
πΊπΊπΊ
Assisten Dika menceritakan tentang kondisi perusahaan Perkasa Group yang sedang mengalami penurunan drastis. terdapat beberapa investor kembali menarik saham yang telah tertanam di Perusahaan tersebut. penyebabnya tak jauh dari permasalahan ini, kasus kriminal yang dilakukan oleh sang pewaris. dan hal itu menjadi boomerang buat perusahaan.
Bulan mendengarnya dengan serius, menyimak keluhan dan permasalahan yang terlontar dari mulut sang Assisten Presdir Perkasa Group dihadapannya ini. sejenak ia menarik nafas dalam, dadanya terasa diremat membayangkan kondisi kini tengah terpuruk dan inilah penyebab sang pemilik jatuh sakit dalam sekejap.
"Ada berapa investor yang mencabut sahamnya?" tanya Bulan
"Hampir setengah dari seluruhnya, Nona. sepertinya kasus Tuan Guntur membuat mereka takut akan terpengaruh pada jatuhnya harga saham."
Bulan menoleh ke ranjang dimana tubuh lemah tak berdaya itu masih terbujur kaku diatasnya. disisi lain sang pewaris sedang menjalani hukuman didalam bui atas kejahatan yang telah dilakukan. Bulan memijat batang hidungnya, ia juga merasa bingung akan permasalahan ini. apakah ia harus turun tangan untuk mengurus perusahaan agar kembali stabil? ia ingin sekali, tapi dirinya hanyalah orang asing didalam perusahaan itu.
"Saya akan berusaha keras untuk membujuk mereka kembali menanam sahamnya, Nona. dan mencegah mereka yang ingin menariknya."
Bulan mendongak menatap pria itu. "Apakah boleh aku membantumu? pasti sulit bekerja sendirian untuk mengambil hati mereka kembali."
"Serius, Non?" Assisten Dika tampak berbinar-binar
Bulan mengangguk. "Siapa tau aku bisa, jika tidak bisa terpaksa kita mencari pemegang saham yang baru untuk menutupi banyaknya kerugian."
"Jangan pesimis, Nona. semoga bisa! tapi---
"Tapi apa?"
__ADS_1
"Anda sedang mengandung, bukan? seharusnya anda harus beristirahat."
"Ck! aku tidak apa-apa, setelahnya aku akan beristirahat kok." ucap Bulan sembari mengelus perutnya, bahkan ia tak punya waktu untuk melakukan USG pada kandungannya, walau sebenarnya ia sangat ingin. namun permasalahan ini jauh lebih penting baginya.
Bulan menoleh ke samping menatap Mama Anna. "Ma, izinkan Bulan mengurus perusahaan Papa sebentar?" sepertinya akan lebih afdol lagi jika ia meminta izin pada wanita parubaya yang baru saja masuk kedalam lingkup keluarga Perkasa
"Mama tidak berhak melarangmu, lakukanlah jika itu akan membuat perusahaan stabil kembali." ujarnya
Bulan mengangguk seraya mengulum senyum, ia berhambur memeluk mertuanya.
"Jangan terlalu banyak pikiran, kandunganmu juga harus dijaga." pesan Mama, Bulan mengangguk dipundak wanita itu
Ketukan pintu seketika mengalihkan perhatian mereka, Clara kembali membukakan pintu dan tampaklah Pak Sopir telah kembali membawa banyak tentengan. gadis cuek nan judes itu pun mengambil alih barang bawaan dari tangannya, sopir pribadi Tuan Perkasa pun kembali pamit meninggalkan ruangan tersebut.
"Beritahu mereka untuk menghadiri rapat dua jam lagi, Assisten Dika. sekalian saya minta tolong belikan pakaian formal untuk menghadiri rapat." pinta Bulan
"Baik, Nona." Assisten Dika mengangguk, dan kemudian pamit permisi untuk menyiapkan segalanya
Disisi lain, kondisi tubuh Guntur sedang diperiksa oleh Dokter yang bertugas di Rumah Sakit Bhayangkara. hasil analisisnya menyatakan tidak ada penyakit apapun yang diidap oleh sang tahanan, namun setelah mengalami kejadian barusan ia dapat mendiagnosa jika Guntur mengalami gangguan mental. sebab dari amarahnya yang tak kunjung usai, keringat bercucuran diseluruh tubuhnya, dada yang terasa sesak, bisa menunjukkan adanya gangguan dari dalam diri pria itu.
"Kita harus temui Dokter sebelumnya yang merawat tahanan ini, Pak. dan untuk sementara waktu ia harus diasingkan dari tahanan lainnya. jangan sampai mereka memancing amukan dari pria ini, dia hanya bisa dijinakkan dengan menyuntik cairan penenang. untuk saat ini biarkan saja dia beristirahat." jelas Dokter kepada Pak Polisi
"Baik, Dok. kami pamit!"
__ADS_1
***
Bulan telah terlihat segar dan cantik dengan pakaian formal berupa rok span hitam yang menutupi tubuh bawahnya hingga diatas lutut, blouse dusty yang membuatnya terlihat semakin anggun dan lebih dewasa, rambut panjang ia biarkan tergerai ke belakang menyentuh punggungnya. tak lupa flatshoes hitam ia kenakan memperindah jenjang kakinya yang teramat mulus.
Sebelum berangkat, Assisten Dika terlebih dulu menjelaskan tentang perusahaan Perkasa Group, segala sesuatunya ia beritahukan kepada Bulan agar mempermudah proses rapat antar semua pihak.
"Siap, Nona?"
"Insha Allah, siap, walaupun saya nervous sekali. ini pertama kalinya, Tuan Dika." Bulan menarik nafas lalu diembuskan, begitulah beberapa kali ia ulang seiring perasaan gugupnya yang terus membuncah
"Minum dulu, Bul, kamu harus bisa memperjuangkan perusahaan." Mama Anna menyodorkan segelas air putih untuk menantunya
"Terima kasih, Ma." ia menyambutnya, menenggak air mineral hingga tandas tanpa sisa
Bulan beranjak bangkit berdiri, mengayunkan kaki jenjangnya mendekati ranjang Papa Perkasa.
"Papa, izinkan Bulan memperjuangkan perusahaan Papa, ya ... do'ain Bulan supaya berhasil untuk membujuk dan meyakinkan mereka." lirihnya dengan tatapan teduh menatap sang mertua yang masih betah terlelap hingga ke alam mimpinya
Bulan menatap wajah tampan parubaya ini dengan begitu lekat, berharap pria itu segera bangun dari tidurnya. ingin sekali Bulan mendengar kata iya, anggukan dan senyuman dari bibir pucat itu. namun sepertinya--belum waktunya untuk mengharapkan itu saat ini.
Semoga Papa mendengarkanku walaupun berada dialam mimpi, batinnya
πΊπΊπΊ
__ADS_1