Obsesi Cinta Mafia

Obsesi Cinta Mafia
Masalah berakhir.


__ADS_3

Antonio membawa Natalia ke rumahnya, benar saja rumah besar itu pertama kalinya Natalia tahu. cukup besar, tapi tidak sebesar rumah Alzio. Antonio memang orang yang sederhana, ia lebih suka terlihat sederhana dari pada terlihat mewah. rumahnya bahkan tidak segelap Alzio, dikelilingnya masih terdapat beberapa rumah yang sebesar rumahnya. Antonio membawa Natalia masuk, pelayan langsung datang dengan cepat membantu keperluan Antonio dan juga seorang tamu yang tidak pernah mereka temui.


"berikan aku satu set pakaian wanita, dan bantu dia untuk mengganti pakaian. " semua pelayan mengangguk, Natalia mengikuti arah pelayan yang menuntunnya. Antonio pun berjalan kearah kamarnya, ia juga ingin menyegarkan tubuh karena lelah bekerja seharian.


beberapa menit kemudian mereka sampai di ruang makan rumah itu, sudah terlihat segar masing masing. Antonio mengakui kecantikan Natalia, tapi ia tidak memiliki perasaan lebih pada gadis itu. ia hanya mengenal Natalia sebagai teman Alzio yang sudah dianggap sebagai saudari sendiri, itu artinya Natalia sudah seperti saudarinya juga.


"apa sudah tenang sekarang?" ucap Antonio, Natalia tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih. " ucap Natalia, Antonio memberikan minuman untuk Natalia.


"ini akan menghangatkan tubuhmu, tapi jangan terlalu banyak. " Natalia mengangguk dan meminumnya dengan sekali teguk, Antonio awalnya terkejut tapi kemudian diam. ia membiarkan Natalia melakukan hal yang ia mau, sudah diperingatkan jangan terlalu banyak tapi Natalia tanpa sadar terus meneguk minuman itu.


"hm.. sepertinya terlalu banyak aku minum, apa tidak masalah?" ucapnya, Antonio tersenyum dengan itu.


"aku punya banyak, tapi jika kau ingin nambah tidak akan kuberikan. " Natalia terdiam dengan itu, gadis itu melamun dengan memegang gelas ditangannya. gadis itu kehilangan kesadarannya, karena minuman yang diminum nya adalah minuman keras yang biasa diminum oleh Alzio dan juga teman temanya.


"apa kau punya masalah dengan Darius? "


"tidak ada, kami sudah menyelesaikannya. tapi dia ingin pergi dari rumah itu, Alzio marah besar dan aku berpikir itu karena kesalahanku. aku tidak bisa menerima perasaannya, itu membuatnya menderita. "


"kenapa kau tidak bisa menerima perasaannya, kalian kan dari kecil bersama tahu perasaan masing. aku tahu Darius adalah pria yang suka bermain wanita, tapi jika sudah satu wanita ia pilih itu pasti akan ia kejar hingga mati pun. sekarang apa permasalahan nya padamu, bahkan Alvion yang kau sukai itu sudah tiada dia sudah menyakitimu sejak dulu. lalu apa lagi, juga tidak ada pria yang mendekatimu karena takut pada Alzio. "


"ada satu hal yang tidak bisa aku bicarakan, dan itu membuatku menderita sejak dulu. " saut Natalia, Antonio tidak mengerti dengan itu. ia menahan gelas yaang terus dituangkan, sampai Antonio membuang gelas ditangan Natalia. "kenapa denganmu, aku baik baik saja. "


"cukup jangan minum lagi, pelayan ambilkan air untuknya... "

__ADS_1


"loh tidak, aku ingin minum saja. tadi aku berniat ke bar untuk minum, tapi bertemu dirimu. " ucapnya, Natalia menuangkan minuman itu di gelas baru. Antonio merasa menyesal, ia pun menghungi seseorang yang bisa dihubungi.


"gadis itu juga bisa liar, terlalu bahaya jika seperti ini aku akan menghubungi Darius."


saat sedang fokus dengan ponselnya, tiba tiba terdengar suara Natalia menangis. Antonio terkejut dengan itu, apalagi melihat Natalia yang meringkuk dibawah meja. Antonio langsung berjalan cepat, menggendong tubuh kecil itu keatas sofa.


"kenapa kau menjadi gila, kenapa juga aku memberimu minuman itu... " gumamnya, Natalia menangis meringkuk diatas sofa.


"dia tidak tulus padaku, dia menemui banyak wanita cantik kenapa harus memilihku. aku tidak pantas bersamanya, dia tidak menyentuh wanita sembarang sedangkan aku... "


"kata siapa kau wanita sembarangan! " suara itu menggema ditelinga, terlihat Darius berdiri diambang pintu. Darius melacark GPS yang ada pada Natalia, tentu saja sudah tahu letaknya sebelum Antonio menghubunginya. Antoni pun berdiri menjauh, Darius mengangguk dengan melihat Antonio.


"kau, Antonio kenapa kau memberitahu Darius." ucap Natalia, tubuhnya oleh tapi langsung didekap oleh Darius.


"Terima kasih sudah membawanya dan juga menghubungi ku, aku akan membawanya pulang sekarang."


"lepaskan aku Darius, aku bisa jalan sendiri. " ucap Natalia, Darius terdiam memasukkan gadis itu kedalam mobil. ia mengendarai mobil dengan kecepetan maksimal, tubuh Natalia terus berontak didalam mobil bahkan mengigit lengan Darius tanpa di lepas.


setengah jam sampai dirumah Alzio, Darius tetap membawa Natalia diatas bahunya. membawa manusia seakan membawa sebuah karung, tidak memperdulikan teriakan Natalia yang ingin diturunkan. Krystal Alzio melihat itu , saat akan menghampiri mereka Alzio menarik tangan Krystal dan menggelengkan kepalanya.


"biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka, kita fokus pada anak anak kita saja." ucap Alzio, Krystal pun tersenyum dan mengangguk.


Darius membawa Krystal ke kamar nya, membawa ke kamar mandi dan mengguyur gadis itu dengan air dingin. tidak peduli dirinya yang ikut basah, ia memegang Natalia agar tetap dalam guyuran air shower yang dingin. Natalia memberontak tapi kemudian menatap Darius, tubuh keduanya sangat dekat karena Darius mendekap tubuh mungil itu.


"belum sadar, kurang dingin? " ucap Darius, Natalia menggelengkan kepalanya. bibirnya sudah gemetar, giginya terdengar saling bertatapan karena kerasnya gemetar karena kedinginan. Darius mematikan air shower itu, meraih handuk disana dan langsung menggendong tubuh Natalia yang terbalut handuk. Natalia didudukan disofa empuk, Darius menurunkan suhu kamarnya agar menjadi hangat.

__ADS_1


"apa... kkaauu.. gilaa.. iniii... sangattt.. dingin... " ucap Natalia dengan gemetar, Darius terdiam dengan menatap gadis itu lekat lekat. meskipun kesadarannya tidak kembali normal, tapi Natalia sudah setengah sadar.


"satu hal apa yang tidak bisa dibicarakan, katakan padaku... " Natalia terkejut, ia ingat mengatakan itu pada Antonio dan pria itu sampaikan pada Darius. "dan siapa yang mengatakan kau wanita sembarangan, malah kau adalah wanita yang tidak bisa kusentuh sedikitpun."


"aku sudah kesentuh orang lain meskipun tidak kau sentuh! " teriak Natalia, Darius terkejut dengan itu. "aku sudah disentuh, disentuh Darius... "


"siapa yang menyentuhmu, katakan padaku. aku akan memberikannya hukuman, sebutkan namanya maka dia tidak akan terlihat lagi besok!" ucap Darius mencengkram kedua pundak Natalia, pandangan itu terlihat marah dan siap membunuh siapapun jika satu nama sudah terucap. Natalia menangis tanpa perduli dirinya yang lemah saat ini, tubuhnya merosot dilantai dengan tangisan ketakutan dengan Darius yang membentak nya. padahal tempo hari dirinya berteriak pada pria itu, tersulut emosinya yang tidak terkendali.


"dia yang membuat lukaku sudah tiada, tapi lukaku masih ada hingga sekarang... " Darius mendirikan Natalia, menatap wajah sendu gadis itu dan perlahan didudukan nya dengan benar. diberikan air minum agar tenang, Natalia masih terisa tangisan yang belum selesai.


"Alvion? " ucap Darius, Natalia menatap Darius dan mengangguk pelan. Darius mengeratkan tangannya, ia geram pada orang yang sudah tiada.


"dia menyentuhku ketika belum ada pertengkaran antara Alzio dan dirinya, dia menjadi malam yang tidak terlupakan olehku. saat pagi dia sudah tidak ada, dan melakukan penyerangan pada kalian. aku tidak bisa mengatakan apapun tentang itu, padamu atau pada Alzio. aku takut Alzio akan melakukan tindakan, karena posisinya mereka masih sedarah meskipun tidak akur... "


"apa ini alasan kau menolakku begitu saja? " saut Darius dengan cepat, Natalia mendongak menatap Darius kemudian mengusap air matanya.


"mungkin bukan hanya kau yang akan kutolak, semua orang yang berusaha dekat denganku pasti akan kutolak dengan alasan apapun. aku bukan wanita yang baik, aku sangat buruk. " Natalia pun beranjak dari duduknya, tapi didekap langsung oleh Darius. dipeluk nya sangat erat, Darius tidak suka dengan ucapan gadis itu.


"kau tidak buruk, semua orang pernah punya masalalu. jangan katakan itu lagi, itu menyakiti aku . " ucap Darius, Natalia langsung meneteskan air matanya. ia memegang kedua lengan Darius yang membekapnya, semakin erat keduanya saling memeluk. "katakan padaku, apa kau tidak punya perasaan untukku? "


"sudah kukatakan waktu itu.. "


"tidak katakan sekarang, katakan kebenarannya bagaimana. aku tidak peduli kau orang seperti apa, meskipun kau harus cacat sekalipun aku tidak peduli, aku sangat mencintaimu Natalia, kau wanita yang terbaik untuk siapapun terutama untukku. katakan sekali saja, apa kau memiliki perasaan padaku sebelumnya.? " Natalia terdiam, sampai Darius membawa wanita itu menghadapnya. rahasia besar sudah diungkap, dan Darius masih memohon padanya. Darius memegang tengkuk Natalia, ingin mencium bibir gadis itu tapi tidak memiliki keberanian.


"buat aku memahami nya Darius, karena aku tidak paham dengan perasaanku sendiri. " ucap Natalia dengan berbisik, sedetik kemudian Darius membawa Natalia kedalam pelukannya mencium bibirnya tanpa ingin berhenti. awalnya Natalia terdiam dengan itu, tapi perlahan ia membalas apa yang dilakukan Darius padanya. Darius menahan dirinya, melepas ciuman itu dan menatap Natalia yang memejamkan mata dengan bibir basah akibat ulahnya.

__ADS_1


"jika diteruskan aku tidak akan bisa berhenti, tapi caraku agar kau memahami nya hanya dengan sentuhan ini. " ucap Darius menyentuh pinggang Natalia, bukannya menolak Natalia semakin maju mengeratkan tubuhnya pada Darius. "jika ini berlanjut, aku pastikan kau tidak akan bisa lepas dariku Natalia. tidak peduli kau akan marah atau membenciku besok, malam ini kau menjadi milik ku. " ucap Darius mengancam, Natalia yang setengah sadar pun malah mengecup bibir Darius. diberi celah membuat Darius semangat, ia membalas kecupan itu menjadi ciuman panas. Darius membawa Natalia kearah kasur, dan mematikan lampu yang menyala disana. berakhir sudah masalah mereka di malam yang masih panjang itu, tentang esok pagi tidak tahu apa yang akan terjadi.


__ADS_2