Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Cerita Bulan


__ADS_3

🌺🌺🌺


"Kak ... Mentari .... haaaaah!!" Bulan membuka kelopak matanya dengan kasar beriringan dengan perasaannya yang tak karuan. detak jantungnya berdetak kencang dua kali lipat lebih cepat, dadanya naik turun dengan nafas yang menggebu-gebu seperti habis dikejar-kejar oleh setan.


Bulan ingin bangkit, namun pinggulnya terasa berat bagaikan ada beban yang menimpanya. Bulan mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat kebawah, ia terbelalak ada sebuah tangan yang melingkari tubuhnya. sontak gadis itu menoleh ke belakang, sosok suami tengah terlelap dibelakang tubuhnya yang menyamping.


"Sayang! eh--Gun-tur." Bulan menutup mulutnya, ia menjadi ikut-ikutan memanggilnya sayang segala. Bulan berusaha mengangkat tangan pria ini, lalu tubuhnya beringsut untuk turun dari ranjang. setelahnya ia menaruh tangan itu diatas kasur, hingga Bulan bisa lebih jelas memandang wajah tampan ini.


Ia menjongkokkan tubuhnya, menatap lekat wajah Guntur yang ia rindukan beberapa jam terakhir. Bulan berdecak. "Ck! bisa-bisanya aku merindukan orang sepertimu." ia terkekeh


"Dari mana saja kamu, hmm? aku jadi tertidur karna menunggumu pulang."


"Ah ya ya ya, kamu bilang bakal pulang sore. ya ampun!" Bulan menepuk jidatnya, sungguh membingungkan


"Gun, aku barusan mimpi kakakku. kok aneh ya? apa aku rindu rumah? lagian--untuk apa juga aku pulang ke rumah, yang ada bakal dihajar Mami lagi." Bulan meringis ngilu mengingat keluarganya sendiri memperlakukan seperti babu.


🌿Flashback On🌿


"Selamat ya, Nona, anak keduanya perempuan juga." Suster menunjukkan sesosok bayi kedua yang keluar dari rahim Vega. perempuan itu tersenyum senang, kedua bayi kembarnya lahir dengan selamat. ia menatap suaminya, Cakra, yang turut tersenyum menatap mereka.


"Saya mau lihat." pinta Vega


"Ini, Nona." Suster memperlihatkan bayi mungil itu kepada sang ibu. saat pandangannya menatap putri kedua, tiba-tiba Vega terbelalak melihat wajah bayi tersebut.

__ADS_1


"Bibirnya--sumbing? di-dia ca---aaaahh!!" Vega yang terkejut melihat rupa bayinya, sontak meringis kesakitan pada area v-nya. ia menatap ke bawah, Dokter dan Suster sedang berusaha menghentikan pendarahan yang baru ia alami.


"Da-darah?" Vega shock melihat banyaknya darah yang tergenang dipahanya, sontak saja Vega pingsan dalam pelukan suaminya


"Sayang! bangun!" Cakra menepuk-nepuk pipi sang istri


"Sebaiknya Tuan keluar dulu, kami akan melakukan penanganan yang terbaik." bujuk Suster, mengusir Tuan Cakra


"Istriku, Sus! kenapa sampai pendarahan, hah!"


"Nanti akan kami jelaskan, Tuan." Suster langsung menutup pintu ruangan, menyisakan Cakra dan orang tua mereka diluar sana.


Vega selesai ditangani, pendarahan telah berhenti keluar dari rahimnya. dan semua orang bisa bernafas dengan lega mendengarnya. Dokter pun menjelaskan akibat pendarahan yang terjadi, Cakra hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar setelah mengetahui hal ini.


"Di-dia--aku nggak mau punya anak cacat!" ia mengigau dalam tidurnya


Cakra yang senantiasa menanti, sontak terhenyak mendengar suara sang istri. ia langsung menekan tombol yang menghubungkan langsung pada petugas medis.


"Sayang, kamu sudah bangun?"


"Haaah!!" Vega membuka kelopak matanya dengan kasar, pelu telah membasahi dahi wanita tersebut.


"Sayang, anak itu--aku tidak mau punya anak sumbing!" ia terlihat shock, bayangan menatap putri keduanya sungguh memilukan hatinya yang tidak menerima keadaan itu

__ADS_1


"Sssttt! jangan ngomong begitu, dia anakmu juga. lihatlah mereka berdua yang tidur nyenyak di ranjangnya." Cakra berusaha menenangkan


Dokter dan Suster pun melenggang masuk untuk memeriksa keadaan pasien yang sempat koma selama dua hari.


"Dok, saya mau bibir anak kedua kami dioperasi secepat mungkin, buat bibirnya seperti bayi yang lainnya, Dok. istri saya sangat shock dengan keadaan ini."


"Baik, Tuan. tapi hal itu bisa kami lakukan saat bayi berusia dua atau tiga bulan."


"Astaga!" Cakra mengusap wajahnya dengan kasar. "Tidak bisakah sekarang?"


"Tidak, Tuan. memang seperti itulah prosedurnya."


🌿 Flashback Off 🌿


Bulan terhenyak dari lamunannya membayangkan sang ibu yang membencinya karena terlahir cacat ditambah lagi koma selama dua hari karena shock. sebab itulah ibu kandungnya membencinya hingga kini. apalagi kini wajahnya terlihat buruk rupa karena kecelakaan itu. sial sekali Mentari tidak menyetujui Bulan melakukan operasi pada wajahnya agar kembali cantik seperti dulu.


Bulan meringis, ia menggelengkan kepala berusaha melupakan hal itu. "Hhh ..." ia menghembuskan nafas kasar. "Udah jam enam lewat ternyata, aku mandi dulu lalu masak." Bulan bangkit dari duduknya, menyelonong masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. ia pun tidak menyangka bisa terlelap beberapa jam akibat kelelahan. padahal dirinya hanya menyuci, menyapu, mengepel, ternyata sangat menguras tenaga.


Selesai mandi dan berpakaian, gadis itu melirik sekilas ke arah tempat tidur. ingin membangunkan suaminya karena sudah maghrib, lebih baik ia urungkan saja tatkala melihat tubuh lelah itu terlelap pulas. ia tak tega membangunkannya.


Bulan mengernyit heran menatap meja makan, ia menemukan kresek yang didalamnya terdapat sesuatu. Bulan mendekat, membuka kantung kresek tersebut. seketika matanya membelalak, aromanya yang kuat menguar memasuki indra penciumannya.


"Rendaaaang!!" matanya berbinar-binar

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2