
πΊπΊπΊ
Bulan melucuti seluruh balutan benang yang membungkus kulit mulusnya, memasukkan dua helai kain itu ke dalam keranjang pakaian kotor. kemudian pengait bra berusaha ia jangkau untuk melepaskannya, setelahnya balutan segitiga yang membungkus mahkota berharga. Bulan terpaku tak mendapati sisa-sisa kotoran merah di sehelai kain bagian bawah itu.
"Sudah selesai, siap-siap aku diterjang lagi sama dia." gumamnya, mengingat beberapa hari terakhir Guntur selalu menanyakan masa haidnya sudah kelar atau belum. pria itu menanggapinya dengan lesu tiap kali Bulan mengatakan belum.
Bulan tersenyum menyeringai, entah apa maksud senyuman misterius itu. dengan segera ia menyalakan shower air, tapi sebelum mandi seperti biasanya, ia lebih dulu mandi suci selepas hadas besar yang baru ia alami.
Aroma wangi menguar dari dalam tubuhnya, namun hanya ia yang bisa menikmati aroma tersebut, tiada yang lain. suaminya, Guntur, pria itu tengah pergi entah ke mana sejak kepulangan mereka dari Psikiater yang pernah menangani Guntur setahunan yang lalu. dan kini ia kembali lagi untuk menjalankan terapi pengobatan.
Setelah mendengarkan cerita Bulan tentang kondisi suaminya sejak awal mereka ketemu, Dokter sedikit terkejut dengan keadaan mantan pasiennya itu yang semakin menjadi-jadi akan amukan yang entah apa sebabnya. mulai memarahinya, memperkosanya, menghancurkan barang-barang, bahkan yang lebih parah adalah melukai dirinya sendiri. Bulan sengaja mengatakan dengan jujur, tapi tidak untuk menyiksa para tawanan yang entah di mana. sisi lain hatinya masih merasa takut dengan ancaman lelaki ini, sang suami. hingga Bulan memperkenalkan dirinya sebagai istri yang siap menyokong Guntur untuk kembali pulih dari masa trauma dan dendam yang tersimpan di lubuk hatinya.
Bulan juga mengatakan keadaan Guntur yang semakin membaik, tidak pernah lagi memarahinya dan melukai diri sendiri. tapi masih acap kali melampiaskan amarah dengan benda-benda yang tidak bersalah. semua itu tak luput dari instruksinya agar sang suami cepat melupakan rasa amarah itu.
Bulan telah selesai berpakaian, mengenakan kaos dan celana sebetis, menampikkan gaya santai pada diri wanita itu. Bulan menggulung rambutnya membentuk sanggul setelah rambut hitam kecoklatan itu ia keringkan. dengan langkah cepat ia menuruni tangga, langkah kakinya menuntun tubuh itu bertandang ke dapur untuk mempersiapkan makan malam yang sebentar lagi akan tiba.
Sibuk berkutat dengan alat dapur, mengiris bahan masakan dengan benda tajam yang ia genggam, tiba-tiba ia menggeliat merasakan geli pada ceruk lehernya, ia sedikit kaget merasakan kedua tangan yang melingkar diperutnya. Bulan menghentikan kegiatannya sejenak.
"Gun."
"Aku pulang, Sayang, maaf lama ya." Guntur masih asyik mengecup-ngecup leher jenjang sang istri
__ADS_1
"Kamu ke mana aja, hm?"
Guntur terdiam sebentar, tidak mungkin ia mengatakan jika baru selesai menyiksa tawanannya di pelosok Hutan. ia sudah berjanji kepada wanita ini untuk menghentikan kejahatan itu.
"Ke rumah Papa, Yang." jawabnya
"Oh." Bulan mengangguk paham, kemudian mengendikkan bahunya berusaha untuk melepaskan diri dari tingkah nakal pria ini
"Lepaskan ... aku mau masak." desahnya
"Apa sudah selesai, hm?" Guntur membalikkan badan Bulan untuk menghadapnya, menatap bibir itu dengan penuh damba dan langsung membenamkan miliknya di sana
"Eeeeengh!" Bulan meronta, mendorong dada bidang lelaki ini
"Haid, tentu saja haid." tatapnya dengan penuh nafsu kepada Bulan, kedua tangannya meraba tubuh belakang Bulan, dari punggung turun ke bokong montok dan bersiap menyelinapkan tangannya ke dalam celana itu. namun langsung ditepis oleh Bulan.
"Belum. bersabarlah, besok sudah siap."
"Sudah berapa hari ini, hm?"
"Baru enam hari, Gun."
__ADS_1
Guntur mencebik, melengos ke arah lain sembari berdecak frustasi. "Kenapa wanita mesti ada menstruasi sih? kenapa nggak kayak mimpi basah aja yang cuma sekali." gumamnya
"Hei, kamu harus beruntung karna aku termasuk wanita subur yang akan siap menerima benihmu." Bulan menangkup kedua pipi lelaki ini, sedikit memberikannya pengertian sekaligus meredam emosinya. begitulah kata Dokter, Bulan harus pandai meredam emosi lelaki gila ini
Seutas senyum tipis terbit di sudut bibirnya. "Benarkah? setelah ini kamu pasti hamil, kan?" matanya berbinar-binar
"Banyak berdoa kepada Allah dan jalani sholat, Insha Allah kita akan diberi anugerah terindah darinya. lagi pula dengan beribadah, hatimu akan merasa tenang dan setan-setan dikepala dan hatimu itu akan minggat."
"Ck! setan? emangnya ditubuhku ini banyak setannya, apa?" Guntur tergelak
Bulan senang melihat gelak tawanya. "Ya, tentu saja. setan juga yang sudah membisikkanmu untuk memperkosaku. dasar!" Bulan tergelak, memukul pundak lelaki dihadapannya. bahkan tubuh mereka tak berjarak, hanya bagian dada hingga kepala yang hanya berkisar sejengkal.
"Karna aku menginginkan kamu, kamu milikku selamanya."
Ya, aku menginginkan tubuhmu yang masih suci itu, Bulan, kamu canduku. batinnya
"Ohya? gombal!" wanita itu tergelak, kedua tangannya meraih tangan Guntur yang masih betah melingkar di pinggulnya. Bulan berusaha melepaskannya, namun Guntur semakin mengetatkan dekapan mereka
"Aku tidak gombal, aku berkata seperti itu karena kamu istriku."
"Eh, hehe, iya benar. aku istrimu, istri yang dinikahkan untuk melampiaskan hasrat tanpa ada rasa cinta." Bulan tersenyum getir, sedangkan Guntur hatinya merasa mencelos.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
Boleh kasih hadiah dan vote nya? π