
πΊπΊπΊ
"Kamu sudah balik? jam berapa mulai rapatnya?" tanya Papa Perkasa setelah melihat Bulan baru menampakkan diri, gadis itu langsung menyalimi punggung tangan kedua mertuanya
"Sudah, Pa. jam sepuluh tadi, selesai pas mau jam istirahat." jawabnya
"Ma, ini aku bawa buah sama snack." Bulan memberikan buah tangan yang ia bawa kepada Mama Anna yang masih setia menemani suaminya di ruangan ini.
"Terima kasih, ya." Mama Anna dengan senang hati menyambutnya, Bulan mengangguk sembari mengulas senyum.
"Terus, gimana hasilnya?" Papa Perkasa sudah tidak sabar untuk mengetahui keputusan rapat
"Alhamdulillah, Pa, Bulan berhasil membuka hati mereka untuk kembali bekerja sama dengan perusahaan Papa, mereka yang sudah mencabut saham kembali menyuntiknya lagi. tapi ya--asalkan seminggu ke depan harga saham mengalami penaikan atau stabil." jelas Bulan dengan perasaan bahagianya telah memenangi hati mereka
"Serius kamu? Alhamdulillah." pancaran senyum terus terukir disudut bibirnya, Bulan mengangguk dengan cepat bahwa ia benar-benar serius tanpa ada yang ditutup-tutupi
"Papa nggak nyangka kamu melakukan ini, Bulan. terima kasih ya, Nak."
"Sama-sama, Pa. Papa yang sehat, ya, jangan drop lagi." Bulan memeluk sekilas mertuanya itu, Papa Perkasa mengangguk haru sembari menepuk pundak menantunya. ia bersyukur sekali diberikan menantu seperti Bulan yang begitu kuat dan tangguh
Sudah cukup lama beristirahat hingga hari telah menjelang sore, sekarang Bulan berada di ruang Dokter kandungan bersama Mama Anna untuk memeriksa janin yang sedang tumbuh didalam sana. Bulan membaringkan tubuh mungilnya diatas brankar yang bersisian dengan alat-alat USG, Dokter mengangkat sedikit baju perempuan muda itu hingga keatas perut dan lalu mengolesi gel diatas posisi rahimnya agar memudahkan alat pendeteksi untuk memeriksa keadaan didalam rahim.
Bulan tertegun menatap layar monitor dihadapannya, terus menatap lekat walau ia tak mengerti apa yang ia lihat kini. hanya perpaduan warna hitam dan kelabu yang bergerak-gerak, mencari letak janinnya yang entah di mana.
"Hanya ada satu kantung masih seukuran kacang tanah, ini dia." Dokter mengarahkan tanda panah pada monitor kepada bentuk janin yang berbentuk bulat namun terlihat samar
Bulan terkesima memandanginya, begitu pula dengan Mama Anna
__ADS_1
"Usianya sudah memasuki delapan minggu, selamat ya, Nona. janinnya sehat dan berkembang cukup baik." ujarnya
"Delapan minggu?" Bulan tertegun, Dokter membenarkannya. kemudian membersihkan gel diperut Bulan dengan tissu, lalu ia bangkit berdiri ingin melangkah menuju meja kerjanya.
Bulan dan Mama Anna mengikuti langkah Dokter tersebut.
"Apa ada keluhan, Nona?" tanyanya kemudian
Bulan menggeleng. "Kemarin pagi saya sempat demam, Dok. anehnya saya malah ingin jeruk dan mangga asam sampai nggak selera makan apapun. tapi malam tadi sama seharian ini porsi makan saya lumayan banyak. aneh ya ... hehe." Bulan malah cengengesan, namun tidak terdengar lucu oleh kedua wanita itu. terlihat dari ekspresi wajahnya yang hanya bisa mengulas senyum terbaik.
"Mual nggak ada, ya?"
Bulan menggeleng, pandangannya kembali mengarah pada pulpen yang membubuhkan tinta diatas kertas. ia kembali tersadar dan melempar senyum kala dokter menyodorkannya selembar kertas tersebut.
"Saya beri vitamin, obat pereda mual jika terjadi rasa mual, ya ..."
"Iya, itu ada beberapa vitamin untuk menguatkan kandungan kamu dan energi sang ibu agar tidak mudah lelah. ada baiknya juga kalau dikonsumsi susu hamil. dan jangan lupa makan makanan bergizi beserta buah dan sayuran." jelasnya, Bulan mengangguk paham
"Baik, Dok, terima kasih, ya?" Bulan mengulurkan tangan kehadapannya, disambut pula oleh Dokter tersebut.
Usai menembus obat, Bulan dan Mama Anna kembali ke ruangan Papa Perkasa. namun tiba-tiba langkahnya terhenti tatkala ada seseorang yang memanggilnya dari arah samping. Bulan celingak-celinguk mencari keberadaan sang pemilik suara, seketika ia terkesima melihat adiknya datang mendekat.
"Kak Bulan!" teriaknya
Bulan tertegun, pria yang ingin membawanya pergi dan memutuskan tali persaudaraan antar keluarganya dan juga Guntur, datang semakin dekat padanya.
"Ada apa, Bintang! Kakak nggak mau pulang atau pun ikut kalian!" ketusnya
__ADS_1
"Sssttt! nggak boleh ngomong gitu, Bulan." bisik Mama Anna memperingati menantunya, Bulan tak menanggapi, ia masih kesal melihat adiknya ini
"Aku nggak nyuruh Kakak pulang kok. terserah saja kalau keluarga itu yang membuat Kakak bahagia. kata Mami, Kakak memimpin Perkasa Group tadi pagi, ya?"
"Iya. mertuaku sakit, jadi tidak bisa menangani perusahaan yang sedang terancam."
"Ya ampun ... jadi Tuan Perkasa dirawat disini?" tatapan Bintang mengarah sekilas ke kantung kresek ditangan Kakaknya
"Ya, dan ini obat kehamilan aku."
"Sudah berapa bulan, Kak?" pria itu sedikit membungkukkan badannya ingin mengelus perut kakak kesayangannya.
"Sudah dua bulan, Alhamdulillah dia sehat dan pengertian sekali sama Mommynya." Bulan mengulum senyum menatap perutnya yang masih datar
"Syukurlah, jangan terlalu capek, Kak."
"Hm. yasudah, aku mau ke ruang mertuaku dulu." Bulan kembali melangkahkan kakinya ingin melanjutkan perjalanan. namun lagi-lagi lelaki itu mencegah langkahnya.
"Tunggu!"
"Apa lagi, Bin?"
"Kakak nggak niat jenguk kembaranmu?" nada suaranya melemah
Bulan tertegun sejenak, ia pun mengulum senyum. "Kenapa kamu yang sibuk? orang dia pasti happy nggak ada aku."
Tadi pagi aku kesana tapi Mami merusak moodku. batinnya
__ADS_1
πΊπΊπΊ