
πΊπΊπΊ
Bulan dan Guntur sedang berada dikediaman Papa Perkasa untuk memberikan keputusan yang telah ia selidiki selama hampir seminggu ini. keluarga kecil itu menikmati makan malam bersama terlebih dulu sebelum mengungkapkannya. hanya terdengar dentingan sendok yang berbentur pada piring bundar, menandakan lauk yang tersedia begitu menggugah selera hingga sang pelahap tampak tak bisa bersantai untuk menikmatinya.
"Jadi gimana keputusan kamu, Gun?" tanya Papa Perkasa tak sabaran, membersihkan area mulutnya dengan tissu seusai makan
Guntur menoleh kepada Bulan, yang ditatap juga menatapnya. pria berusia hampir seperempat abad ini pun menarik nafas dalam-dalam terlebih dulu. "Dari mana Papa kenal dengannya?" bukannya memutuskan malah mengintrogasi sang ayah terlebih dulu
"Dari kantor, dia kepala cleaning." jawabnya alakadar
"Sudah berapa lama dia bekerja disana? kok aku nggak pernah nampak, ya?" Guntur menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Kamu nggak tau? sudah enam tahun lho, dia bekerja ditempat kita."
"Iyakah?" Guntur sedikit kaget.
"Wajarlah nggak pernah nampak, perusahaan kan luas, apalagi Tante Anna posisi sebagai kepala." sahut Bulan
Guntur menyimak. "Terus gimana ceritanya Papa bisa dekat dengannya?"
"Awalnya itu dia datang terburu-buru masuk ke kantor, saking terburunya dia hanya menyapa Papa sekilas lalu berlari mendahului Papa. lucu sih nampaknya," Papa tersenyum-senyum mengingat kejadian dua bulan yang lalu itu. "Lalu?" tanya Guntur, Papa pun menceritakan segalanya kepada putra dan menantunya ini. bahkan ia pernah bertemu dengan putri Anna yang terlihat sedikit judes dan dingin, namun ia tak masalah setelah mengetahui penyebab calon anak sambungnya berwatak seperti itu.
"Jadi apa keputusan kamu? dari tadi nanyain Papa mulu." gerutu Papa Perkasa
"Kalau Papa udah merasa sangat yakin dengan pilihan Papa, aku akan terima asal dengan syarat---"
"Apa?"
"Jangan wariskan harta Papa kepada mereka walau secuil. cukup Papa kasih jajan aja tuh orang." ketusnya
"Ck! kau malah mikirin harta." Papa tergelak
__ADS_1
"Karna harta tu biangnya, Pa. bisa aja dia pura baik sama Papa demi harta. siapa tau dia punya kekasih lain dan berambisi ingin merebut harta kita." Guntur dengan segala kecemasannya, sudah menerka-nerka keburukan sebelum hal itu benar terjadi
Papa menganggukkan kepalanya, ia begitu paham dengan perasaan putranya yang telah mengalami banyak pengkhianatan. pengkhianatan dari kekasih, teman-teman sekolah, bahkan sang ibunya sekalipun yang seharusnya memberikan contoh baik kepada putranya.
"Papa paham itu, kamu tenang saja ya."
Guntur mengangguk, ia menoleh ke samping dimana Bulan sedang mengusap pundaknya seolah memberikan ketenangan.
***
Disisi lain, Anna sedang menonton televisi dikediamannya. sinetron peringkat teratas yang kini menjadi tontonan favoritnya. sedangkan putrinya, berada didalam kamar yang entah ngapain. Anna pun tidak terlalu mempedulikannya.
Anna terkesiap mendengar suara mesin mobil yang berhenti tepat dikediamannya, beberapa saat setelahnya terdengar ketukan pintu yang berasal dari rumahnya sendiri. Anna cepat-cepat menghampiri ruang tamu, memutar kunci lalu membuka pintu untuk tamunya.
"Mas!"
"Hei."
"Kalian kesini? kok nggak bilang-bilang? mari masuk!" Tante Anna mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam rumah sederhana ini
Mereka mengekorinya.
"Mari duduk, Mas, Nak Guntur dan Bulan. saya buatkan minum dulu, ya?"
"Nggak perlulah, Na, kita nggak haus kok."
"Eh?"
"Duduklah, usah repot-repot." titah Papa Perkasa
"Hmmm ..." Tante Anna tampak bingung, dengan ragu ia pun menurut saja
__ADS_1
Kini mereka berempat duduk berhadapan-hadapan di ruang tamu tersebut.
"Guntur udah merestui kita," ucap Papa
"Benarkah?" Tante Anna tampak kegirangan sekali, diangguki dengan dingin oleh pria muda itu
"Iya, jadi--kapan hari baiknya untuk kita melangsungkan---
Tit tit tit
Bunyi klakson mobil menghentikan sejenak kalimat yang diutarakan Papa Perkasa, semua orang menoleh keluar untuk melihat siapa yang datang. terdengar embusan nafas kasar dari hidung wanita parubaya ini tatkala telah mengetahui sosok yang mengemudikan kendaraan tersebut.
Mereka berempat pun dikagetkan oleh suara cempreng milik seorang gadis. "Mama!"
"Ya??" sahut Anna dari ruang tamu, gadis itu pun menunjukkan jati dirinya kepada para tamu setelah mendengar asal suara itu.
"Ma, aku--eh, om ...." putrinya menyapa dengan senyum cengir yang dipaksakan, kemudian pandangannya terpaku menatap sepasang suami istri muda tersebut
"Hei, Clara." sapa Papa Perkasa, diangguki gadis tersebut.
"Ck! tidak ada sopan santunnya! bahkan tak ada niat menyalimi tangan Papa." bisik Guntur kepada istrinya, ia benar-benar tidak suka dengan gadis ini
"Ma, aku berangkat, ya?" ia melenggang keluar
"Tunggu!!" cegah Anna, mamanya. gadis itu berbalik badan dan mengangkat kedua alisnya. "Ya, Ma?"
"Buatkan minuman dulu buat calon Papa dan kakak-kakakmu." titah Anna, gadis itu terperangah, mulutnya menganga mendengar perintah sang ibu
"Tapi, Ma ...."
πΊπΊπΊ
__ADS_1