
πΊπΊπΊ
Bulan menatap jalanan malam yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang berpacu cepat dan sedang. memandang kosong seolah ada Guntur diluar sana disetiap perjalanannya. merindukan tingkah konyol pria itu yang sudah menjahilinya. Bulan terkekeh, ia teringat tadi siang ketika Guntur meninggalkannya setelah gairah hasrat menanjak dalam dirinya. membuat percintaan terjeda tatkala Guntur ingin buang hajat lebih dulu. Bulan mengulum senyum, menurutnya pria itu memang benar-benar gila, gila dengan kekonyolannya.
"Pa, Bulan pengen pulang ke Apartement, ya?" pintanya
"Kenapa kesana? di rumah besar saja. kamu sendirian ditempat itu." tolaknya
"Benar, Nak, apa lagi kamu sedang hamil, lebih baik mulai sekarang kamu ada dalam pengawasan kami." sela Mama Anna
"Cuma semalaman ini aja kok, Ma. hiks hiks hiks ..." rengeknya hingga air mata kembali menetes membuat suara Bulan menjadi serak akan tangisannya
"Baiklah kalau begitu. tapi setelahnya kamu harus tinggal bersama kami." tegas Papa Perkasa, diangguki oleh Bulan sembari mengusap air matanya
Kini Bulan telah tiba di kediamannya, kediaman yang awalnya bagaikan neraka kini telah berubah menjadi surga, surganya bersama Guntur sampai kapan pun. Bulan mengerahkan pandangannya menyapu ke setiap sudut ruangan, begitu sepi sekali seolah tidak ada kehidupan disini. Ia melangkah menuju lantai atas menaiki tangga dengan langkah gontainya
"Aku kangen ..." Bulan meringkuk diatas ranjangnya, menghirup dalam-dalam aroma baju sang suami yang kini tidak menemaninya
"Kenapa semua orang yang ku sayang meninggalkanku? Papi telah pergi selamanya, sekarang Guntur yang baru saja aku cintai, Guntur yang baru saja menyenangiku sebagai ratu ditempat ini. hiks hiks hiks ... dunia benar-benar tidak adil, merebut semua kebahagiaanku!"
"Apa salahku memangnya? aku baru saja merasakan kebahagiaan tapi sudah diambil segampang ini!" Bulan merasa frustasi, membiarkan air matanya terus mengalir membasahi bantal. sesekali ia menghirup aroma tubuh Guntur pada pakaiannya untuk sekedar ingin menenangi
__ADS_1
Kruk kruk kruk
Bunyi perut pertanda para cacingnya telah memanggil, khususnya sang janin juga pasti merasakan apa yang dirasakan para cacing. Bulan tersentak, ia baru ingat jika dirinya belum makan malam. ya, pasalnya sore tadi Bulan menanti Guntur dan Bintang untuk makan malam bersama, namun sayangnya berita buruk telah menjemputnya terlebih dahulu hingga melupakan makanan yang belum terjamah.
Seketika saja Bulan teringat pada Guntur, apakah pria itu sudah makan? apakah Pak Polisi telah memberikan suaminya jatah makan malam? entahlah, pikiran Bulan terus saja tertuju pada Guntur.
Cepat-cepat ia turun dari ranjang, bergegas ke dapur untuk mempersiapkan segalanya. kini Bulan melupakan perutnya yang terus saja berbunyi, ia lebih mementingkan keadaan Guntur dibalik jeruji. mengambil rantang makanan dari dalam lemari kaca, mengisi nasi ke dalam satu rantang sembari memanaskan lauk.
"Percuma aku disini sendiri, lebih baik ke penjara nemani suamiku. mereka mana peduli apakah suamiku sudah makan atau belum, yang penting udah tertangkap. ck!" gerutunya berdecak kesal
Tidak peduli ini sudah tengah malam, yang terpenting Bulan ingin kembali ke sisi suaminya. tidak pernah berpikir banyaknya kejahatan yang menanti diluar sana, dipikiran gadis itu hanya ada satu objek, yaitu Guntur dan Guntur. Bulan menutup pintu Apartement dengan salah satu tangan menenteng travelbag yang berisi rantang makanan beserta alat makan.
Bulan menanti taksi didepan gedung Apartemennya, hampir sepuluh menit menunggu namun belum juga ada yang melewati jalan ini. membuatnya sungguh frustasi, menuntun Bulan untuk mencari akal.
Beberapa menit kemudian, tepatnya kini pukul satu malam, wanita berbadan dua itu telah tiba di kantor polisi. ia bisa bernafas lega tidak melihat lagi para pemburu berita yang begitu heboh itu.
"Pak, saya mau nginap ditempat suami saya." ucap Bulan pada petugas
Petugas mengernyitkan dahinya. dengan cueknya ia berkata, "Tidak ada jam besuk malam-malam begini, Nona. silakan kembali pulang." usirnya
"Ck! saya lagi hamil, saya sedang ngidam dan suami saya kalian tahan! apa kalian tidak kasihan sama janin saya yang membutuhkan ayahnya? Bapak sudah menikah kan, gimana menghadapi istri anda yang sedang ngidam? pasti harus dituruti, bukan? saya cuma ingin tidur dengan suami saya, ini efek kehamilan saya juga. kalian tenang saja, saya tidak ber---
__ADS_1
"Stop! baiklah!" Petugas merasa jengah mendengar ocehan panjang lebar wanita muda ini, terpaksa ia menurutinya dan mengantarkan Bulan ke jeruji besi yang ditempati oleh Guntur.
Guntur yang sedang berusaha memejamkan matanya yang begitu sulit untuk terlelap, tiba-tiba terhenyak mendengar gembok yang tengah dibuka. Guntur membuka matanya, dan segera bangkit dari tidurnya. seketika ia tertegun melihat sang istri sudah berada didepan mata.
"Bulan!"
"Masuklah." titah Polisi, Bulan mengangguk dengan senang hati ia masuk ke dalam ruangan tersebut
"Sayang." Bulan menghambur ke pelukan suaminya
"Ka-kamu ngapain kesini? dia menguncimu!" Guntur heran, apalagi melihat petugas kembali mengunci tempat ini
Bulan mengulum senyum, "Aku sama dedek pengen bobok sama daddynya."
"Sekalian kita makan malam bersama, aku lapar ...." rengeknya dengan bibir manyun yang terlihat menggemaskan
"Oh ya ampun! kamu belum makan??"
Bulan menggeleng. "Belum, dan aku langsung teringat sama kamu."
πΊπΊπΊ
__ADS_1
Oh, so sweetnya π€§