
πΊπΊπΊ
"Besok? Alhamdulillah ..." Bulan berucap syukur tatkala jadwal persidangan akan dilakukan esok hari pada pukul sembilan pagi.
Begitu gembiranya ia kabar waktu sidang telah tiba, dan Bulan yakin jika suaminya akan ditempatkan ke Rehabilitasi untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
"Ma, Pa, waktu sidang Mas Guntur akan dilaksanakan besok. aaaah ... Bulan nggak sabar nunggu keputusan, semoga saja Mas Guntur ditempatkan ke Rehabilitasi." ujarnya seraya menyodorkan amplop tersebut kepada Papa Perkasa, Papa meraihnya dan turut membaca tulisan demi tulisan dari tinta hitam yang tercantum di selembar kertas itu
"Alhamdulillah ... akhirnya Guntur tidak perlu menunggu lama lagi tentang keputusan hukum." ucap Papa
"Iya, Pa. kasihan Mas Guntur menunggu lama keputusan sidang ini. tapi--Bulan rada-rada takut kalau hasilnya bakal dipidana sesuai pasal yang berlapis." seketika ia tertunduk lesu jika saja keputusan itu terjadi
"Papa sudah membahas ini sama Dokter yang menangani suamimu, enam puluh persen dia memang masih menjalani terapi, bahkan harus. dan perkembangannya hanya sekitar empat puluh persen. itu semua berkat cinta yang kamu berikan padanya." jelas Papa Perkasa
"Jadi ada kemungkinan dia akan di Rehabilitasi." sela Mama Anna yang sedari hanya menyimak, sembari menyiapkan hidangan untuk sang suami dan juga menantunya.
"Aamiin Ya Allah, semoga Mas Guntur cepat sembuh dalam jangka waktu yang cepat. Bulan sangat ingin kalau persalinan nanti ditemani sama Daddynya dedek." ucapnya lirih
"Yang penting kamu harus semangati suamimu supaya dia fokus sama terapinya." Mama Anna mengelus-elus pundak Bulan, Bulan mengangguk seraya mengulum senyum
"Ah iya, Clara mana?" tanya Papa yang baru teringat sama anak tirinya
__ADS_1
"Oh, dia ada tugas tambahan, Pa, menjelang pergantian semester kadang emang gitu." jawab Bulan
"Baiklah, mari kita makan."
Bulan mengangguk cepat, makanan dihadapannya benar-benar sangat menggoda untuk disantap.
Disisi lain, Clara baru saja tiba di sebuah Restoran hanya seorang diri tanpa ditemani oleh siapapun. ia akan menemui Sugar Daddy nya yang mengajak bertemu ditempat ini. Clara mengedarkan pandangan, tampak seorang pria yang begitu mencolok tengah melambaikan tangan padanya. seketika Clara tersenyum, ia kembali melanjutkan langkah menghampiri lelaki parubaya tersebut.
"Hai, Om."
"Hai, silakan duduk."
Clara mengangguk, mendudukkan tubuhnya dihadapan lelaki tersebut.
"Hmmm ... sama deh kayak Om, apapun yang Om suka, aku suka." ucapnya, masih memamerkan senyum manis untuk pria tampan dihadapannya.
Tuan Felix memanggil pelayan, menyebutkan menu makanan yang paling terlezat di Restoran ini. seketika saja Clara menelan salivanya dengan kasar kala mendengar nama menu yang kebarat-baratan baginya. namanya saja sudah keren, pasti makanannya juga tak kalah keren dari namanya, dan dipastikan rasanya sangat lezat.
"Clar."
"Ya, Om?"
__ADS_1
"Sorry, ya ... kalau Om nggak manggil kamu lagi, Om merasa kurang enak sama keadaan yang tertimpa keluarga kamu, apalagi Tuan Perkasa yang jatuh sakit beberapa hari ini, tidak mungkin kan Om tega menyuruhmu bekerja. pasti mereka sangat membutuhkan kamu."
"Iya, Om. nggak apa-apa kok, aku paham. apa lagi Kakak iparku sampai shock banget dengar kabar suaminya dipenjara. ditambah Papa sampai jatuh sakit, aku jadi nggak tega buat ninggalin."
Tuan Felix tersenyum, pandangannya teduh menatap gadis baik dihadapannya.
"Ternyata kamu gadis baik dan peduli, ya ... padahal Om menilai kamu tuh orangnya cuek sama sekitar."
"Tengok keadaan dulu, Om, kalau mau bersikap cuek." Clara terkekeh, pesanan pun datang menghampiri meja yang ditempati mereka.
Hampir memakan banyak waktu untuk sekedar makan siang, kegiatan keduanya pun telah selesai dengan perut yang sama-sama kekenyangan. Clara menyeruput mocktail miliknya, kemudian mengusap area bibirnya dengan tissu.
"Clara, Om mau ngomong sesuatu yang penting buat kamu."
"Apa tuh?"
"Jangan lanjutin lagi pekerjaan itu, kamu masih sangat muda dan sangat disayangkan jika kamu masih melakukannya. lagi pula hidup kamu sudah terjamin, biaya kuliah, jajan, sudah ada Tuan Perkasa yang menanggung. jadi--hentikan ya, sayangi tubuhmu."
Clara mengernyitkan dahinya.
"Maksudnya, Om memecat aku gitu? nggak mau lagi jadiin aku simpanan Om?"
__ADS_1
πΊπΊπΊ