
πΊπΊπΊ
Bulan merengut kesal diatas singgasananya, kedua tangan ia sedekapkan didepan dada, bibir mencebik menampilkan wajah jeleknya menatap pintu kamar mandi yang tertutup. bagaimana tidak kesal bila disaat ia sudah dibawa melayang ke angkasa oleh perlakuannya, tiba-tiba langsung dihempas ke bawah dengan mudahnya. sungguh menyakitkan, dan ia juga merasa malu sekali memperlihatkan keinginannya untuk melakukan lebih jauh lagi.
"Aaaakkh!! awas kau!" ia mengacak-acak rambutnya, merasa frustasi. mungkin inilah hukuman yang dimaksud suaminya itu, mempermainkan hasrat gairahnya yang sudah menanjak.
Guntur baru saja selesai membuang hajatnya, ia sudah merasa sesak saat kedatangan adik iparnya yang tidak terduga. dan selama dalam diamnya ia berpikir untuk mengerjai Bulan, alih-alih ini adalah hukuman. dan berhasil, rencananya yang tiba-tiba muncul itu pun selesai ia jalani dan Guntur merasa puas melihat ekspresi wajah sang istri yang sangat kecewa dengannya.
Guntur kembali tergelak mengingat hal tadi, istrinya benar-benar jaim sekali. dari awal sudah menolak keras bahkan memberontak, tiba kejadian itu dia malah menjadi candu dan menginginkannya lebih. entahlah--memang benar manusia itu memiliki nafsu yang diciptakan Tuhan, apa lagi dihadapkan dengan hasrat yang sudah hal manusiawi seseorang tidak bisa menolaknya.
"Apa ketawa-ketawa!" sembur Bulan, melihat suaminya tergelak saat pintu baru saja terbuka lebar
Guntur menjengit, wanitanya terlihat garang sekali diatas sana dengan wajah ditekuk.
"Jangan merajuklah, aku sesak eek, tau!" Guntur mengelus bokongnya
Bulan melengos, pandangannya kembali menatap televisi yang masih menyala sejak pagi.
"Is! yaudah, ayo kita lanjut lagi." Guntur menarik kedua kaki istrinya, hingga wanita itu terseret kebawah. ia merangkak menaiki ranjang, tepatnya diatas tubuh Rembulan
"Aku nggak mau lagi!" tolak Bulan
"Kenapa? tapi pengen?"
"Nanti kau permainkan aku lagi!"
__ADS_1
"Tidak kok." Guntur langsung menyumpal bibir bawel itu, menahan kedua tangan Bulan agar berhenti memukulinya. dalam sekejap kedua insan ini terbuai dalam mabuk asmara, perpagutan indah atas penyatuan kedua bibir langsung membawanya terbang ke angkasa.
Guntur menanggalkan pakaian bawahan Bulan dalam sekali tarikan, menyingkap bajunya keatas sampai menutupi perut. Bulan melenguh merasakan inti tubuhnya diterobos masuk sampai ke dalam rahimnya, dan ini sungguh membuatnya sesak. Guntur mencumbu setiap kulit mulus milik sang istri dengan penuh hasrat, sembari kegiatan panas dibawah sana tetap berjalan semestinya. mencumbu, menyesap, menggigit, apapun yang ia suka, Bulan ada diatas kuasanya. hingga beberapa menit kemudian apa yang ingin dicapai akhirnya menyembur deras menyisakan sensasi yang begitu nikmat.
***
"Hallo, apa di Markas kita aman?"
"Dari rekaman Cctv sepertinya aman, Bos!"
"Bagus, aku ingin kesana." Guntur langsung memutuskan panggilannya secara sepihak. ia melenggang pergi dari ruang kerja setelah menyelesaikan panggilannya dengan anak buah diseberang sana. rasanya sudah sangat lama sekali ia tidak berkunjung menyapa para tawanannya yang tersisa tiga orang itu, ya, tentu saja Mentari dan kedua temannya, sang biang kerok.
"Mau kemana?" Bulan yang baru muncul dari ambang pintu kamar dengan membawa buah jeruk asam diatas piring
"Kemana sih, suka banget pergi tuh lama-lama." gerutunya, mendudukkan tubuhnya diatas ranjang
"Ke tempat kawan. muaach!" Guntur mengecup dahi sang istri
"Bintang nanti kesini, lho! jangan sampai nggak pulang!" peringat Bulan
"Oke, Nyonya Ratu! ah iya, mau dipesan apa?" tanya Guntur menghentikannya langkahnya
Bulan tampak berpikir. "Mangga muda yang asam-asam." ia mengulas senyum mengatakannya
"Asam-asam lagi???" Guntur tercengang, diangguki oleh wanita itu. membuat pria tersebut menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"Baiklah." Guntur langsung keluar dari kamar lalu menutup pintunya.
"Permintaan yang aneh." gumamnya
Satu jam lebih diperjalanan menuju hutan dengan penuh kehati-hatian, Guntur telah tiba di Markasnya. tangannya sudah terasa gatal untuk tidak menyakiti mereka, ingin sekali tangan ini kembali berfungsi seperti dulu yang tanpa belas kasih langsung menghajar mereka dengan brutal. namun kini--sejak kembali menjalani pengobatan, ia tidak terlalu aktif untuk menyiksa para tawanannya. entah mungkin emosinya sudah bisa terkontrol hingga hasrat untuk menyiksanya telah berkurang. namun tidak untuk sekarang, setelah cukup lama bersama Bulan, kinilah saatnya kembali bersenang-senang dengan mereka.
Sebelum menyusuri para tawanannya, terlebih dulu ia berbincang-bincang dengan anak buah yang senantiasa mengawasi dari balik layar.
"Apa yang terjadi selama Polisi melacak tempat ini?"
"Dibawah sini aman, Tuan. untung saja mereka tidak menemui lantai yang terhubung dengan ruangan bawah tanah ini." jawabnya
"Saya rasa tempat ini sudah tidak aman lagi, bisa saja mereka kembali kesini lalu mengacak ulang." Guntur mengacak-acak rambutnya, berdesah frustasi
"Apa kita bawa keluar negeri aja?" usul anak buahnya
"Jangan-jangan! butuh waktu lama sampai kesana."
"Akh, sudahlah! mana kuncinya? saya mau menemui mereka.
"Ini, Tuan."
Guntur mengambilnya lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan monitor tersebut.
πΊπΊπΊ
__ADS_1