
πΊπΊπΊ
Guntur menelan salivanya dengan kasar melihat bibir ranum bak buah cherry yang sedang manyun dipamerkan kepadanya, seketika hasrat kejantanannya meronta-ronta menatap pemandangan itu. daster yang seksi menampikkan dada terbukanya hingga belahan itu terlihat jelas. dengan ragu-ragu Guntur mengulurkan tangannya untuk menyentuh tengkuk leher sang istri, menekan kepala gadis tersebut dan menenggelamkan bibirnya di bibir sang Rembulan.
Mengecup saja tidaklah cukup, sentuhan itu terus saja membakar gairah yang telah memanas. membuat niat awal telah berubah haluan menjadi sesapan liar, mengulum dengan kuat, sampai sensasi yang ditimbulkan terasa nikmat.
Bulan menarik tengkuk leher suaminya, sedang tubuhnya ia jatuhkan perlahan ke atas kasur, seolah Bulan ingin melakukan hal yang lebih dari ini, menghabiskan malam panjang dengan gelora hasrat yang telah membara.
"Aku ingin lebih, nggak masalah, kan?" lirih Bulan, tangannya membingkai wajah Guntur yang teramat tampan
"Hanya orang gila yang mempermasalahkan hal ini, Sayang." bisik Guntur
"Tapi kau gila, benar tidak masalah?" Bulan memiringkan sebelah sudut bibirnya
"Gila versiku malah ingin melahapmu terus, kamu tau, aku jadi lapar karna ulahmu." tanpa banyak kata lagi Guntur langsung melepaskan seluruh pakaian mereka, menenggelamkan wajahnya diantara bukit indah yang tampak menggoda.
Hingga pergumulan panas kembali terjadi kala dinihari hampir menjelang pagi.
Tepat pukul lima pagi, percintaan panas telah selesai. entah berapa jam keduanya bercinta namun berhasil membuat tenaganya terkuras. Guntur menjatuhkan tubuhnya disamping Rembulan, dengan nafas yang masih tersengal-sengal setelah beberapa kali mencapai pelepasan yang begitu indah.
"Ayo kita tidur, baru jam lima." Bulan melingkarkan tangannya dipinggul pria itu, menenggelamkan wajahnya disela-sela ketiak yang menjadi tempat terfavoritnya. keduanya pun kembali terlelap, alih-alih untuk memulihkan tenaga yang telah habis tanpa sisa.
***
Tok tok tok
Ketukan pintu ditempat yang hening ini terdengar menggema oleh sepasang telinga yang pemiliknya masih terlelap. sontak ia merasa terganggu dan langsung terbangun. dialah Bulan, mendudukkan tubuhnya sembari merenggangkan otot-ototnya yang kaku. hingga ia terlonjak kaget kala knop pintu ditekan dan daun pintu mulai didorong. sontak saja Bulan langsung bangkit dan berlari terbirit-birit memasuki kamar mandi dengan tubuhnya yang masih telanjang.
__ADS_1
"Aih, enak sekali tidurnya." seorang Sipir menggeleng-gelengkan kepala melihat tahanannya masih terlelap, ia mengambil piring tadi malam dan menggantikannya dengan piring yang baru.
Seketika ia menggelengkan kepala kala melihat makanan sisa masih tampak utuh tanpa disentuh.
"Apa-apaan dia benar-benar nggak mau makan." gumamnya sembari menatap Guntur
"Hei-hei, bangun!" ia mengguncang tubuh Guntur dengan kasar, suaranya yang menggelegar sontak membuat pria itu tersentak.
"Bulan!" raungnya.
"Nggak ada bulan dipagi hari! bangun dan sarapan! hebat sekali kau makanan tadi malam tidak dimakan, sekali lagi itu nggak dimakan jangan harap dapat jatah lagi!" ancamnya, kemudian Sipir itu pun melenggang pergi meninggalkan ruangan tersebut, tak lupa mengunci pintu demi keamanan tahanannya.
Guntur masih setengah sadar, tidak terlalu mempedulikan ancaman pria tersebut. ia malah sibuk pelanga-pelongo mencari sang istri.
"Bul ... sayang!"
"Kamu disana? aku kira sudah pulang."
"Hm. jadi kamu nggak makan malam?" tanya Bulan dengan wajah datar menatap suaminya
Guntur menggeleng. "Aku mual mencium baunya, sepertinya mereka sengaja memberikanku makanan basi." ujar Guntur, ia mengendus, tiba-tiba aroma makanan itu kembali merasuki indra penciumannya.
"Kenapa?" Bulan mengernyitkan dahinya
"Makanan itu buang, Sayang, sangat bau. uuuk!" ucapnya dengan terbata-bata, menahan rasa gejolak yang menyiksa telah kembali muncul
Bulan mendekatinya, mengambil sepiring nasi dengan lauk lengkap, tak lupa mengendus aromanya. sangat wangi seperti aroma masakan lainnya, tapi entah mengapa malah terasa bau dipenciuman suaminya.
__ADS_1
"Uuk!"
"Wangi kok."
"Uuk!" Guntur tak tahan lagi, ia langsung berlari ke kamar mandi dan membuang segala pelik yang menyiksa organ dalamnya sedari tadi.
Uwek!!
Uwek!!
Bulan tampak khawatir, terlihat jelas diraut wajahnya. ia menyusul suaminya, mengusap-usap punggung kokoh yang terlihat tak berdaya ini. Guntur terus saja memuntahkan segala yang ada didalam perutnya, namun hanya cairan itu lagi tanpa adanya pangan seperti muntah pada umumnya.
Setelah cukup tenang, Guntur membasuh wajahnya dengan air bersih dengan menggunakan gayung. sedangkan Bulan bergegas mengambil air putih untuk suaminya.
"Minum dulu."
Guntur mengangguk, ia segera menenggak air tersebut hingga tandas. seketika ia menghembuskan nafas lega.
"Buang makanan itu ya, atau kamu yang habiskan. aku benar-benar nggak suka sama baunya." lirihnya lemah
Bulan mengangguk, ia merasa iba jika semakin dipaksa.
"Baiklah, tapi kamu makan makanan yang aku bawa tadi malam, ya ... tapi maaf kalau nasi dan lauknya tidak hangat lagi."
Guntur mengangguk menyetujui. keduanya pun keluar dari kamar mandi sembari Guntur menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan, alih-alih tidak ingin aroma itu terhirup lagi.
πΊπΊπΊ
__ADS_1