Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Mentari Kemana?


__ADS_3

🌺🌺🌺


"Mi, apa yang terjadi?" Bulan menggenggam tangan ibunya, raut wajahnya jelas tampak khawatir melihat balutan perban di kepala dan salah satu kaki diberi penyangga.


"Maaf, Mami mabuk tadi siang sama teman-teman sosialita Mami, jadinya--nggak sengaja Mami hampir menabrak truk. tapi Mami berhasil menghindar dan menabrak pohon." jelasnya sembari terkekeh, kemudian ia meringis kesakitan


"Ya Allah, Mi ..." sontak saja Bulan teringat pada kejadian beberapa tahun lalu yang merengut nyawa Papinya dengan kasus yang hampir sama. Bulan berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh, seketika ia langsung memeluk wanita parubaya yang sempat ia benci ini


"Mami jangan gitu lagi, stop minum alkohol! ingat kesehatan Mami, Mami nggak muda lagi lho."


Mami Vega mengangguk paham, air matanya pun tak bisa ia tahan lagi hingga akhirnya jatuh membasahi pipinya


Semua orang yang hadir merasa haru, kecuali Guntur yang memasang wajah datar menatap interaksi tersebut.


"Katakan, Mami ada masalah apa sampai mabuk-mabuk gitu?" Bulan melonggarkan pelukannya


"Nggak ada kok, Mami hanya bersenang-senang."


Bulan tidak terlalu mempercayainya, ia menyipitkan mata memandang wanita parubaya yang pernah membencinya sampai sedewasa ini. mencoba mencari celah kebohongan dari wajah itu


"Palingan gara-gara anak kesayangannya." sahut Guntur, sontak saja semua pasang mata menoleh kepadanya


"Hus!!" Papa Perkasa menegur putranya yang bersikap kurang sopan


Bukannya tersinggung, Mami Vega malah tersenyum kepada sang menantu.


"Benar, Mi? gara-gara Mentari?" tanya Bulan, wanita parubaya tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya walau pada kenyataannya ia juga cukup stress dengan tingkah sang putri sulung yang sering mengamuk kerap kali melihat wajahnya sendiri.


"Nggak kok, kakakmu bersikap seperti biasa."


Bulan bernafas lega mendengarnya, walau pada kenyataannya ia kurang percaya.

__ADS_1


"Ah iya, Mbak, ini kita bawa parsel buah." sela Mama Anna, menaruh bingkisan parcel itu ke atas meja nakas


"Nggak perlu repot-repot, Mbak." tukas Mami


"Nggak mungkin kami kemari nggak bawa apa-apa, Mi." ucap Bulan


Mami Vega mengulum senyum kepada semua orang. "Terima kasih, ya?" dan diangguki oleh mereka semua


***


"Sudah terlalu lama kita disini, ayo kita pulang!" ajak Guntur kepada sang istri, ia melihat jam dipergelangan tangan telah menunjukkan pukul delapan malam.


Bulan rasanya enggan sekali meninggalkan ibunya seorang diri, tidak ada yang lain selain keluarga suamimya. Bulan ragu, kemana kah Mentari? sejak kedatangan mereka, perempuan itu tidak menampakkan batang hidungnya sekali pun


"Tapi--


"Sudah, pulang saja. Mami nggak apa kok, lagi pula kamu sedang hamil harus beristirahat." nasehat Mami Vega sembari mengelus perut sang putri


"Mentari baru saja pergi tadi pagi ke Korea, ingin meng-oplas luka di wajahnya."


"Oh, ya ampun!" Bulan mengusap wajahnya dengan kasar


Mendengar hal itu, Guntur langsung panik. pasti istrinya enggan beranjak dari sini, sedangkan ia masih ingin berduaan menghabiskan sisa waktu bersamanya. Guntur mencari akal supaya Bulan bersedia untuk pulang bersamanya. namun--belum juga berpikir, seseorang langsung menyela.


"Kalian pulang saja, Mama yang jagain Mami kamu." sela Mama Anna


"Ya, betul!! Mama Anna yang nemani Mami kamu. sekarang kamu harus istirahat mengingat kehamilan mu yang sudah besar, Sayang."


Bulan menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan dengan kasar.


"Baiklah." ia pun mengangguk

__ADS_1


Sepasang suami istri ini pun berpamitan diikuti oleh Papa Perkasa, menyisakan Mama Anna dan Mami Vega didalam ruang rawat inap. sedangkan Clara, gadis itu telah pergi sedari tadi ingin bertemu dengan teman-temannya.


***


"Sayang, aku balik, ya?" bisik Guntur ditelinga sang istri yang masih terlelap


Bulan menggeliat, perlahan-lahan membuka matanya. sedikit mengerutkan dahi karna sorot lampu langsung menusuk sepasang netranya. ia kesilauan, cepat-cepat ia kucek mata sembari mendudukkan tubuhnya


"Mau kemana? rapi sekali."


"Ke Panti Rehab, Sayang. Pak sopir udah menunggu tuh di depan."


Bulan mengernyitkan dahinya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. ia pun menoleh ke jam dinding, telah pukul empat pagi.


"Pagi amat! aku ikut ya, mau ke tempat Mami sekalian." pintanya


"No! kamu tidur saja lagi gih, aku nggak ijinin kamu ikut." cegah Guntur


Bulan mencebikkan bibirnya, merasa kesal. "Huh! pelit!"


"Biarin. aku berangkat, ya? jaga kandungan kamu dan banyak-banyak beristirahat, cup!" nasihatnya, kemudian mengecup bibir Bulan dengan penuh kasih sayang


"Aku antar sampai depan!" Bulan buru-buru turun dari ranjang, Guntur tidak bisa melarang lagi, lebih baik ia turuti dari pada harus mengantarkannya sampai ke Panti.


Bulan menghirup dalam-dalam udara pagi yang terasa segar menyeruak masuk ke dalam hidungnya. segar sekali, ia menyukainya. dan saat ini--ingin rasanya ia berjalan-jalan disekitaran area rumah


"Ah, aku jadi pengen jalan-jalan pagi, Yang. kata Dokter, ibu hamil juga dianjurkan buat jalan-jalan pagi." ucapnya


"Ajak Bibi kalau mau olahraga jalan pagi, ya? jangan sendirian diluar yang sepi gini, masih bahaya, ntar diculik lho."


"Kalau diculik sama Oppa Song Joong Ki, aku mau."

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2