
πΊπΊπΊ
Pagi menjelang dengan sinar mentari yang mulai naik ke permukaan, ingin menyapa penduduk bumi dengan sengatannya yang tajam dan mampu membangunkan mereka yang masih bergelung dibawah selimut. namun tidak untuk Bulan, gadis itu telah bangun pagi-pagi sekali untuk melaksanakan kegiatan rutinnya setiap subuh dan akan berakhir dengan membersihkan tubuh untuk bersiap-siap ke Kantor.
Wanita cantik itu sudah tampak bugar, rapi dan wangi. mengenakan thurtleneck dan blazer terusan hingga diatas lutut. Bulan juga mengenakan flatshoes yang berwarna senada dengan pakaiannya, merah muda, yang terlihat lebih cerah dan anggun. tak lupa rambut curly panjang tergerai indah berayun dipunggungnya.
"Pagi semuanya."
"Pagi juga, Sayang."
Bulan mendudukkan tubuhnya diatas kursi, langsung memyambar sandwich yang telah dihidangkan untuknya. ia makan dengan lahap dan menghabiskan sisa yang ada diatas meja. mulutnya penuh dengan makanan dan tak menghiraukan peringatan Mama Anna. tiba-tiba suara seseorang mengalihkan perhatian mereka semua.
"Pagi, Tuan, Nyonya dan Nona--"
"Eh, pelan-pelan makannya, Non." Assisten Dika hampir cekikikan melihat mulut yang terlihat penuh dengan makanan, Bulan tersenyum kecut dan berusaha mengunyah makanannya
"Sudah dibilang tadi, tapi tetap saja nggak bisa pelan-pelan." sela Papa Perkasa
"Enak tau, Pa. apa lagi aku lapar, anakku ini congok banget." ketusnya
"Iya, tapi tetap saja harus pelan-pelan, nggak akan kami habiskan kok." ujar Mama Anna cekikikan
__ADS_1
"Mengerikan juga ya, efek kehamilan, Kakak jadi rakus, makannya banyak banget." sela Clara bergidik ngeri
"Itu karena ada jabang bayi didalam rahimnya, Clar. besok kamu bakal merasakan itu." ucap Mama Anna, gadis itu masih bergidik ngeri membayangkan tubuhnya yang langsing akan menjadi gemuk efek berbadan dua
"Kamu sudah sarapan, Dik?"
"Sudah, Tuan, saya tunggu didepan saja, ya?" pamitnya, Tuan Perkasa mengangguk mengiyakan
Rembulan dan Assisten Dika telah tiba di Gedung Perkasa Group yang tinggi menjulang hingga hampir menyentuh cakrawala. Para pegawai menyambut baik kedatangan Nona muda, menantu dari pimpinan mereka.
Pagi itu hari-hari Bulan dan Assisten Dika diawali dengan sebuah rapat, pertemuan antara pimpinan perusahaan yang disandang oleh Rembulan untuk sementara waktu, dan Bapak Bupati yang menjabat disebuah daerah kawasan xxx. planning perusahaan akan mendirikan sebuah Hotel di kawasan tersebut. selain tempatnya yang strategis, pemandangan disekitarnya sangat cocok untuk memanjakan mata.
Mereka akan membahas lahan berukuran luas milik pemerintah daerah dan keuntungan dari investasi yang didapatkan nanti. Bulan berusaha menjalankan planning yang telah tertulis oleh Perusahaan, dengan ditemani oleh Assisten Dika. tak lupa dalam kesempatan kali ini mereka juga terhubung oleh Tuan Perkasa melalui video call di MacBook milik sang Assisten.
Bulan menghela nafas panjang, ia harus bisa membawa kejayaan pada gedung ini. dan bisa membanggakan sang mertua atas hasil kerja kerasnya.
"Kamu jangan rewel, ya, Nak ... Mommy nggak bisa jatuh sakit kalau kamu rewel. tanggung jawab Mommy sangat besar sekarang, harus memegang kepercayaan Opa kamu." ucap Bulan kepada janinnya
Wanita berusia 25 tahun ini pun mulai melaksanakan tugasnya, membaca berkas masuk dan memahaminya. setelahnya menanda tangani, itu pun atas izin Tuan Perkasa.
***
__ADS_1
"Assisten Dika pakai mobil, nggak?" tanya Bulan, wanita itu masuk ke dalam ruangan sang Assisten
"Tidak, Non."
"Hmm, makan siang di mana?"
"Biasanya sih, di Kantin, kadang diluar kalau sama Tuan." jawabnya
"Oh, hmm ... saya pinjam mobilnya, ya ... pengen pulang sebentar terus ke tempat Mas Guntur."
Asisten Dika mengernyitkan dahinya. "Mau kesana lagi, Non? kesana kan jauh, mending sama saya saja biar saya yang menyetir." tawarnya, Assisten Dika sedikit takut jika wanita dihadapannya ini akan merasa kelelahan bolak balik kesana kemari, dan dia pun bersedia untuk menemani menantu dari Tuannya tersebut.
Bulan berpikir. "Sepertinya nggak perlu deh. saya akan hubungi sopir Papa untuk mengantarkan saya kesana." ucap Bulan dengan sebuah ide barunya. ia mengulas senyum kepada Assisten Dika lalu keluar dari ruangan tersebut.
Bulan menghubungi Sopir sang mertua untuk meminta bantuan dua hal padanya, meminta pesanan Bulan kepada Bibi, sekaligus mengantarkannya ke tempat Rehabilitasi. Bulan ingat jika lelaki itu sangat menginginkan keripik pisang, dengan senang hati Bulan akan membawanya kesana.
Bulan menatap jam dipergelangan tangannya, baru pukul sebelas siang, schedule pun kosong dan ia telah menyelesaikan tugasnya dengan cepat. beruntung saja Papa Perkasa mengizinkannya untuk keluar sebentar ingin bertemu dengan sang suami.
Hampir satu jam perjalanan, wanita cantik itu telah tiba di pelataran Rehabilitasi. Bulan menenteng satu kilo bungkus keripik pisang dan tiga bungkus nasi padang yang ingin ia santap bersama suaminya.
Bulan meminta izin kepada petugas untuk bertemu dengan kekasih hatinya, sayup-sayup dari kejauhan Bulan dapat melihat sosok suami sedang asyik bercengkrama dengan seorang wanita, mereka melangkah masuk ke sisi lain dan Bulan cepat-cepat melangkahkan kakinya untuk mendekat
__ADS_1
"Is! semoga itu bukan dia."
πΊπΊπΊ