
πΊπΊπΊ
"Ma, a-aku di mana?" lirih Papa Perkasa kala kelopak matanya telah terbuka sempurna, pandangan pertamanya mengarah kepada sang istri yang senantiasa duduk disampingnya dengan kepala disandarkan pada ranjang
Mama Anna sontak kaget mendengar suara sang suami, ia mengangkat kepalanya seraya sudut bibir yang mengembang. "Mas, kamu sudah siuman?" matanya berbinar-binar menatap tubuh ringkih tak berdaya ini
"Sudah, aku di Rumah Sakit?" tanyanya, diangguki oleh perempuan itu
"Hmmm," Papa Perkasa sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat kondisinya sendiri. "Apa yang terjadi?" matanya membelalak melihat beberapa alat menempel didadanya, sebuah Holter untuk mendeteksi irama jantung, detak jantung pada tubuh Tuan Perkasa.
"Tenang, Mas. kamu baru saja mengalami serangan jantung tadi pagi." Mama Anna membantu mendudukkan suaminya
"Serangan jantung??"
Mama Anna membenarkan, tampak Papa Perkasa mengusap wajahnya dengan kasar. "Aaakh, penyakit lamaku kambuh lagi." sesalnya
"Sudah, jangan disesali. kamu itu terlalu capek kayaknya, ditambah lagi sedang stress sama kasus Guntur. jangan banyak pikiran, Mas." nasihat Mama Anna
Papa Perkasa terdiam sejenak memikirkan kejadian beberapa jam silam yang menjadi penyebab penyakitnya kambuh lagi. seketika matanya membulat, ia menatap Anna dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Na, perusahaanku ..."
Mama Anna menelan salivanya dengan kasar. "Sedang diurus sama Assisten Dika dan Nak Bulan, Mas. mereka mengadakan rapat pertemuan pemegang saham untuk membahas alasan mereka kenapa, sekaligus membujuk mereka mencegahi pencabutan saham, yang aku dengar gitu sih."
"Bulan sudah meminta izin kepadamu, maaf kalau dia sudah mengambil posisimu tanpa persetujuan. menantu kita mana mungkin hanya diam saja disaat keadaanmu sedang terpuruk."
__ADS_1
Papa Perkasa masih setia menyimak, ia tertegun dan terhanyut mendengar ucapan istrinya.
"Dia menantu yang baik, kuat dan pantang menyerah. padahal kondisinya sedang mengandung cucuku dan malah menerima kenyataan pahit saat suami tak ada mendampinginya." ucap Papa Perkasa dalam pandangan kosong menatap ke depan, sedikit ada ulasan senyum dibibirnya
"Kamu bangga memiliki menantu sepertinya. ah iya, aku panggil Dokter dulu, ya." Mama Anna menekan tombol penghubung antar pasien dan tenaga medis
"Clara kuliah?" tanya Papa mengingat anak gadis satu lagi
"Iya, Mas. ada ujian hari ini katanya." jawab Mama Anna
***
Disisi lain, Bulan baru saja tiba di Kantor Polisi dengan menenteng makanan siang untuk suami tercintanya. dengan perasaan bahagia telah memenangi hati para investor, dan kini bahagianya semakin membuncah tatkala akan bertemu lagi dengan suami yang teramat ia rindukan.
Bulan keluar dari mobil sport milik suaminya itu, kaki jenjang nan mulus mendarat diatas permukaan tanah dan bersiap melangkah memasuki tempat menakutkan ini. Bulan menghembuskan nafasnya dengan kasar menatap gedung dihadapannya, tak habis pikir tempat ini menjadi pemisah antara dirinya dan juga Guntur.
Kemudian wanita cantik itu mengayunkan kakinya mendekati gedung ini, melangkah memasuki lobi yang langsung dihadapkan dengan meja polisi yang sedang bertugas.
"Pak, saya mau besuk suami saya, Guntur Anderson." ucap Bulan
"Mari ikuti saya." ajaknya, menutup dokumen yang sedari tadi ia pegang.
Bulan menatap heran, petugas itu malah membawanya ke jalan sisi lain, bukannya ke ruang besuk tapi mengarah ke Rumah Sakit yang terletak bersebelahan. Bulan membulatkan matanya setelah tercenung sejenak, apakah suaminya bermasalah lagi hari ini? dengan langkah cepat nan terburu-buru ia mengikuti langkah si bapak itu.
"Suamimu ada di ruangan ini, ingat, jangan memancing amarahnya." tegas Pak Polisi
__ADS_1
Bulan menyipitkan mata. "Apa penyakit suami saya kambuh lagi? dia suka mengamuk berlebihan."
"Ya. dan ingat pesan saya!"
Bulan mengamgguk, ia masuk ke dalam ruang rawat inap yang ditempati suaminya. Bulan tertegun melihat tubuh tak berdaya Guntur terbaring lemah diatas ranjang brankar yang berukuran cukup luas itu. ia mendekat, mendudukkan tubuhnya disamping sang suami
"Maaf, aku baru bisa datang membesuk kamu."
"Onar apa lagi yang kamu buat, hm?" Bulan menggenggam tangan suaminya, mengecup punggungnya berkali-kali dengan penuh rasa sayang
"Kamu pintar banget memilih tempat, pasti maunya tidur dikasur empuk dari pada dilantai sel, kan? kamu memang cerdik." Bulan terkekeh, seiring kilatan bening kembali menumpuk dipermukaan bola matanya
"Bangun dong, aku dan anak kita kangen sama Daddynya. kami juga pengen banget kita makan siang bareng." lirih Bulan, menaruh kepalanya diatas dada sang suami, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Guntur yang begitu menenangkan
"Sayang ..." Bulan menyentuh pipi Guntur, jemarinya bermain dipermukaan wajah sang suami alih-alih ingin mengganggu tidurnya.
Guntur mengerutkan matanya, pipinya terasa geli dimainkan oleh sesuatu. perlahan ia membuka sepasang netranya, plafon putih menjadi pandangan pertama saat ia kembali siuman. Guntur mengernyit lagi melihat jemari tangan mengayun nakal di pipi, bibir dan hidungnya, ia tahan jemari nakal itu dalam sebuah genggaman, aroma khas perempuan yang begitu ia cintai dapat tercium oleh indra penciumannya.
Merasa tangannya digenggam, sontak saja Bulan bangkit menegakkan kepalanya. matanya berbinar-binar menatap suaminya sudah membukakan mata.
"Sayang!!" ia kembali memeluk lelaki tersebut
"Hmmm, aku di kamar ini lagi?" lirih Guntur sedikit linglung
"Ya, kamu pria yang nakal sampai tubuhmu terbaring lagi disini." Bulan mencubit hidung Guntur dengan gemas, kemudian kembali memeluknya untuk menyalurkan rasa rindu yang tidak ada habisnya.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
Minta hadiah dan vote nya dong, Kaka baik, Kaka cantik, Emak super duper gemesin ππ€