
πΊπΊπΊ
Bulan menepuk-nepuk punggung sang suami berusaha menenangkannya setelah melampiaskan rasa emosinya kepada barang-barang sekitar. salah satunya adalah alat rias milik Bulan yang berserakan dilantai dan sudah dipastikan bedak padatnya hancur didalam tempat. Bulan mengambil obat milik Guntur yang kebetulan belum diminum pada malam ini, segera ia mengisi air mineral ke dalam gelas yang terletak di nakas bagian tempat tidurnya.
"Minum obatnya dulu, kamu harus tenang." Bulan menyodorkannya ke hadapan Guntur
Guntur menggeleng. "Untuk apa minum itu? biarkan saja aku seperti ini biar dia takut punya anak kayak aku. sekarang dia pasti ilfil dan memutuskan hubungannya dengan tua bangka itu." Guntur menyeringai, pikiran negatif benar-benar menguasai pikirannya
"Sssstt! kamu nggak boleh su'udzhon .... belum tentu Mama Anna seburuk yang kamu kira."
"Mama?? kau panggil dia mama??" Guntur mendelik
"Ya. pilihan Papa pasti yang terbaik."
"Kau bodoh! kau belum kenal sama dia! bagaimana sifatnya, latar belakangnya dan apa tujuannya! kau malah menganggapnya Mama mertua, cih!" Guntur bergidik geli
"Gini aja, mending kamu selidiki Tante Anna sebelum Papa benar-benar menikah dengannya. supaya hatimu lega setelah mengetahui tentang perempuan itu. lagian--dalam menyelidiki pasti kamu sudah ahli, bukan?" usul Bulan, ia meraih tangan Guntur dan menaruh beberapa butir obat ditelapak tangannya
Guntur menatap obat itu yang kemudian beralih menatap cantiknya sang istri. "Ayo minum." titah Bulan
Guntur memasukkan butiran obat tersebut ke dalam mulutnya, lalu meneguk air putih hingga obat dan air sama-sama berbarengan masuk ke dalam tubuh pemuda tersebut.
Tok tok
Ketukan pintu mengalihkan perhatian sepasang istri yang tengah duduk menghadap jendela luar, menoleh ke belakang yang terdapat Papa Perkasa diambang pintu. Guntur mendengus, ia masih kesal dengan lelaki tersebut. sedangkan Bulan langsung bangkit berdiri menghampiri mertuanya
"Iya, Pa?"
__ADS_1
"Papa mau bicara empat mata sama Guntur, boleh?" Papa Perkasa meminta izin kepada menantunya.
Bulan mengangguk dengan senang hati seraya mengulum senyum. ada baiknya jika ayah dan anak tersebut membicarakan hal sebesar ini dengan serius dan empat mata. Bulan melenggang pergi keluar setelah mertuanya masuk, gadis tersebut menutup pintu tanpa ingin mengganggu.
Bulan menghampiri Tante Anna yang diketahui akan menjadi calon ibu buat Guntur.
"Maaf, Tante, atas sikap Guntur dan kebisingannya yang mengganggu tadi."
"Tidak apa-apa, Tante maklumin saja kok, wajar nak Guntur bersikap seperti itu setelah kedatangan Tante yang mendadak. apalagi--kami tidak meminta restu dari suamimu." ucapnya yang memaklumi hal ini
Bulan mengulum senyum, lalu ia kembali berkata. "Sebelum Tante menikah dengan Papa, sebenarnya Guntur memiliki gangguan kejiwaan yang menyebabkan ia mengamuk seperti tadi. tapi Alhamdulillah sih, Guntur mulai membaik setelah menjalani terapi." jelas Bulan
"Iya, saya sudah tahu, Nak Bulan ... tadi Mas Perkasa sempat bercerita."
"Ah, Syukurlah." Bulan bernafas lega.
"Papa jamin Tante Anna adalah wanita baik-baik yang akan selalu setia sama Papa, jangan kaitkan dia dengan Mamamu, Gun."
"Jaman sekarang perempuan tidak bisa dipercaya, wajahnya kelihatan baik tapi belum tentu hatinya. Papa nggak takut apa, kalau perempuan itu berniat menguasai harta kita? setelahnya meninggalkan Papa seorang diri dan mengalami masa itu untuk kedua kali."
"Lalu gimana sama Bulan? dia juga kelihatan baik kan?"
"Aku sudah tahu sifat Bulan dari dulu, dia tidak seperti wanita lainnya yang bermuka dua. usah Papa bawa-bawa Bulan!" Guntur mencebik kesal
Mereka terdiam
"Jadi intinya kamu tidak merestui hubungan kami?" tanya Papa Perkasa
__ADS_1
Guntur berpikir, memorinya teringat akan saran sang istri beberapa menit yang lalu. "Tunda dulu, Pa. jangan tiga hari lagi. aku butuh berpikir dulu sama keputusan Papa."
"Jadi sampai kapan kamu berpikir?"
"Seminggu."
Aku ingin menyelidiki wanita itu dan anaknya. batin Guntur
"Baiklah."
"Kalau Papa masih menganggapku anak, Papa harus terima keputusan aku!" tegasnya, terdengar begitu menohok hati sang ayah. pasalnya sebelum ini, Papa belum meminta izin kepada putranya sekalipun. dan ia benar-benar merasa bersalah telah membuat Guntur kembali mengamuk.
"Ya, terserah kamu saja." Papa bangkit berdiri, Ia membalikkan badan ingin keluar dari kamar tersebut. tatapan Papa beralih ke lantai, dimana banyak barang yang berserakan disana. bedak, parfum, lipbalm, body lotion, pasti putranya ini melampiaskan benda-benda tersebut yang terpajang rapi diatas meja rias.
Ia memejamkan mata, merasa bersalah benar-benar menghinggapi hatinya.
"Papa, makan malam dulu yuk, Bulan sudah siapkan makan malam untuk kita." ajak gadis itu yang melihat sang mertua mendatangi dapur untuk mencari calon istrinya yang turut membantu Bulan menyiapi hidangan makan malam
"Jam segini kalian belum makan?" Papa menatap jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam
Bulan menggeleng sembari terkekeh.
"Ada rendang, Mas, aku jadi lapar lagi." rengek Tante Anna
"Aku panggil Guntur dulu, ya?" pamit Bulan
πΊπΊπΊ
__ADS_1