
Alzio masih lemah tidak berdaya, anak buah Alvion sedikit takut pada pria itu tapi tetap menjaga Alzio sesuai perintah. Alzio hanya diam, ia menurut apa yang mereka katakan. bahkan pria itu tidak makan ataupun minum selama beberapa hari, tidak ada kekuatan untuk marah ataupun berrindak yang lain.
"berikan air... " ucap Alzio serak, beberapa anak buah disana saling melihat. mereka menatap Alzio, kemudian saling mengangguk.
"berikan dia air... "
"tidak, kau saja! " saut yang lain, kedua anak buah itu menolak karena merasa takut dengan wajah Alzio.
"berikan aku air, jika aku mati... nyawa kalian juga akan mati... " saut Alzio kemudian, para anak buah itu terkejut. dengan tangan gemetar mereka berjalan, memberikan air pada Alzio dan langsung diteguk habis.
"apa kau ingin nambah tuan? " ucap anak buah itu, Alzio langsung menatap tajam anak buah itu kemudian mengangguk.
"kenapa kalian tidak memukulku, bukankah kau diperintahkan untuk memukulku sampai tidak sadar. " ucap Alzio, kedua anak buah itu menggelengkan kepalanya.
"itu.. itu bukan tugas kami, kami hanya ditugaskan untuk berjaga keamanan disini. " saut salah satu dari mereka, tiba tiba muncul beberapa orang dari belakang. memakai pakaian hitam, kemudian memegang suntikan yang akan disuntikan pada Alzio. pria itu langsung mengeratkan rahangnya menahan marah, sedetik kemudian suara lolongan keluar dari mulut Alzio.
"berhenti menyuntiknya, ini sangat... menyakitkan!" teriak Alzio, tapi teriakan itu diabaikan oleh semua orang. sampai selesai Alzio tetap memberontak, dan berakhir lemas semakin tidak ada tenaga. bahkan perlahan kesadarannya hilang, sampai detik berikutnya matanya tertutup tidak sadarkan diri.
dilain tempat Darius berkumpul dengan beberapa temannya, biasanya ia akan bersama Alzio. tapi kali ini tidak ada Alzio disana, karena Alzio sibuk sendiri yang tidak pernah mengabari kemana pria itu akan pergi. Darius masih kesal dengan perkataan Alzio, masih terngiang di kepalanya.
"hei bro ada apa denganmu, kau seperti seorang gadis yang ditinggalkan kekasihmu bulan madu? " ucap Gavin, hal itu membuat semua orang tertawa karena melihat wajah kesal Darius.
__ADS_1
"betah sekali Alzio berada di Perancis, bukankah itu negara yang selalu ia hindari. "
"kan apapun permintaan istrinya akan dituruti, dia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya demi menemani istri kecilnya! " gelak tawa mereka terdengar, hanya Darius yang tampak berpikir dan mencerna perkataan semua orang.
"Dion apa kau ada catatan GPS kita? " tanya Darius tiba tiba, Dion menoleh dan mengangguk. ia membuka ponselnya, menunjukkan jejak digital GPS yang terpasang pada mereka termasuk Alzio. benda kecil dan pipih itu menampilkan titik GPS mereka, disana terletak GPS Krystal dan juga Natalia yang termasuk dalam golongan mereka.
"kenapa? " tanya Gavin, kelima orang itu memperhatikan GPS dilayar benda pipih milik Dion. "eh tunggu, Krystal ada dimana ini jauh sekali. apa mereka bertengkar, wah memang bumbu pernikahan itu keributan! " hal itu menjadi candaan Gavin, tapi tidak dengan Darius. Darius langsung pergi dari sana, meninggalkan mereka tanpa peduli panggilan mereka. mereka mau tidak mau mengikuti Darius, karena apapun masalahnya semua harus tahu.
Darius mendobrak pintu besar disana setelah sampai, ia melihat seluruh ruangan mansion tapi tidak ada keberadaan Alzio. tidak sendiri melainkan semua ikut bersamanya, mereka juga belum paham apa yang terjadi dengan Alzio.
"Alvion keluar, Alvion kau dimana! " teriakan itu menggema didalam mansion, keempat orang terkejut dengan rahang keras karena mendengar nama Alvion. Natalia mendengar suara Darius, ia melangkah keluar dari kamar berlari kearah Darius. membuat pria itu terkejut, melihat Natalia yang jarang menangis berlari kearahnya menangis. "ada apa denganmu? " tanya Darius, Natalia akan membuka mulut tapi mengingat suara Alvion mengancamnya.
"jangan berpura pura, kau bukan Alzio tapi kau Alvion! " suara Darius menyentak, Alvion membalas pukulan dengan keras.
"apa yang kau katakan bodoh, ini aku! " ucap Alvion, saat Darius akan melayangkan pukulan tiba tiba Dion berlari menahan Darius. mata Darius jelas terlihat gelap, ia dalam keadaan marah.
"Darius apa yang kau lakukan, tidak mungkin dia Alvion! "
"lihat GPS mu, posisi Alzio tidak ada dirumah ini! " Darius berteriak dengan keras, Dion menunjukkan benda pipih nya. Darius terdiam saat GPS itu berada di titik yang sama dengan mereka, bahkan GPS itu menyala dengan menunjukkan lampu berwarna hijau.
"kenapa kau mengira aku Alvion, aku bahkan tidak bertemu dengannya di Perancis. aku akan pergi membawa Krystal, kau malah menghalangi jalan dengan berkata tidak penting! " saut Alvion, Darius yang salah sangka itu menghela nafas kasar.
__ADS_1
"lalu kenapa Natalia menangis, kalian hanya berdua dirumah ini. apa yang kau lakukan padanya, Natalia katakan sesuatu! " ucap Darius sedikit keras, Natalia melihat Alvion yang menatapnya kemudian menggelengkan kepalanya.
"aku.. hanya rindu pada Krystal, Alzio jemput dia dan bawa dia kemari... " saut Natalia, wajah Darius seketika teduh. ia menoleh kearah Alvion, mulutnya hendak bersuara tapi Alvion menepuk pundak pria itu.
"kumaafkan, tenang saja! " ucapnya, Alvion pun pergi dari sana. Darius masih tidak percaya pria itu Alzio, ia menatap Natalia dan gadis itu mengalihkan pandangannya kearah lain.
"heyoo ketegangan apa ini, sijudes Natalia jangan menangis itu tidak cocok denganmu... " ucap Gavin, Natalia mengangguk kemudian menatap Darius. terlihat jelas gadis itu ingin bicara, tapi tidak bisa bicara dan Darius paham akan hal itu.
larut malam Alvion kembali kerumah niatnya diurungkan yang akan bertemu Krystal. bagaimana mencari wanita itu, ia tidak tahu rumah Robert dan hanya berputar putar dijalanan. ia berjalan menuju ruang bawah tanah, disana sudah ada Alzio yang tidak sadarkan diri. ia bertindak cepat dengan membawa Alzio kembali ke rumah itu, karena ia baru ingat orang seperti Alzio pasti memiliki GPS di tubuhnya. benar dugaannya, Darius langsung mengetahui hal itu dan meneriaki namanya begitu lantang.
"tidak akan ada yang tahu siapa aku, karena kau ada disini. dirumahmu sendiri, ditempat kau membuat ruang bawah tanah rahasia. dasar lemah, kau berteman dengan pria lemah! " ucap Alvion, ia merasa puas melihat kembarannya tidak sadarkan diri dan merasa lemah.
diwaktu yang sama Krystal kembali ke rumah itu, ia tidak bisa jika meninggalkan Alzio terlalu lama. secara bersamaan Alvion keluar dari arah dapur, matanya terkejut melihat Krystal entah kenapa hatinya merasa tenang. langkahnya tegap menuju Krystal, menarik wanita itu kedalam pelukannya. Krystal yang tidak melihat keberadaan Alvion pun terkejut, tubuhnya menegang saat Alvion memeluknya.
"kau dari mana saja, aku mencarimu kemana pun." ucap Alvion, Krystal terkejut perubahan itu lagi. beberapa saat Alzio sangat kasar, tapi sekarang Alzio bicara lembut padanya beda dari sebelumnya. "apa kau bisu?" ucap Alvion, Krystal menggelengkan kepalanya.
"kenapa kau terus berubah ubah, kau bahkan tidak mengatakan maaf padaku. " ucap Krystal, Alvion tersenyum kemudian menangkup wajah Krystal yang imut.
"aku mencarimu untuk minta maaf, kenapa kau pergi tanpa pamit dan aku tidak bisa mencarimu. tapi sekarang kau sudah disini, maafkan aku kemarin dan kejadian pagi tadi! " saut Alvion, Krystal yang tidak terlalu marah pun mengangguk. dipeluknya tubuh Alvion, membuat Alvion sedikit terdiam padahal tadi dirinya memeluk wanita itu. tapi memiliki rasa berbeda, ada rasa lain saat Krystal memeluknya secara tiba tiba.
"jangan seperti itu lagi, aku tidak suka!"
__ADS_1