
πΊπΊπΊ
"Baru pulang, Le?" seorang pria tua duduk dikursi goyang sambil membaca koran, berusia sembilan puluh enam tahun dalam keadaan kondisi sehat. ia menyapa cicitnya yang berseragam Polisi, baru saja keluar dari kendaraannya.
"Sudah, Kek." ia menyalimi tangan sang Kakek
"Masih mencari lokasi penyekapan?"
Pria itu mengangguk. "Sangat melelahkan, sampai kepenjuru tempat pun belum juga ditemui. termasuk di bangunan kuno yang berada ditengah Hutan."
"Bangunan kuno? ditengah Hutan?" Kakek buyutnya mengernyitkan dahi, diangguki oleh pria tersebut
"Kakek baru ingat kalau Hutan di daerah ini terdapat bangunan bekas penjajahan dulu. Bangunan ditengah hutan itu adalah peninggalan Belanda untuk mengeksekusi tahanannya, sekaligus menjadi tempat tinggal mereka. dulu, Kakek pernah merayap jadi anggota mereka untuk satu misi, yaitu membebaskan masyarakat yang ditahan. Kakek ingat sekali ada banyak mayat yang dibuang didalam ruang bawah tanah."
"Ruang bawah tanah??" Cicitnya menyela
"Ya. bersyukur sekali Kakek bisa bebas setelah ketahuan membohongi mereka. kamu lihat, Kakekmu ini keturunan Belanda Jawa, jadi sangat mudah menjadi penyusup."
"Hmmm .... kalau begitu aku masuk dulu, Kek." pamitnya, diangguki oleh pria tua tersebut.
Setelah mengetahui ada sebuah ruang dibawah tanah, keesokan harinya pria ini pun mengajak anggota untuk kembali menyusuri bangunan ditengah Hutan tersebut. namun sebelum bertindak, mereka semua terlebih dahulu menyusun rencana agar penangkapan dilakukan dengan matang.
Bukan melewati jalan masuk ke dalam Hutan menggunakan kendaraan darat, melainkan dengan Helikopter yang meluncur langsung diatas permukaan sungai. dengan kecerdasan anggota kepolisian, mereka menggunakan petunjuk untuk berhasil tiba di lokasi tersebut.
Saat itu Guntur dan anak buahnya sedang menyiksa tawanan, anak buahnya yang berjaga lewat monitor sontak terkejut melihat banyak aparat memasuki bangunan ini. sontak saja ia kaget, langsung menghubungi Guntur melalui eaephone.
"Sial! benar dugaanku!" umpat Guntur memperhatikan layar monitor
"Bagaimana kita mau lari, Tuan? mereka memeriksa seluruh lantai."
__ADS_1
"Mereka sudah tahu ruangan dibawah ini, Tuan!" sahut yang lainnya
"Astaga! apa kau tidak periksa jalan masuk, hah?" Guntur menatap tajam ke salah satu anak buahnya
"Benar-benar tidak ada, Tuan. sepertinya mereka melalui jalan lain."
"Oh, ****!!"
Gubrak!
Sayup-sayup Guntur dan anak buahnya mendengar pintu masuk ke ruang ini telah dibuka, sontak ketiganya terbelalak dan tidak bisa berkutik lagi. mereka telah ketahuan, derap langkah kaki terdengar menggema ditempat tersebut. Guntur mengedarkan pandangan menatap ke sekeliling mencari perlindungan.
"Ayo bersembunyi!"
Disisi lain, Mentari yang terduduk lemas setelah dijadikan mainan oleh pria bertopeng itu, terhenyak kaget mendengar pintu didobrak keras. dua orang berseragam polisi membuat kedua sudut bibirnya mengembang untuk pertama kali. matanya berbinar-binar sekaligus berkaca-kaca, merasa bersyukur ada orang lain telah mengetahui tempat terkutuk ini
"Emmmmh!" Mentari bergumam
"Tolong ... terima kasih." lirihnya dengan nada lemas, Mentari langsung jatuh tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri saat itu juga.
***
"Bulan ..."
"Aku disini!" Bulan mengecup-ngecup punggung tangan suaminya dengan penuh cinta, pria itu tersadar dari tidur panjangnya setelah disuntik obat tidur oleh pihak medis
"Maaf." kata-kata itu keluar dari mulutnya untuk sang istri, ia sungguh menyesal tidak bisa menghindar dari aparat polisi yang berhasil menangkapnya, namun ia juga merasa lega telah membalas dendam kepada para tawanannya
Bulan mengangguk seraya mengulum senyum.
__ADS_1
"Maaf juga sudah menyekap Mentari, a-aku tidak menepati janjiku padamu. tapi inilah sesungguhnya misiku, Bulan."
Bulan terdiam seiring senyum memudar
"Mungkin kamu bertanya apa hubungannya sama kamu, karena--" Guntur menghirup udara sebanyak-banyaknya, ini berat sekali untuk mengutarakannya. "Sudah, Gun! jangan dilanjutkan." lerai Papa Perkasa, ia tak ingin melihat sang menangu merasa shock untuk kedua kalinya lagi
"Tidak apa-apa, Pa. Bulan berhak tau apa alasannya dan Bulan akan menerimanya." ucap wanita berbadan dua ini
Papa Perkasa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bulan kembali menoleh menatap Guntur, menanti kalimat yang ingin tercuat.
"Kakakmu menuduhku seorang impotent, melihat dia punya kembaran yaitu kamu, seketika ragaku sangat menginginkan kamu sebagai objek eksperimen. dan Pa--sebenarnya kami bukanlah sepasang kekasih pada saat itu dan aku bersyukur Bulan bersedia bersamaku, menemani aku untuk kembali menjalani terapi."
"Itulah alasanku, Bul. seiring berjalannya waktu, aku mulai mencintaimu hingga saat ini."
Bulan masih terdiam, ia terpaku mendengar penuturannya. dan ia hanya dijadikan alat percobaan? rasanya sangat sakit, namun Bulan mencoba untuk tersenyum dan tetap tenang.
"Kamu marah? itu hak kamu, marah lebih baik dari pada dipendam." ucap Guntur menatap lekat wajah sang istri
Bulan menggeleng kemudian mengangguk, membuat pria itu heran sama tanggapan gadis ini. "Iya, aku marah tapi aku tidak bisa marah lama-lama." ia cekikikan
"Ck! tanggapan apaan itu." Guntur mengulurkan tangannya ingin menghapus buliran air mata yang mulai membasahi kelopak mata sang istri
"Aku marah dijadikan alat oleh kamu, tapi aku juga senang bersama kamu. seperti janjimu untuk tidak melukaiku dan sikap itu membuatku sadar kalau perasaanmu terbalaskan." Bulan berhambur memeluk tubuh suaminya
"Perasaanku terbalaskan?"
πΊπΊπΊ
Mewek, uy π
__ADS_1
Btw Guntur mau dipenjara berapa tahun, guys?
menurut hukum atau menurut seenak jidatku saja? π