
πΊπΊπΊ
Suara deheman seseorang sontak menghentikan kegiatan yang baru saja mereka lakukan. Bulan dan Guntur terhenyak bersamaan tatkala keduanya terpergok oleh Papa Perkasa yang baru saja memasuki ruangan. Bulan berdeham, berusaha menetralisirkan perasaannya. saat ini ia benar-benar canggung dan merasa tak ada muka dihadapan mertuanya ini. gadis itu menundukkan kepala menutupi kegelisahannya. sedangkan Guntur, pria itu menjadi salah tingkah menatap sang ayah. ia mengusap tengkuk leher sembari cekikikan.
"Dasar anak muda! ada apa kemari? tumben." Papa Perkasa membenamkan bokongnya diatas sofa tunggal, menatap anak dan menantunya yang sama-sama merasa malu. ia terkekeh didalam hati
"Hmmm ... nggak ada, Pa. kami mau pulang." ucap Guntur, diangguki oleh Bulan yang masih menunduk
"Ck! buru-buru amat! kemarilah duduk." Papa Perkasa menepuk sofa disisinya
Bulan dan Guntur saling pandang seolah meminta pendapat. lelaki ini menganggukkan kepalanya dengan pelan, meraih tangan sang gadis dan membawanya menghampiri sang ayah. keduanya membenamkan bokong di sofa memanjang dengan hati yang berdebar-debar.
"Gimana keadaan kamu, Ntur? udah mulai ada peningkatan sama kejiwaannya, Bulan?" tanya Papa
"Sudah lumayan, Pa. Guntur tidak seburuk sebelumnya." jawab Bulan
"Hhh ... syukurlah. Papa tidak sabar untuk mengalihkan perusahaan kepada kamu, Gun." lelaki itu bernafas lega
"Nanti dulu lah, Pa. aku ingin bersama istriku dulu." tukas Guntur
"Ck! tentu saja nanti setelah aku mendapatkan surat keterangan bahwa kamu sudah benar-benar sembuh. lagian--sepertinya setiap detik kau bersama istrimu terus, lengket kayak cicak sama tembok." sindirnya, mengingat pemandangan sang putra sedang menghujami leher Bulan dengan bibirnya, ditambah lagi tangan nakal itu meremas payudara sang menantu. sontak mendengar sindiran itu, Bulan kembali menunduk dengan pipi yang bersemu merah. sungguh, ia merasa malu sekali. ini semua karena ulah suaminya yang sangat lancang.
"Oh, jelaslah, Pa! namanya pengantin baru, gairah anak muda yang sedang berkobar-kobar. emangnya situ--masa tuanya melajang." balas Guntur yang terdengar menohok hati sang ayah. namun pria parubaya itu tidak ambil hati, ia tahu putranya sengaja memanasi hasratnya.
__ADS_1
"Ya ya ya, maka dari itu menurutlah sama istrimu, ya! kalau tidak menurut, jangan kasih dia jatah, oke, Bulan?" tatapannya mengarah menatap gadis itu
Bulan mengangguk, pria itu tersenyum miring kepada putranya. "Suruh dia untuk selalu rutin terapi, kalau tidak, jangan manjakan ubi kayunya."
Bulan cekikkakn mendengarnya. lagian memang benar, lelaki itu harus menurut padanya agar sang ubi kayu bisa dimanja dengan penuh gairah. sedangkan Guntur mencebik kesal mendengar ucapan Papanya.
***
Menjelang gelapnya suasana di Ibukota sekaligus menanti sunset yang diidamkan banyak orang, Bulan dan Guntur lebih memilih untuk berenang di balkon yang berukuran beberapa meter itu. tidaklah luas, namun cukup untuk memanjakan tubuh didalamnya. Bulan bersandar pada tepian pembatas dengan kedua tangan bersila didepan dadanya, sedang kedua kakinya berayun-ayun didalam air. ia menatap hamparan kota yang penuh dengan gedung-gedung menjulang tinggi, dibawah sana terdapat ribuan kendaraan berlalu lalang yang terlihat bagaikan semut. Bulan bergidik ngeri membayangkan posisinya kini, jarak permukaan tanah hingga ditempat ia berpijak sangatlah tinggi.
"Sayang." Guntur mendekat, memeluknya dari belakang. pria itu baru saja berenang beberapa kali putaran.
"Hmm?"
"Apa yang kamu lihat, hm? serius amat."
"Aku baru sadar kalau posisi kita ada diketinggian. gila amat aku nggak menggeletek sedikit pun ada ditepi pembatas ini." imbuhnya yang tidak menyangka
"Itu karena kamu belum sadar dan tidak mempedulikan posisimu. sekarang setelah kamu perhatikan pasti tubuhmu menegang ada disini, kan?" tanya Guntur, mengecup pundak telanjang Bulan
Wanita itu mengangguk membenarkan. "Iya." Bulan meringsek, ia ingin pindah menduduki tubuhnya ditepi kolam. Guntur mengekorinya, menyandarkan kepala dipaha mulus gadis ini
"Is, kamu ngapain disitu sih? risih tau." desisnya
__ADS_1
"Emang nggak boleh?" lelaki itu mendongak menatap wajah cantik istrinya, lalu tangan nakalnya sengaja menyentuh pusat v milik Bulan
"Ih! berenang sana!" Bulan menaikkan kedua kakinya hingga menginjak lantai, ia berusaha bangkit untuk menghindari lelaki ini. mungkin ada baiknya ia membersihkan diri sekarang juga.
Namun saat tubuhnya ingin bangkit berdiri, pria itu malah menarik tangan Bulan yang sontak membuatnya terkejut dan langsung menghambur membentur tubuh Guntur. cipratan air menjulang ke atas, tubuh sepasang insan ini telah hanyut didalam sana.
"Haah!!" Bulan berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, ia mengusap permukaan wajahnya dengan tangan
"Hahahahaha .... makanya jangan bandel! tetap disini bersamaku." Guntur malah tertawa, sedikit ada perdebatan ditengah kolam renang itu
"Aku sudah masuk angin, tau! jahat amat sih." Bulan meninju dada bidang itu
"Heleeeh ... alasanmu saja." cibir Guntur tidak percaya. Bulan memutar bola matanya merasa jengah
"Sudah gelap, aku pengen mandi."
"Yaudah ayo kita mandi bersama."
"Apa?? nggak-enggak! yang ada bukan mandi."
Guntur menyeringai, walaupun Bulan menolaknya namun Guntur tetap mengikuti langkah wanita yang berpakaian bikini ini sedang mengenakan kimono untuk menghangatkan tubuhnya. Guntur sempat menelan saliva dengan kasar kala menatap lekuk tubuh bagian belakang itu.
πΊπΊπΊ
__ADS_1