Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Jangan Sampai Tertarik


__ADS_3

🌺🌺🌺


Bulan menutup mulutnya mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita muda itu, cukup kaget ia rasakan. sedangkan Guntur mengepalkan tangan, raut wajahnya menunjukkan hal tidak suka kepada calon adik tirinya itu.


"Sugar daddy? ngeri sekali." Bulan menggeleng-gelengkan kepalanya


"Ternyata anaknya wanita murahan dan matre." Guntur menatap sinis kepada layar laptopnya


"Nggak masalah! yang penting ibunya orang baik-baik, bukan?" ucap Bulan


Guntur menoleh kepadanya. "Belum tentu. kita nggak tahu apa pekerjaannya." tukas Guntur


"Kita tunggu laporan dari anak buahmu, sabar ..." ucap Bulan mengelus lengan suaminya


"Hm. aku sungguh ilfil sama putrinya." Guntur masih menatap jijik, ternyata kebanyakan wanita itu sangat hina dipandangnya, kecuali wanita disisinya ini


"Yang penting kamu jangan sampai tertarik kepada dia itu! nggak apa-apa sih ilfil dikit." seloroh Bulan, Guntur yang mendengarnya cukup terkejut, pandangannya menatap lekat raut wajah sang istri yang datar dan tampak kesal. Guntur menyeringai. "Kamu cemburu ya, kalau aku tertarik sama dia?"


"Apa?? nggak-enggaklah!" elaknya


"Kamu nggak bisa bohong, Bulan." Guntur menutup laptopnya, sedikit memundurkan kursi kerjanya lalu menjatuhkan tubuh Bulan dipangkuan pria itu. Bulan terhenyak, matanya membulat dan seketika itu bibirnya diraup oleh pria ini.


"Eeeeemmmh!"


Guntur menekan kepala sang istri, memperdalam ciuman mereka yang semakin menggebu-gebu. Bulan tidak bisa menghindar, sensasi ciuman ini mampu membuatnya melayang hingga menuntun hasrat manusiawinya untuk membalas ciuman hangat tersebut. setelah beberapa saat Guntur memundurkan kepalanya melepaskan pagutan mereka.


"Kamu sudah menyukaiku, bukan?" tanya Guntur


Bulan menggeleng. "Mana mungkin." lirihnya

__ADS_1


"Yang penting jangan sampai tertarik, nggak apa ilfil dikit. itu kata-katamu barusan, kan?" ulang Guntur


Bulan tidak bisa menjawabnya, pipinya bersemu merah merona sembari melengos ke arah lain. ia merasa malu, entah kenapa mulutnya asal ngomong. "Itu cuma karena kamu suami aku yang bakal selamanya sama aku. mana ada istri yang mau suaminya punya wanita lain." ujarnya, masuk logika, bukan? pikirnya.


"Kamu mengelak! dasar jaim." Guntur kembali menenggelamkan wajahnya diceruk leher wanita ini, menyapu setiap kulit dengan bibirnya hingga lagi-lagi Bulan dibuat melontarkan suara syahdu yang terdengar indah ditelinga suaminya. hingga percintaan panas terus berlanjut diatas meja kerja tersebut.


***


"Berjanjilah, kamu jangan pergi meninggalkan aku bersama pria lain." lirih Guntur seusai percintaan diatas ranjang


Bulan mengangguk. "Iya, aku nggak ninggalin kamu kok. percayalah, tidak semua wanita sejahat itu." ucap Bulan yang masih berada dibawah kungkungannya


"Cuma kamu yang bisa aku percaya, Bulan. aku sungguh benci dengan semua wanita." geramnya


"Sssstt! tidak semuanya, oke?"


"Emh! udah! aku mau kerja, tumpukan kain sudah banyak, tau! belum lagi aku mau masak makan siang." ucap Bulan, lirikan matanya menatap sekilas jam didinding yang menunjukkan hampir pukul sepuluh


"Masak buat kamu aja, aku mau pergi dan pulang sore." Guntur beranjak turun dari atas tubuh telanjang sang istri, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya. seketika melihat pemandangan itu membuat Bulan tidak bisa berkedip sedikit pun.


"Ke-kemana?" Bulan mendudukkan tubuhnya


"Urusan penting."


"Urusan penting apa? lalu terapinya gimana?"


"Iya terapi." Guntur menutup pintu kamar mandi, tidak ingin diberondongi banyak pertanyaan terus dari istrinya


Bulan mengangguk paham, ia mencari pakaiannya dibawah namun tidak ia temui. sontak Bulan teringat bila pakaiannya dicopot saat mereka berada di ruang kerja suaminya.

__ADS_1


Bulan mulai memutar mesin cuci setelah beberapa kain ia tenggelamkan didalam genangan air dimesin tersebut. sembari menunggu putaran selesai, gadis tersebut mulai menyapu lantai sekaligus membersihkan perabotan yang dirasa sedikit berdebu.


"Kamu kayak gitu seperti pembantu saja." Guntur yang baru datang dari atas dengan setelan rapinya


Bulan menoleh, menghentikan sejenak kegiatannya. "Lah--emang aku pembantu, kan? kamu lupa?" Bulan cekikikan


Guntur tercenung mendengarnya, hatinya tertohok mendengar kalimat itu. "Enggak lagi, kamu istriku." tegasnya, mendekati Bulan lalu merebut gagang sapu dan kain lap dari tangan istrinya


"Hmmm, ya, istrimu. tapi punya kewajiban untuk membersihkan tempat ini, bukan? seperti kebanyakan wanita lainnya. lagian aku mau apa disini tanpa bekerja? hiburan pun tidak ada." gerutunya


Guntur terdiam sejenak. "Sabar, ya ... aku akan beli ponsel dan tv untukmu." ucap Guntur, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga sang istri


Bulan tertegun. "Benarkah??"


Guntur menganggukkan kepalanya. "Iya, sabar ya, dan--aku akan suruh Bibi dari rumah Papa untuk kemari dua kali seminggu."


"Ngapain?"


"Tentu saja membersihkan apartemen ini, menyuci dan menyetrika."


"A--aku bisa kok."


"Sssttt!! tidak ada bantahan! aku biarkan hari ini pekerjaan terakhirmu. aku berangkat, ya?" Guntur mengecup kening sang istri, yang kemudian ia melangkahkan kaki ingin pergi meninggalkan kediaman tersebut


"Hati-hati!" teriak Bulan saat sang suami hampir menghilang dari ambang pintu


"Iya. byeee!" Guntur melambaikan tangannya, hingga sosok itu hilang dari balik pintu.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2