
πΊπΊπΊ
Guntur terhenyak mendengarnya, ia kembali menoleh menatap gadis ini. "Siri? kontrak??" nada suara ia tinggikan
Bulan mengangguk seraya mengulum senyum.
"Jangan bodoh! kau tau sendiri kan, aku menginginkan anak darimu. emang kau mau setelah masa kontrak habis, kau akan berpisah dengan anakmu?" tanyanya dengan sedikit emosi
Bulan menggeleng dengan nafas rendah. "Berarti kita selamanya menikah?"
"Tentu saja. karna kau adalah milikku."
"Milikmu? artinya kau mencintaiku? oh, iya jelas, karna kau mengurungku disini pasti memang menyukaiku. buktinya kamu tahu banyak tentangku dan keluargaku." Bulan mengangguk paham, ia mengerti kini
Sedangkan Guntur, ia terdiam mendengarnya, hingga saat ini ia tidak tahu apakah mencintai wanita ini atau tidak. perasaan terakhir yang ia alami adalah saat sekolah, Mentari adalah mantan terakhirnya. kata orang, perasaan cinta akan terasa jika jantung kita berdebar-debar didekatnya. Bulan adalah uji coba untuk kejantanannya, hingga tubuh itu dan segala yang ada didiri raga itu adalah miliknya seorang, ia hanya terobsesi dan detak jantungnya belum menyatakan rasa cinta.
Apakah ia egois atau tidak, yang jelas Bulan adalah miliknya dan tidak ada kata perpisahan.
"Terserah apa katamu. yang jelas kamu harus ingat kalimat demi kalimat di surat itu, melayaniku sampai waktu yang ditentukan. yaitu selamanya, dan kau akan hidup nyaman disini sebagai istriku selama kau tutup mulut atas kejahatanku. jika melanggar--ingat ancaman yang ku berikan." tatapan tajam menghunus kepada Bulan, menjulurkan jari telunjuknya sebagai peringatan keras.
Bulan terpaku, apalagi keluarganya ada diatas kuasa pria ini. Bulan akan memeriksa laporan perusahaan saat akhir bulan nanti kepada Assisten Stev. ya, ia akan bertandang ke Cakrawala Group beberapa hari lagi.
Guntur melenggang pergi meninggalkan gadis ini, ia ingin masuk ke dalam kamar untuk melampiaskan emosinya. memikirkan perpisahan seperti nasib papanya, sulut amarah kembali membakar perasaannya. ia tidak akan melepaskan Bulan, karna Bulan adalah miliknya yang harus ia jaga.
Bulan berdiri dari duduknya setelah mengamati raut wajah yang penuh dengan amarah itu. ia mengejar Guntur, perasaannya berkata kalau Guntur akan kembali mengamuk seperti sebelumnya. terkadang--entah ucapan apa yang salah sampai lelaki itu tampak terlihat emosi.
"Guntur, berhenti." Bulan mencoba menghalaunya, pria itu tidak menggubris dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga
__ADS_1
"Stop, calon suamiku, jangan marah terus. aku minta maaf." Bulan memeluknya dari belakang
Guntur terdiam, menghentikan langkahnya ditapak anak tangga terakhir. ia menunduk menatap kedua tangan yang melingkar di perutnya.
"Aku benci perpisahan, Bulan. walaupun kita belum saling mencintai, tapi aku akan berusaha memperlakukan kamu dengan baik. aku janji tidak akan melukai tubuhmu, lebih baik melampiaskan emosiku didalam kamar." lirihnya, melepaskan lingkaran itu dari perutnya.
Bulan mengejar lelaki ini, tubuhnya yang ramping menyalip pintu yang hampir saja ditutup oleh lelaki ini. Guntur menghembuskan nafasnya dengan kasar, wanita ini terus saja mengikutinya.
"Kenapa kau mengiku--
Cup!
Bulan langsung menyambar bibir manis pria ini dengan ******* yang mampu membungkam mulut itu. Bulan melingkarkan kedua tangannya di leher Guntur, tubuhnya berjinjit agar bisa mencapai bibir itu.
"Sekarang tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan secara perlahan." usul Bulan setelah melepaskan pagutan nya. Guntur melakukan instruksi itu.
Dan melakukannya lagi
"Lakukan berulang kali sampai perasaanmu kembali pulih."
Guntur lagi-lagi menuruti perintahnya. menurut Bulan, ini adalah salah satu untuk meredakan amarah yang sedang bergejolak.
"Good job!" Bulan menepuk pipinya berulang kali
"Berjanjilah untuk selalu bersamaku." pintanya
Bulan mengangguk mengiyakan seraya tersenyum
__ADS_1
"Terima kasih." ucapnya, membenamkan bibirnya di ranum manis yang menggoda itu. hingga ciuman yang mereka lakukan semakin dalam dan penuh gairah, keduanya dibawa melayang ke angkasa atas penyatuan ini. Guntur meraba bokong montok milik Bulan, merematnya berulang kali hingga lingkaran tangan Bulan semakin mengetat. Guntur mengangkat tubuh mungil ini dan kedua kaki itu melingkar di pinggangnya, semakin memperdalam ciuman panas yang mereka lakukan.
***
"Kami akan menikah dengan kehadiran kita saja bersama Assisten Dika, Pa."
"Lah--kenapa begitu?" Papa Perkasa terkesiap mendengarnya
"Papa belum tahu berita model Mentari yang menghilang itu?" tanya Guntur, kebetulan di ruang kerja milik Papanya ini hanya ada mereka berdua. sedangkan Bulan sedang duduk di ruang tamu seorang diri sembari menikmati suguhan cake yang Bibi siapkan.
"Tentu saja Papa tahu."
"Nah, itulah alasanku untuk menikah tanpa mengabarkan keluarganya. Bulan akan shock jika ia tahu keadaan kembarannya."
"Jadi dia tidak tahu mengenai hal ini?"
"Tidak, dan aku tidak mau dia sampai kepikiran tentang kembarannya itu."
Papa Perkasa menyipitkan mata menatap putranya ini, seperti ada yang mengganjal atas perkataannya. ya, bahkan Bulan tidak tahu berita terkini yang sedang hangat-hangatnya dikancah televisi maupun media sosial lainnya. apakah wanita itu tidak memegang ponsel? apakah tidak pernah menonton televisi sedikit saja? pikirnya
"Kau mengekang Bulan di Apartement mu?" tanyanya
"Maksudnya?" Guntur bingung
"Ck! kau pasti melarangnya menonton televisi dan memegang ponsel. bahkan mungkin, kau melarangnya untuk berinteraksi dengan orang-orang diluar sana." tebaknya, feeling-nya berkata seperti itu
Sontak saja Guntur menelan salivanya dengan kasar.
__ADS_1
πΊπΊπΊ