Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Luka Yang Tersimpan


__ADS_3

🌺🌺🌺


Bulan menatap tajam ibunya yang terpaku ditempat sejak kedatangan putrinya beberapa saat lalu, mungkin saja Nyonya Vega tengah heran melihat putri keduanya seemosi ini untuk pertama kalinya. gadis lugunya telah berubah drastis, tidak selembut seperti yang ia kenal.


"Tadinya aku kesini ingin menjenguk Kakak, tapi mendengar Mami menjelekkan suamiku rasa simpati ku sama keluarga ini langsung lenyap!"


"Jelas-jelas Mami dengar saat kemarin malam tentang perdebatan mereka, Kakak mengira suamiku impotent dan suamiku menimpali kalau dirinya dilecehkan olehnya, dibully, dihina dan tanggapan Kakak malah tertawa. itu artinya Kakak membenarkan, bukan? dan sekarang Mami malah merendahkan suamiku kepada awak media! di mana hati Mami???"


"Mami sakit hati karena putri kesayanganmu disekap, disiksa olehnya?? ya, aku ngerti itu bagaimana perasaanmu. tapi itu semua terjadi karena kesalahan putri kesayanganmu tempo lalu!"


"Lebih baik Mami jawab seadanya aja deh, jangan berlebih-lebihan merendahkan suamiku, menfitnah suamiku. cukup, dan cukup aku saja yang Mami benci sejak aku lahir! jangan membenci suamiku juga!"


"Sejak aku kecil aku merasakan kurangnya kasih sayang ibu, hingga Papi meninggal Mami melampiaskan semuanya menjadikan aku babumu di neraka itu! aku putri mu tapi kau anggap pelayanmu! sedangkan dia--" Bulan menunjuk kamar Mentari. "Kau puja-puja, kau rawat sesempurna mungkin, kau pilih kasih diantara kami! dan aku kau telantarkan."


"Jadi kalau Mami nggak tau kejadian sebenarnya, alasan dan motif sebenarnya dibalik kejadian ini, jangan salahkan suamiku sepenuhnya! Mami bisa salahkan dia nanti di Pengadilan jika ia terbukti salah sepenuhnya!"


"Permisi! ini buah tangan dariku untuk dia!" Bulan menyodorkan separcel buah kepada Maminya, kemudian ia melenggang pergi meninggalkan wanita itu dengan sejuta luka dan air mata yang ia bawa. luka selama ini ia pendam akhirnya tercuat juga, air mata jatuh seolah mengerti akan perasaannya.


"Bul--Bulan ...." teriak Mami Vega, ia terduduk diatas bangku menatap kepergian putrinya yang semakin menjauh. tiba-tiba saja ungkapan itu langsung menusuk relung hatinya yang selama ini telah mendzolimi putri keduanya. hatinya tersayat-sayat membuat air mata ikut meluncur membasahi kedua pipinya. ia menangis, akal pikirannya bertanya-tanya kepada hati apakah ada cinta untuk Bulan sedikit saja? rasanya ingin sekali ia mengejar putri keduanya lalu memeluk gadis malang itu. namun langkahnya terasa berat, jiwanya masih bingung menghadapi gadis tersebut. sebagai seorang ibu yang melahirkannya, sudah pasti ada cinta setitik saja untuk putri yang ia telantari itu, namun dirinya belum bisa untuk mengungkapkannya.


Bulan menyelonong masuk ke dalam taksi setelah melihat penumpang sebelumnya keluar dari kendaraan tersebut. mobil roda empat itu pun langsung melaju dengan kecepatan rata-rata mengantarkan Bulan entah kemana tujuannya.

__ADS_1


"Jalan xxx, Pak." dengan suara seraknya sehabis nangis


"Baik, Non."


Bulan menghela nafas lalu mengembuskannya, menatap jalanan ibukota yang tidak sepadat tadi saat akan berangkat ke Rumah Sakit. Bulan menatap kosong ke arah luar, memikirkan kejadian memilukan tadi ketika beraninya ia mengutarakan perasaannya. bahkan tak ayal Bulan juga berkata kurang sopan kepada ibunya, seolah ada rasa benci bergelayut dihatinya untuk wanita itu. Bulan tersenyum miris, kembali menyeka air matanya yang lagi-lagi mencoba untuk jatuh. kini ia tak bisa cengeng lagi, demi Guntur dan sang janin, Bulan harus kuat dan tangguh menghadapi kenyataan memilukan ini. bukan waktunya untuk memikirkan kasih sayang seorang ibu yang hatinya saja telah mati untuknya.


Beberapa menit diperjalanan, mobil yang membawa Bulan telah tiba di pelataran kediaman Perkasa. hanya rumah dan keluarga ini yang bersedia menampungnya, yang bersedia memberikannya kasih sayang sebenarnya.


"Ini, Pak, terima kasih." Bulan memberikan beberapa lembar uang kepada sopir taksi, kemudian ia turun dari kendaraan tersebut.


Bulan menyelonong masuk ke dalam rumah mewah bertingkat dua nan luas milik Papa mertua, menatap heran dengan kondisi rumah yang sangat sepi, seolah tak ada kehidupan didalam sini.


"Pa, Assalamualaikum ... Ma, Clar?"


Merasa dirinya terpanggil, Bibi yang sedang sibuk di belakang sontak saja langsung keluar menghampiri tamunya.


"Non."


"Bi, Papa kerja? aku mau nginap disini saja."


"Anu, Non, Tuan--

__ADS_1


"Ada apa?" Bulan mengernyitkan dahinya, menangkap gelagat Bibi seolah ada sesuatu yang terjadi.


"Tuan masuk rumah sakit, beberapa saat lalu Nyonya dan sopir mengantarkan Tuan." jawabnya dengan gugup


"A-apa?" Bulan menutup mulutnya dengan kedua tangan, Papa yang sedang sehat-sehatnya tiba-tiba masuk rumah sakit? apakah Papa stress berat dengan kenyataan ini? entahlah, Bulan tidak bisa berdiam diri disini, ia harus menyusul pria tersebut.


"Ru-rumah sakit mana, Bi?


"Dreka, Non."


"Baiklah, Bulan titip ini." ia menyodorkan travelbag kepada Bibi. "Aku pergi, Bi."


Bulan melangkah cepat menuju pintu utama. namun langkahnya terhenti tatkala Bibi kembali memanggilnya.


"Tunggu, Non!"


"Ya??"


Bibi berlari terbirit-birit entah kemana, Bulan menunggu dengan rasa cemas yang membludak menenuhi hatinya. pikirannya memikirkan keadaan sang mertua, entah apa yang terjadi. tak lama kemudian Bibi kembali menghampirinya.


Memberikan sesuatu.

__ADS_1


🌺🌺🌺


Yuk bisa yuk kasih aku hadiah dan vote .... jika belum favorite novel ini, yuk di favoritkan 😊


__ADS_2