
πΊπΊπΊ
"Kenapa cepat sekali, baru jam dua belas." Papa Perkasa tampak sedikit kesal bila dilihat dari raut wajahnya yang terlihat kusut. bukannya menyahut, Guntur malah tergelak sembari berbisik-bisik kepada istrinya.
"Nah, lihat kan--udah telat, marah-marah lagi. ckckck."
"Hei, tengil! bukannya menyahut malah diabaikan." gerutu Papa, membenamkan bokongnya diatas kursi bersamaan dengan sang istri. sedangkan Clara sudah tiba duluan sejak tadi
"Udah hampir setengah satu lho, Pa. dua belas dari mananya coba!" Guntur memutar bola matanya, jengah
"Sudah ah, Mas, aku juga udah lapar lho." sela Mama Anna, diangguki oleh ketiga anaknya
Papa Perkasa menghembuskan nafas dengan kasar. ia pun menerima sepiring nasi dari tangan sang istri yang begitu perhatian padanya. bahkan Anna menghidangkan nasi untuk anak-anaknya. Bulan yang melihat Mama Anna akan menyiapkan nasi untuknya, ia pun mencegat dengan cepat.
"Bulan saja, Ma." gadis itu bangkit, merebut piring dan centong dari tangan mertua barunya
"Mama aja." tukasnya
"Terima kasih, Ma, tapi tidak usah, ini udah tugas Bulan."
"Mending Mama cepatan makan, ini lauknya enak lho." sela Clara yang sudah lebih dulu menikmati hidangannya dengan begitu barbar, semua mata teralihkan kepadanya.
"Kamu makan duluan, Clar? nggak sopan banget! mana pakai tangan lagi." protes Mama Anna, lirikan matanya menatap pemilik rumah ini dengan perasaan yang begitu tidak enak. sedangkan putri kandungnya malah terkekeh
"Nggak apa-apa, aku malah senang lihat Clara seperti itu. ayo makanlah! nggak baik banyak berdebat disini." lerai Papa Perkasa menghentikan perdebatan diatas meja ini. memiliki istri yang sedikit posesif dan cerewet, anak tiri yang begitu barbar dan cuek keadaan, anak kandung yang suka usil, membuat dunianya terasa sempurna. Papa Perkasa tidak mengeluh sedikit pun dengan sikap mereka masing-masing, sungguh didalam hati yang paling dalam ia merasa senang dengan dunia barunya yang ramai.
__ADS_1
Semoga kalian orang baik, batinnya disela mengunyah menatap istri dan anak tirinya secara bergantian
***
"Ma, om--eh, Pa, aku berangkat kuliah, ya." pamit Clara seusai makan siang bersama
"Kuliah siang?" tanya Papa Perkasa
"Iya, Pa, sampai sore." jawabnya
"Baiklah, Papa suruh supir untuk mengantar kamu." Papa Perkasa bergegas merogoh ponselnya dari saku celana
"Eh, nggak usah. aku ada motor kok." cegahnya
"Serius??"
"Kami juga balik, Pa, Ma."
"Cepat banget, nggak disini dulu?" sahut Mama Anna
"Besok kita kesini lagi, Ma." seru Bulan, bergegas menyalimi kedua tangan orang tuanya
"Mending kalian antar Clara deh, sekalian." ucap Papa
"Anaknya udah pergi, Pa, Papa telat." Guntur tak melihat lagi gadis tersebut, tatkala Clara langsung menyelonong pergi setelah salim.
__ADS_1
"Dia anaknya begitu, Mas, nggak suka buang waktu, apalagi basa basi." ujar Mama Anna melihat kepergian putrinya beberapa saat yang lalu
Kini Bulan dan Guntur telah tiba di Apartement, pria muda ini langsung memeluk tubuh istrinya dengan penuh manja. ia seakan rindu dengan belaian hangat dari sentuhan Bulan, dan kini--ia menginginkannya, ingin merasakan lagi nikmatnya surga dunia.
Bulan memberontak, merasa risih dengan pelukan suaminya yang semakin nakal. bagaimana tidak nakal, Guntur menyelipkan tangannya dibalik kain bawahan milik Bulan, menyentuh barang berharganya dengan gemas.
"Gun ..."
"Aaaaakh!" Bulan mendesah saat jemari lelaki ini semakin tak bisa terkendalikan
"Enak kan?" bisik Guntur, mengecup tengkuk leher istrinya, menyapunya dengan lidah lelaki itu
"Kau gila! a-aku jadi i-ngin." desah Bulan
Guntur menyeringai, ia langsung menuntun tubuh Bulan keatas sofa. membaringkannya disana, mengukung tubuh mungil itu agar tak bisa lepas darinya. Guntur membenamkan bibirnya pada bibir ranum yang menggoda ini, gulungan hasrat sudah menyatu membentuk gairah cinta yang mesti disalurkan. disela ciumannya ia membuka kain bawahan sang istri dan kemudian miliknya hingga terpampang tongkat sakti yang telah mengeras.
Bulan menjeda pagutannya, ia mengerang merasakan sesuatu memasuki goa indahnya dengan begitu tergesa. hujaman, hentakan, tubuhnya bergerak naik turun seiring suara erotis mulai menggema di ruangan ini. Guntur mempercepat hentakannya, ia begitu candu dengan milik Bulan yang masih fresh dan rapat. padahal sudah sering mereka melakukannya namun apem legit itu tetap terasa sempit.
"Oooh ...." Bulan dibawa melayang oleh sensasinya yang begitu nikmat, sentuhan Guntur, permainannya, memang tidak pernah mengecewakannya. hingga beberapa saat kemudian sesuatu yang hangat menyembur deras didalam rahimnya, keduanya melenguh bersamaan setelah mencapai ******* yang membahana.
"Sekarang kamu diatas." lirih Guntur, ia langsung membalikkan tubuh mereka dalam posisi bergantian.
"Aku nggak bisa, takut."
"Bisa." Guntur menghentaknya dari bawah, sontak kedua mata Bulan membulat merasakan sensasi yang luar biasa
__ADS_1
πΊπΊπΊ