
πΊπΊπΊ
Bulan berhambur memeluk tubuh suaminya dengan begitu semangat, ia begitu gembira doanya telah dijabah oleh Yang Maha Kuasa. dan kini sang suami akan diletakkan ke tempat Rehabilitasi untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi. tentu saja dalam jangka waktu yang tidak sampai bertahun-tahun.
Guntur membalas pelukan istrinya, menghirup dalam-dalam aroma rambut Bulan yang teramat ia rindukan pada akhir-akhir ini. Apakah di Rehabilitasi, sang istri boleh menginap tidur bersamanya? tiba-tiba pertanyaan itu sekelebat muncul dalam pikirannya.
"Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, setelah keputusan hakim kalau kamu akan di Rehabilitasi, Sayang." lirih Bulan, kembali mendekapnya dengan kuat, menyalurkan rasa rindu dan bahagianya kepada sang suami
"Ya, kita bisa bersama-sama lagi dalam waktu dekat sampai aku benar-benar sembuh. tapi--apakah boleh kita tidur bersama lagi?" sahutnya
Bulan melonggarkan pelukan mereka. "Tentu saja, aku akan merengek kepada mereka." ucapnya, seulas senyum terbentuk dibibir lelaki itu
"Sudah-sudah pelukannya, gantian dong!" sela Papa Perkasa, mengganggu saja, pikir Guntur.
Bulan menjauh, membiarkan sang ayah menyalurkan perasaannya kepada sang anak kandung.
"Guntur, berjanjilah pada Papa kalau kau akan serius menjalani perawatan disana."
Guntur mengangguk. "Tentu saja, kalau bukan teringat istri dan calon anakku, aku akan masa bodoh dengan hal itu." Ia cekikikan
"Bodoh!" Papa mengkeplak kepala putranya. "Kau tak ingat Papamu ini, hm? semakin tua dan butuh kau untuk melanjutkan perusahaan."
"Hehehehe, iya-iya, karena Papa juga. aku akan serius menjalani perawatan itu."
"Siip. jaga amarahmu." Papa menepuk pundak sang putra, kemudian ia memeluknya dengan penuh kasih sayang. Guntur mengangguk diatas pundak ayahnya, mengusap-usap punggung kokoh yang sudah renta itu.
Kini beralih pada Mama Anna.
"Ma, berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkan Papaku, berjanjilah untuk tidak selingkuh dan berjanjilah jadi istri yang baik untuknya." pinta Guntur penuh damba, rasa takut akan kegagalan berumah tangga kembali terbayang
"Mama akan berjanji, percayalah--tidak semua istri yang bersikap seperti dibayanganmu."
Guntur mengangguk paham.
__ADS_1
"Jadilah anak yang baik disana, ingat Bulan dan calon bayi kalian, oke?"
"Oke." lalu Mama Anna memeluknya sekilas, kemudian bergantian pada Clara, memberikan sedikit wejangan kepada gadis muda itu. dan kemudian seseorang yang tidak ia duga juga muncul, sang sahabat karib sejak SMA dan turut andil membantunya dalam menangani para tawanannya juga hadir dengan senyum haru diwajahnya.
"Dimas! kau kemari juga?" mereka saling menyapa, merangkul layaknya seorang sahabat
"Tentu saja, bodoh! aku tak banyak kasih nasehat, nasehatku cukup kau jadi anak yang baik lagi, jangan nakal, bambang." ledeknya
"Ck! aku tak butuh nasehatmu." Guntur memutar bola matanya
Kemudian sahabatnya mendekatkan wajah ditelinga Guntur. "Aku bebas, nggak merawat tawanan mu lagi." bisiknya, lalu kembali menjauh seraya tersenyum miring
"Ya ya ya, aku tau itu."
Setelah semua orang menyalurkan rasa rindu kepada Guntur dan sedikit memberikan wejangan agar selalu diingat olehnya, kini mereka harus terpisah lagi darinya. Guntur akan dibawa oleh petugas menuju tempat Rehabilitasi, Bulan terus mendesak Papa Perkasa untuk mengikuti mobil itu pergi. sebab ia juga ingin tahu posisi dimanakah suaminya akan ditempati.
Namun, belum saja kaki melangkah keluar, segerombolan para wartawan langsung menyerang Guntur yang dikawal oleh petugas kepolisian.
"Tuan Guntur, penyakit apa yang anda derita sampai dibawa ke tempat Rehabilitasi?"
"Minggir-minggir!" Para petugas tak tinggal diam, mereka mengamankan para pemburu berita itu
"Sekali jawab saja, Tuan."
"Oh, astaga!" gumam Guntur, seketika indra penciumannya yang teramat tajam kembali kambuh, rasa mual diperutnya terus meronta memberontak didalam sana.
"Uuk!" rasa ini semakin menyiksa, Guntur terus menahannya dengan telapak tangan berusaha menahan mulutnya agar tidak menyemburkan cairan itu di depan khayalak umum
Bulan yang melihat suaminya sedang tidak baik-baik saja, ia berlari kecil ingin mendekat.
"Sayang! kamu mual lagi?"
Guntur mengangguk.
__ADS_1
"Uuk!"
"Awas kalian! bukan waktunya meliput orang yang sedang sakit!" teriak Bulan
"Pak, antarkan saya ke kamar mandi, Uuk!" petugas menurutinya.
Namun sial sekali, terbebas dari segerombolan para wartawan, Guntur langsung memuntahkan isi perutnya disembarang tempat. beruntung saja tidak banyak orang berada di sekitarnya.
"Uwek!"
Bulan mengusap-usap punggung suaminya, Papa Perkasa datang menghampiri dengan membawa sebotol air mineral untuk putranya yang disambut langsung oleh sang menantu.
"Uwek!"
"Mereka bau sekali, uwek!!"
"Sekarang nggak ada mereka lagi, kamu harus kuat."
"Padahal aku udah pakai masker, tapi tetap saja." lirih Guntur yang sudah terlihat lemas, tenaganya dikuras oleh rasa mual yang menyiksa.
Guntur membersihkan area mulutnya dengan air, berkumur-kumur membersihkan rongga mulutnya.
"Diminum juga."
Guntur mengangguk, menenggak air tersebut hingga tandas.
"Obat mual kamu masih ada, kan? jangan lupa diminum. dan makanlah nasi biar ada tenaga." ucap Bulan
"Aku usahakan."
"Sudah, ayo ikut kami!"
πΊπΊπΊ
__ADS_1
Minta vote dan hadiahnya dong, Kakak