
mereka berdua sampai di sebuah hotel, Xavier menyeret Airella turun dari mobil. membawa gadis itu memasuki lift, sampai anak buahnya membawa kekamar yang sudah dipesan. Xavier dengan kasar membanting tubuh Airella, gadis itu terkejut kemudian menjauh agar tidak didekati Xavier. pria itu menarik kaki Airella, dicengkram kuat dagu Airella karena sudah dendam pada gadis itu.
"katakan siapa yang menyuruhmu? " tegas Xavier, Airella tidak menjawab hanya membuang mukanya. "katakan padaku siapa yang menyuruhmu, atau kau akan kuberi pelajaran disini... " Airella terkejut dengan itu, dihotel itu hanya ada mereka berdua. kaki Airella menendang kaki Xavier, tapi pria itu sudah ancang ancang dan menarik kaki Airella keatas.
"br*ngsek apa maumu, lepaskan aku! " teriak Airella, Xavier memutar tubuh Airella ia mengunci tangan Airella dari belakang.
"kau sudah menipuku, aku ingin pabrik itu kembali padaku. "
"aku sudah menjualnya, aku tidak tahu dimana orang yang membelinya! " ucap Airella, ia sengaja berbohong untuk menutupi rencana miliknya. tentu saja Xavier tidak akan percaya, ia semakin mengeratkan cengkraman tangan itu.
"baiklah aku akan membuatmu bicara sendiri! " ucap Xavier, ia mengambil minuman beralkohol diatas meja. tanpa belas kasih ia menuangkan minuman itu kemulut Airella, tanpa henti dan membiarkan Airella terbatuk karena dipaksa minum.
"kurang ajar, uhuk uhuk apa yang kau lakukan! " teriak Airella, gadis itu tidak bisa berkutik tenaganya habis untuk memberontak. tubuhnya melemas, ambruk pada tubuh Xavier yang lebih tinggi darinya. "aku tidak tahu, hanya disuruh.. " ucap Airella, kalau kalian tahu gadis itu sedang berpura pura tidak berdaya. meyakinkan Xavier agar percaya padanya, sedetik kemudian Xavier menggendong tubuh Airella dan meletakkan gadis itu diatas kasur.
"gadis murahan! " satu tamparan mendarat pada pipi Xavier, terlihat Airella melancarkan pandangan marah. Xavier tersenyum tipis, ia tahu Airella hanya berpura pura lemah. bahkan tamparan itu sangat kuat, membuat pipinya terasa nyeri.
"bukan kesalahanku melakukan itu, mau lah yang salah memiliki musuh! " ucap Airella, Xavier mengunci Airella yang ada dibawah kungkungan nya. Xavier menatap Airella yang berwajah cantik, selama mereka bicara tidak sekalipun dia memperhatikan wajah itu. tangan Xavier terulur menyentuh pipi Airella, sedetik kemudian mencengkram pipi Airella.
"karena itu aku bertanya, siapa yang menyuruhmu! "
__ADS_1
"aku tidak akan mengkhianati siapapun, jika disuruh maka akan kulakukan! " saut Airella, Xavier pun tidak bisa menyalahkan itu. ia membenarkan ucapan Airella, pria itu pun mendudukan dirinya mebebaskan tubuh Airella.
"jadi kau wanita bayaran? " hampir saja Airella kesal, tapi ia sembunyikan kekesalan itu dan memilih mengangguk. "berapa hargamu sekali bertindak? " tanya Xavier tiba tiba, Airella menoleh kemudian menatap Xavier dari atas hingga kebawah.
"pertama kau membawaku hotel dan berakhir kau sangat rugi, kedua kau membawaku ke hotel lagi. apa kau tidak takut jika mendapat kerugian yang kedua, lagi pula harga ku sangat mahal. " ucap Airella, gadis itu asal bicara karena masih mengikuti permainan Xavier yang terus mendesaknya bicara.
"aku akan membayarmu berapapun, tapi kau harus bekerja untukku. " ucap Xavier, pernyataan tidak sopan menurut Airella. Xavier tidak tahu Airella adalah putri Alzio, dan juga kakak dari gadis buta yang ia tolong.
"jangan menyuruhku dengan hal kotor, berapapun bayarannya aku tidak akan setuju! " Xavier mendirikan tubuhnya, ia merapikan jasnya kembali dengan rapi. berjalan menuju jendela kamar hotel, Airella sendiri merapikan gaunnya dan menunggu pria itu bicara.
"aku mencari seseorang yang membunuh kakakku, dia seorang wanita yang tidak dikenali identitas nya. karena kau seorang wanita, mungkin kau bisa mencari pembunuh kakakku dan aku ingin membalaskan dendam untuknya... " penjelasan itu membuat Airella terkejut, wanita yang dicari Xavier adalah dirinya. jika pria itu tahu sekarang, mungkin nyawanya tidak akan selamat tanpa perlindungan dari Azriel. "karena itu aku akan membayarmu berapapun, tapi cari tahu siapa wanita yang sudah membunuh kakakku! " saut Xavier lagi, Airella membuang wajahnya kearah lain.
"aku akan bayar pekerjaan lain itu, dua kali lipat dari pekerjaanmu. jangan terburu buru membuat keputusan, pikirkan dulu. jika kau membantuku, aku tidak akan meminta pabrik senjata itu lagi. jika tidak, maka kembalikan pabrik itu atau kau akan kubunuh. " ucap Xavier, Airella melepaskan tubuhnya dari kuncian tubuh Xavier. "pikirkan, kita akan bertemu lagi besok disini. " setelah mengatakan itu Xavier pergi dari sana, menutup pintu dan mengunci pintu meninggalkan Airella yang masih ada didalam.
"woi br*ngsek kenapa kau mengunci ku, biarkan aku keluar. aku ingin pergi, buka pintunya! " teriak Airella, pastinya tidak terdengar oleh Xavier yang sudah pergi dari sana.
"tuan membiarkannya hingga besok? " tanya pria bernama Rafli, sekaligus orang kepercayaan Xavier.
"kita akan kembali kesini besok, lihat dia pilih yang mana. " ucap Xavier, pria itu pergi dari sana dan menghilang dibalik lift.
__ADS_1
Airella lelah menggedor pintu, kepalanya sangat pusing. tentu saja itu efek minuman yang dipaksa minum oleh Xavier, untung saja dirinya tidak kehilangan kendali. Airella memang kuat dalam hal minum, biasanya dia menikmati minuman bersama Azriel jika ada waktu senggang.
"aku harus menghubungi Azriel, jika aku tidak terlihat di rumah utama bisa habis riwayat ku!" Airella menekan panggilan pada kontak nama Brother, sedetik dua detik tiga detik panggilan pun dijawab oleh Azriel.
"kau dimana, kenapa baru menghubungiku? "
"Azriel aku bertemu Xavier, dia menangkapku di sebuah hotel. aku tidak membawa penjagaan, dia langsung membawaku begitu saja dengan paksa."
"dimana kau sekarang, gpsmu tidak aktif! " suara Azriel terdengar terkejut, bagaimana tidak saudarinya itu dibawa pergi tanpa dirinya tahu lokasinya dimana.
"aku tidak tahu ini dimana, identitas hotelnya dibersihkan oleh b*jingan itu! " kesal Airella, nampak Azriel memikirkan cara dengan meminta Nathan mencari lokasi ponsel Airella. "dia meminta aku mencari pembunuh kakaknya, dia akan membayar ku berapapun. dan pabrik senjata itu tidak akan dimintanya, jika aku menolak dia meminta pabrik senjata itu dan mengancam membunuhku! "
"maka turuti saja dia! "
"turuti kepalamu, kau lupa yang membunuh Alexander itu aku. kau juga terlibat, dia juga tidak tahu siapa aku dan memiliki hubungan apa aku dengan Daddy
" jika dia memintamu mencarinya maka lakukan, dia tidak akan menemukan siapa pembunuhnya jika si pembunuh itu yang mencarinya. apa kau sudah bodoh, pikirkan itu dan aku akan memikirkan perlindungan mu!"
Airella termenung setelah panggilan Azriel berakhir, kenapa dia tidak berpikir apa yang dikatakan Azriel itu. jika dirinya menerima tawaran itu, maka rahasia nya itu tidak akan terbongkar sampai kapanpun. dirinya hanya perlu berpura pura mencari, dan dia bisa menyamarkan seseorang untuk menjadi tersangka nya.
__ADS_1
"oke tuan Xavier Walker, aku menerima permintaanmu. maka sampai kapanpun kau tidak akan menemukan pembunuh kakakmu, kau meminta bantuan pada orang yang salah! "