Obsesi Cinta Mafia

Obsesi Cinta Mafia
Makam sang Adik.


__ADS_3

"aku membencimu Alzio, semua orang membanggakan mu tapi tidak denganku. hanya penghinaan yang ada pada diriku, maka musuh terbesarku adalah kau!"


Alzio berdiri didepan makam sang adik, Alzio tidak pernah berpikir pria itu musuhnya hanya saja sebagai ancaman besar untuk kehidupannya. tidak disangka pria itu akan berakhir ditangannya sendiri, padahal Alzio selalu mengampuni kesalahan pria itu tanpa ingin membunuh. Alvion selama ini merugikannya, bahkan kematian pria itu membuatnya sedih karena kehilangan seorang adik kandung satu satunya.


"tenanglah Alzio, masih ada kami yang menjadi keluargamu." ucap Gavin yang ikut hadir, Alzio menganggukkan kepalanya. karena memang ia tidak pernah sendiri selama ini, meskipun tanpa Alvion ia memiliki banyak teman dan sahabat yang menjadi keluarganya.


setelah dari makam sang adik, Alzio kembali kerumah sakit untuk menjenguk sang istri. Krystal masih tidak sadarkan diri setelah tembakan yang terjadi padanya, sungguh disesali oleh Alzio. istri yang dicintainya sedang mengandung benihnya, tapi benih itu hilang akibat tembakan yang dilakukan Alvion pada Krystal. saat ini Krystal masih terpejam, wajahnya pucat pasi akibat kehabisan darah.


"milik Alvion bagaimana? " tanya Darius, Alzio menoleh kemudian menghela nafas.


"aku sudah mengurusnya, ada seseorang yang akan meneruskannya! " saut Alzio, Darius mengangguk untuk hal itu. "Natalia bagaimana? "


"dia baru saja sadar, luka tusukan itu sangat dalam jadi dia tidak bisa bergerak sembarangan." jelas Darius, keduanya sama memiliki luka luar yang harus diperban. tubuh Alzio masih terlihat memar, dan juga perban membalut beberapa lukanya yang masih basah.


beberapa saat kemudian Krystal menggerakkan jarinya, Darius yang melihat itu segera pergi untuk mencari Antonio. Alzio dengan sigap kearah Krystal, memperhatikan istrinya dengan seksama.


"Alzio... " ucap Krystal, Alzio tersenyum kemudian mencium kening Krystal dengan lembut.


"aku bahagia kau sudah bangun, Terima kasih sudah siuman... " ucap Alzio lirih, Krystal memejamkan mata dan merasakan perutnya yang nyeri.


"aku belum katakan padamu, aku sedang hamil dan tembakan itu... "

__ADS_1


"kau sudah tahu kalau hamil?" ucap Alzio, Krystal mengangguk kemudian memegang perutnya. "sayang... janinmu masih sangat lemah, dan kita kehilangannya... " ucap Alzio lirih, tangis Krystal langsung meledak. itu sudah ia pikirkan sejak awal, ia menangis dalam pelukan Alzio. "maafkan aku... aku tidak bisa melindungi nya.. "


"tidak Alzio, kau lebih penting dari apapun. aku senang kau baik baik saja, kita... kita akan kembali seperti dulu... " ucap Krystal menangis, Alzio tersenyum kemudian mengangguk.


"pasti, aku akan menjagamu lebih baik setelah ini... " Alzio memeluk Krystal dengan erat, gadis itu menangis dengan memegang perutnya sendiri. rasa menyesal pasti ada, tapi ia tidak menyesal karena suami dan dirinya selamat dan insiden itu berakhir. masalah dengan kehamilannya, semoga dirinya bisa menebus hal itu dan memberikan kabar baik lagi untuk Alzio.


"ehem... apa sudah selesai tuan dan nyonya, saya harus memeriksa keadaan nyonya Gilbert.. " ucap Antonio, Krystal tertawa kecil dengan itu kemudian Antonio mulai memeriksa keadaannya.


"apa ada luka serius? " tanya Alzio, Antonio menggelengkan kepalanya.


"tidak ada, untung saja peluru itu tidak menembus ginjalnya. tapi kalian harus berterima kasih pada janin yang ada diperut nya, janin itu menyelamatkan Krystal dengan peluru yang bersarang di janin itu. " ucap Antonio, Krystal yang mendengar itu langsung sedih tapi kemudian Alzio tersenyum mengusap perut Krystal.


"jangan sedih, dia akan selalu bahagia nantinya karena sudah menyelamatkan ibunya... " ucap Alzio, Krystal mengangguk untuk mengiyakan hal itu.


"Alzio boleh aku bertanya?" ucap Krystal saat duduk dikasur bersama Alzio, pria itu mengangguk dengan membelai rambut sang istri.


"tanyakan sesuka hatimu!"


"bagaimana dengan adikmu, em... maksudku, Alvion? " tanya Krystal ragu, Alzio menghentikan usapan tangannya kemudian Krystal menoleh kearah pria itu yang tiba tiba diam. "maaf, tidak perlu dijawab." ucap Krystal, ia memeluk Alzio dengan erat sampai Alzio tersenyum. membawa tengkuh Krystal mendekat, dan akhirnya bibirnya mencium bibir Krystal yang sudah ia rindukan. hanyut dalam ciuman, sampai ia menghentikannya dan mengusap bibir ranum Krystal yang merah basah akibat ulahnya.


"kenapa minta maaf, bibir ini tidak boleh mengucapkan kata maaf didepanku apapun alasannya. dia sudah berada ditempat yang seharusnya, kau jangan khawatir. " ucap Alzio, Krystal pun mengangguk dan tidak berani mengatakan apapun lagi.

__ADS_1


"Alzio, aku merindukanmu, sangat merindukanmu..." ucap Krystal semakin erat memeluk Alzio, pria itu menahan tubuh Krystal yang semakin menempel padanya.


"aku tidak bisa melakukannya sayang, lukamu belum kering... aku tidak ingin menyakitimu, sekarang istirahat lah jangan menggodaku... " ucap Alzio, Krystal tertawa pelan kemudian mengangguk. ia memilih untuk memeluk Alzio dengan santai, ia ingin tidur didalam pelukan Alzio. rasanya sangat berbeda saat Albion yang ia peluk, berbeda dengan Alzio suaminya yang asli dia peluk.


Alzio memeluk sang istri dengan nyaman, ia pun sama ingin memeluk Krystal dengan erat. memejamkan mata merasakan nyenyak nya Krystal tidur, ia memegang perut sang istri yang terluka. hampir saja ia diberikan keturunan, tapi tidak perlu disesali karena keselamatan sang istri adalah yang paling utama baginya.


...****************...


Natalia yang terluka akibat pisau tertusuk perutnya, membuat sobekan besar dan memar. ia duduk didalam kamarnya, ia menatap sebuah bingkai foto kecil. disana tercetak gambar dirinya dan juga Alzio, lebih tepatnya Alvion semasa muda. pria itu menjadi cinta pertama Natalia, tapi sekarang membuat dirinya terluka. Natalia tidak terlukterluka di bagian perut saja melainkan juga dihatinya, orang yang menjadi cinta pertamanya kini sudah tiada untuk selamanya.


"aku senang kau sudah tiada, karena tidak ada ancaman lagi untuk Alzio dan Krystal. " ucap Natalia, ia mengelap air matanya kemudian berpikir Alvion bahkan tega melukainya separah itu dan tidak peduli dengan lukanya. Darius yang melihat kamar Natalia terbuka, ia mengintip gadis itu yang masih duduk dihadapan cermin rias. Darius sangat paham bagaimana Natalia dengan Alvion, ia tahu pasti gadis itu terluka dan juga kecewa.


"apa kau juga akan ke akhirat? " ucap Darius duduk dikasur, Natalia menoleh kemudian membuang muka dengan menghapus air matanya.


"kau saja pergi ke akhirat. " kesal Natalia, ia menyimpan kembali bingkai foto dalam lacinya. Natalia berdiri dengan sebuah tongkat yang menyangga tubuhnya, Darius yang melihat itu berusaha membantu gadis itu.


"mau kemana, akan kubantu. " ucap Darius, Natalia mengangguk kemudian mengarah kearah kasur karena dirinya harus istirahat.


"bagaimana lukamu, apa sudah baikan? " tanya Natalia, Darius tersenyum kemudian mengangguk.


"tenang saja, aku sehat dari perkiraan." ucap Darius, Natalia pun terbaring dikasur atas bantuan Darius. pria itu terdiam menatap Natalia, begitu juga dengan Natalia yang menatapnya. keduanya saling melihat, sampai Darius berdehem pelan. "apa kau masih mencintainya? " tanya Darius pelan, Natalia mendengar itu tapi terdiam. "aku akan pergi sekarang, istirahatlah!"

__ADS_1


"dia cinta pertama ku, terkadang cinta pertama itu selalu gagal." saut Natalia, Darius pun tersenyum.


"kau benar, cinta pertamaku juga gagal. "


__ADS_2