
πΊπΊπΊ
"Pinter sekali kamu bisa keluar dengan sogokkan?" ledek Papa Perkasa yang telah bertemu langsung dengan putranya didalam sebuah ruang besuk
"Papa tau? hehehe."
"Jelaslah! orang istrimu kasih tau."
"Udah nggak sabar tuh bobo berdua sama Bulan, ya, kan?" sela Mama Anna tengah menggoda putra tirinya
"Nah, nih Mama pengertian." ucap Guntur
"Dasar! berapa kamu sogok?"
"Sepuluh juta, Pa. dan ponselku masih ditahan karna belum ada uangnya." keluh Guntur
"Aish, kau ini! urusanmu lah itu, rasain deh nggak ada hp lagi."
Guntur berdecak. "Jadi Papa nggak bawa uangnya?"
"Untuk apa? itu kan urusan kamu, jadikan aja hpmu sebagai gantinya."
"Ck! yang benar saja, yang ada aku nggak bisa hubungi istriku lagi." gerutunya
Guntur terlihat sedikit kesal, pria dihadapannya terlalu banyak berbasa-basi sampai tidak berniat ingin membantunya untuk sekali ini saja. ponsel sebagai gantinya? tentu saja tidak bisa. ia tidak akan mampu lagi untuk menghubungi Bulan andai itu terjadi. dan disini--entah sampai kapan ia berada ditempat ini, rasanya sangat sulit jika harus meninggalkan Bulan terlalu lama.
Guntur kembali bangkit dari dalam lamunannya, ia terkesiap melihat amplop coklat yang tampak berisi, ditaruh diatas meja. Papa Perkasa menyodorkannya kepada sang putra.
"Nih, cuma sekali ini aja aku bisa membantumu!"
"Yang benar, Pa? ini uang, kan?" matanya berbinar-binar, langsung ia buka amplop tersebut
"Kertas! tentu saja uang." ketus Papa
"Jangan emosian, Pa, ingat jantung! rindu kali penyakitnya kambuh." peringat Guntur kemudian bergumam
"Hmm ... jangan lakukan itu lagi, bersabarlah, semoga secepat mungkin kamu keluar dan dinyatakan sembuh." nasihatnya
__ADS_1
"Iya, Pa."
"Apa kegiatan kamu setelah ini?" tanya Mama Anna
"Sebentar lagi mau konseling psikoedukasi." jawabnya, Mama Anna mengangguk paham
"Berartti masih ada waktu untuk kita, Pa." ucap Mama kepada suaminya, pria itu mengangguki
"Mau bertemu Dokter?" tanya Guntur, kedua orang tuanya mengangguk bersamaan
"Yaudah, aku pamit, ya? istirahatku terganggu karna kehadiran kalian." Guntur beranjak bangkit dari duduknya, sedikit tergelak dengan ucapannya
"Bocah kurang ajar! waktu kami lebih terbuang karna menemuimu!" balas Papa Perkasa, pria muda itu malah berlari meninggalkan orang tuanya masih dengan gelak tawa
Mama Anna menggeleng-gelengkan kepala melihatnya, senyum manis pun turut terukir dibibir wanita itu.
"Perkembangannya bagus, dia bisa becanda dan tertawa." Mama tampak salut
"Ohya?" Papa tertegun
"Ya, tapi ada lebih baiknya kita kunjungi Dokternya sekarang." ajak Mama Anna menarik tangan suaminya, pria itu masih enggan berdiri, ia celingak-celinguk melihat keadaan
"Sepi, Sayang, gimana kalau kita--
"Gila! ini bukan ditempat kita, Mas! jangan macam-macam. ayo!"
Bukannya menurut, Papa Perkasa malah menarik kembali tangan istrinya hingga wanita parubaya itu terjatuh dipangkuan suaminya. Papa Perkasa langsung menyambar bibir menggoda yang dilapisi lipstik mate warna kemerahan itu, memagutnya dalam-dalam, ******* lidahnya yang terus bergoyang didalam sana.
"Eeemh, sudah?"
"Nanti kita lanjuti di rumah." bisik sensual Papa Perkasa
Keduanya bangkit berdiri lalu merapikan penampilan yang sedikit berantakan. Papa Perkasa menggandeng tangan sang istri ingin bertandang ke ruang Dokter.
***
Ceklek!
__ADS_1
Pintu ruangan Presdir yang ditempati oleh Bulan seketika dibuka dari luar oleh seseorang, Bulan yang sedang sibuk langsung terperanjat olehnya. untung saja sampai tidak jantungan oleh tingkah seseorang yang melangkah mendekat padanya
Sosok gadis sedikit barbar dan tampil tomboy, sangat berbeda saat mereka bertatap muka pertama kali. bila mana saat itu gadis tersebut tampil feminim dengan tampilan yang cukup terbuka. namun--kini telah berubah, gadis itu mengubah penampilannya menjadi sosok wanita tomboy sejak beberapa bulan yang lalu.
Bulan menghentikan kegiatannya, memandang wanita itu yang langsung menjatuhkan tubuh diatas sofa.
"Aaakh, sampai juga. capek dan panas," ucapnya sembari mengibaskan tubuh dengan tangan mungilnya itu
"Sudah pulang kuliah, Clar?"
"Udah, Kak. Kak, minta minum dong?"
"Mau minum apa? biar Kaka pesanin. coklat dingin, juice atau teh es?"
"Hmmm, es teh deh, tapi lain kali coklat dingin, ya? hehehehe."
"Ashiyaaap! Kaka telpon orang pantry dulu." Bulan langsung menghubungi pihak Pantry untuk memesankan minuman sekaligus cemilan buat adik iparnya
Clara memandang takjub tempat ini, sangat megah, rapi, ellegant dan tentu saja bersih. terlihat jelas segala perabotan didalamnya tampak kinclong tanpa debu sedikit pun. padahal--ia juga sering bertandang ke tempat Kakak iparnya, namun tetap saja rasa takjubnya tidak memudar. Clara bangkit dari duduk, ia berjalan ke arah jendela menatap pemandangan diluar sana. gedung-gedung nan tinggi, ada yang sedikit pendek, ada yang lebih tinggi dan ada pula yang sejajar, ia takjub sampai mata itu tidak berkedip.
"Papa Perkasa bisa ya percaya sama Kakak, padahal Kakak kan cuma menantu."
"Maaf, ya, Kak, bukan bermaksud ... tapi biasanya yang namanya menantu pasti punya rencana jahat untuk merebut harta atau ingin menghancurkannya. tapi Papa nggak memandang itu sama Kakak, ya? salut sih aku."
Bulan mengulum senyum, kemudian ia bangkit berdiri menghampiri adik iparnya.
"Clar, nggak semua menantu kok seperti itu, sebelum Papa menyetujui aku membantu mengurus perusahaannya, beliau pasti sudah menilai sikapku, latar belakang ku terlebih dahulu. dan kita yang dipercayai olehnya, harus menjaga kepercayaan itu dan jangan sampai kita berkhianat padanya."
"Lagi pula ini karena keadaan, kamu lihat kan kemarin? Papa jatuh sakit lagi dan Dokter menyarankan untuk banyak beristirahat. aku yang sudah pernah belajar menangani perusahaan, jadi berniat untuk membantu Papa dan jangan sampai kita mematahkan kepercayaannya."
"Sama halnya dengan kamu dan Mama Anna, Papa pasti sudah memerhatikan kalian dari jauh-jauh hari sebelum memutuskan niatnya."
"Benarkah??" Clara tertegun.
Apa Papa juga tahu, aku dulu peliharaan temannya? batin Clara
πΊπΊπΊ
__ADS_1
Bismillah, semoga malam bisa up π