Aurina terkejut, ia menyentuh lengan Nathan dan merasa basah ditangannya. "luka ku terbuka.. "


"aku akan panggil kan dokter.. "


"tidak perlu, bantu aku membalut perban yang baru saja. " sela Nathan, Aurina terkejut seakan tidak percaya dengan perkataan pria itu.


"aku yang membalut, apa kau yakin? " tanya Aurina, dibalas jawaban iya saja oleh Nathan. Aurina pun mengangguk dengan itu, ia dibantu oleh Nathan mencari perban untuk lukanya. "dari mana aku harus memulai? " Nathan menyingkirkan selimut nya, ia membawa Aurina duduk di hadapannya. perlahan tangan Ajrin membuka perban yang menempel didada pria itu, padahal hanya lengan tapi Nathan membuka semua perban ditubuhnya.


"sekalian pasangkan perban yang baru, lukaku terbuka saat kau berada diatasku." ucap Nathan, Aurina mengangguk tanpa ragu.


Aurina meraba dada bidang Nathan yang sudah ia perban, dia tidak tahu banyak bekas luka pada tubuh Nathan. Aurina menyentuh bekas luka Nathan, di leher, dipundak hingga turun diperut, hal itu membuat Nathan harus menahan rasa aneh saat Aurina menyentuhnya.


"ada banyak bekas luka, jadi jangan terkejut dengan luka dipunggungku. " ucap Nathan, Aurina merasa sedih entah kenapa matanya menyiratkan kesedihan.


"apa sangat sakit, sampai lukanya berbekas?" tanya Aurina, Nathan tersenyum dengan itu.


"sakit itu sudah biasa padaku, jangan khawatir jangan sedih." ucap Nathan, Aurina pun mengangguk dengan itu. Aurina tidak sadar dirinya berada sangat dekat dengan Nathan, mereka saling berhadapan satu sama lain. Nathan mendekatkan wajahnya menatap Aurina, itulah candunya menatap gadis ya g masih menjadi pujaan hatinya.

__ADS_1


"aku haus, bisakah aku minum? " ucap Aurina, Nathan pun tersenyum dengan itu. ia menggapai air dalam gelas, Aurina tersenyum dan meneguk air itu.


"apa Azriel marah padaku?" tanya Nathan, Aurina menggelengkan kepalanya.


"aku belum bertemu dengannya, mungkin nanti akan aku tanyakan. " saut Aurina, Nathan pun mengangguk dengan itu. saat akan bicara pagi, tiba tiba kegaduhan terjadi diruang bawah. Aurina bingung begitu juga dengan Nathan, pria itu langsung memakai pakaiannya dan menuntun Aurina untuk turun kebawah melihat apa yang terjadi.


diruang bawah terdapat Azriel dan Airella, keduanya sedang perang dingin disana. entah apa yang dipermasalahkan keduanya, terlihat Airella marah dengan menatap tajam Azriel.


"ini semua salahmu, kenapa kau tidak membunuh Alexander saja waktu itu. sekarang dia bisa kabur, kau terlalu bodoh. " teriak Airella, Nathan dan Aurina terkejut dengan itu. Alexander yang sudah tidak berdaya itu, bisa kabur begitu saja tidak mungkin jika tidak ada yang membantunya.


"kau terlalu ikut campur, kau tidak perlu menasehati ku. urusi urusanmu sendiri, jangan perdulikan urusanku. "


"oh iya, kau hampir membuat Aurina dalam bahaya. dia hampir saja menjadi korban musuhmu, lalu aku tidak boleh ikut campur. adik kita memiliki kekurangan,tentu aku tidak bisa diam saja. "


"diam Ai, Aurina seperti itu juga karena dirimu. kau selalu saja membuat masalah, coba dulu kau tidak membuat masalah dengan seseorang apa dia akan jatuh dan buta sampai sekarang? "


perkataan Azriel membuat Airella terdiam, ya benar saja ia sudah membuat sangat adik menjadi buta total hingga sekarang. bahkan donor mata pun tidak ada yang cocok, tidak sembarang orang dapat mendonorkan mata mereka untuk seseorang yang buta. disesali oleh Airella, ia mencari uang hingga begitu besar usahanya tapi tetap saja uang itu tidak dapat membantu sang adik, Airella melirik kearah Aurina yang berdiri di tangga dengan Nathan.


"iya aku yang membuatnya buta, harusnya aku memberikan mataku saja waktu itu." ucap Airella, gadis itu pun pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.


"Ai... " panggil Aurina, ia bisa merasakan Airella sedang tidak baik baik saja. Azriel pun menyesal mengatakan hal itu, tidak disangka mulutnya bisa mengeluarkan perkataan yang menyakiti perasaan saudarinya sendiri.

__ADS_1


"Aurina diam disini dengan Nathan, jangan pergi kemanapun. " Azriel pergi dari sana, entah kenapa keduanya seperti itu. datang hanya ingin ribut, dan menginfokan kalau Alexander telah pergi.


__ADS_2