
πΊπΊπΊ
Bulan dilarikan ke Rumah Sakit terdekat oleh Pak Sopir dan juga Mentari bersama teman-teman lainnya. darah merah bercampur dengan cairan putih, yang diketahui adalah air ketuban, telah pecah dan merembes ke pangkal pahanya
Bulan mengerang menahan sakit yang teramat dahsyat pada pinggul, punggung dan area miliknya. selalu ia lafazkan asma Allah, berharap bayinya akan selamat didalam sana.
"Sakit, Kak."
"Sabar, bentar lagi sampai." ucap Mentari, sembari berlari kecil mengikuti brankar yang ditempati oleh Rembulan
Hingga mereka tiba di ruang IGD, Rembulan langsung ditangani oleh Dokter jaga yang akan menangani kondisi Bulan.
Mentari tampak frustasi, ia mendengus kesal, pasalnya ini adalah malam yang menyenangkan baginya. namun takdir memberinya nasib sial, ia harus menunggu kembarannya yang sedang ditangani.
"Kalian, pergilah, aku nggak apa-apa." usir Mentari kepada dua sahabatnya
"Tapi--" mereka tampak ragu
"Aku nggak apa-apa," tegas Mentari. "Aku harus nelpon Mami." sambungnya sembari merogoh ponsel didalam tas. begitu pula Pak Sopir yang langsung menghubungi Papa Perkasa
Usai menghubungi keluarga terdekat, terdengar decitan pintu yang dibuka dari dalam. bersamaan dengan itu pula brankar yang dikenakan Bulan kembali didorong oleh beberapa perawat. tampak Bulan yang terkapar diatasnya tengah tertidur pulas efek obat bius disuntikkan padanya.
"Dok, gimana dia?" tanya Mentari
"Kita harus lakukan operasi caecar pada kandungannya. cedera pada rahimnya akan berdampak buruk pada janin bila dibiarkan."
"Ya ampun ... lakukan, Dok." Dokter mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju ruang operasi, dengan diikuti oleh Mentari dan Pak Sopir.
***
"Tari, apa yang terjadi!" Mami Vega, baru saja tiba dan langsung menginterogasi putri sulungnya. tampak jelas raut wajah khawatir dan takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada anak dan cucunya
"Bulan didorong seseorang sampai tubuhnya terbentur. di--dia nyelamatkan aku dari gangguan pria mabuk." ujarnya dengan wajah datar namun terlihat mengangkut beban pada pikirannya
__ADS_1
"Astaga!" Mami mengusap wajahnya dengan kasar, hingga perhatian anak dan ibu itu teralihkan akan kedatangan keluarga Guntur yang berjalan tergesa-gesa.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi pun dibuka dari dalam, menampikkan Dokter yang menangani Rembulan didalam sana
"Bagaimana operasinya, Dok?" tanya Papa Perkasa
"Alhamdulillah, operasinya lancar, ibu dan bayinya selamat. hanya saja bayinya harus ditempati di inkubator karena lahir prematur." ujarnya
"Apa kami sudah bisa melihat bayinya?" tanya Mami Vega
"Bisa. tapi sebentar lagi ya, Nyonya."
"Baiklah."
Bulan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya hingga sepasang netra itu terbuka sempurna seiring dengan silaunya lampu yang langsung menembak panca netranya. ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tampak keluarganya telah berkumpul didalam ruangan ini.
"Ma, Pa, Mami." panggilnya, sontak saja ketiga orang itu langsung datang menghampiri
Bulan mengangguk
"Clar, panggil Dokter." titah Mama Anna, dituruti oleh sang putri kandung
"Mana bayiku dan Mas Guntur?"
Ketiga parubaya itu mengernyitkan dahinya, merasa heran karena sosok Guntur dipertanyakan.
"Bayimu ada di ruang NICU, lahir prematur harus ditangani khusus pada tempat seharusnya."
"Suamimu--masih di Panti Rehab, Sayang." jelas Mami Vega
"Hah??" seketika saja raut wajah Bulan menjadi sendu. pasalnya ia sangat ingin ditemani oleh sang suami saat melahirkan dan berharap lelaki itulah yang menjadi pandangan pertama untuk bayinya
"Padahal aku berharap Mas Guntur temani aku." lirihnya, tanpa terasa air mata menetes membasahi pelipisnya
__ADS_1
"Kamu kecelakaan dan kandunganmu harus segera ditangani, Bulan."
"Hmmm," Bulan teringat akan kejadian beberapa waktu yang lalu, demi kembarannya ia pun terkena getah dari pria mabuk tersebut
"Jangan kasih tau Mas Guntur kalau anaknya lahir prematur."
Mereka semua pun mengangguk mengiyakan
Kini Bulan berada disamping inkubator milik bayi mungilnya. menatap makhluk kecil itu sembari mengusap tangannya. sangat lucu dan lemah, Bulan mesti hati-hati saat menyentuhnya.
"Jenis kelaminnya laki-laki dan Papa sudah mengadzankan bayimu." ucap Papa Perkasa
Bulan tertegun mendengarnya, ia mendongak menatap mertuanya dengan perasaan haru. suamilah yang seharusnya mengadzankan anaknya, namun kini keadaan yang menuntun sang mertua untuk mengadzankan bayi tersebut.
"Terima kasih, Pa." lirih Bulan, menghambur memeluk sang mertua
"Jangan sedih lagi." Papa Perkasa mengelus pucuk rambut Rembulan, berusaha untuk menenangkannya
"Aku nggak sedih lagi walaupun cita-citaku tidak terwujud, tapi setidaknya bayiku selamat dan sehat." ucap Bulan sembari melepaskan pelukannya, ia kembali beralih pada bayi tampannya
"Apa sudah ada nama untuk cucu Mami?" tanya Mami Vega
Bulan berpikir sejenak, ia teringat perundingan antara dirinya dan Guntur yang asyik menentukan nama untuk buah hatinya.
Bulan mengulum senyum, "Galaksi Cakrasurya Perkasa."
"Galaksi??"
"Hu'um. nama kami kan berkaitan sama langit, hehehe. kalau Cakra--itu nama Papi aku selipkan ditengah nama." jelasnya
"Nama yang keren."
πΊπΊπΊ
__ADS_1