
πΊπΊπΊ
Setelah selesai menjalani terapi selama dua jam lamanya, sepasang insan itu kini akan berlabuh ke Kafe sejenak untuk sekedar malam siang yang memang telah tiba waktunya. jalanan Ibukota yang padat kala jam istirahat itu membuat keadaan jalan raya terlihat sedikit macet. Guntur merasa jengah dengan keadaan seperti ini, ia pun menarik nafas dalam-dalam sesuai instruksi Dokter tiap kali merasa kesal.
"Sabar, nggak lama kok macetnya." Bulan memenangi
"Iya, Yang."
Bulan mengulum senyum, ia menatap disebelah sisi kirinya yang terdapat Rumah Makan Padang tak jauh dari sana.
"Mending kita kesana, ke Rumah Makan Padang. kebetulan aku jadi pengen makan rendang." ungkapnya, membayangkan makanan khas Sumatera Barat yang telah mendunia itu seketika air liurnya ingin meleleh
"Hmmm, tidak buruk. aku juga pengen." Guntur tersenyum, ia bergegas menepikan mobilnya keluar dari jalur aspal jalan raya.
"Asyiiik!!" Bulan kegirangan seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen. dan hal itu membuat Guntur merasa gemas melihat tingkahnya. ia pun mengacak-acak rambut wanita ini hingga sedikit berantakan.
"Is! nyebelin!" ia berdecak, mencebikkan bibirnya sembari menepik tangan Guntur, lalu merapikannya
"Kau menggemaskan, tau! apalagi cemberut gitu jadi pengen aku *****!" godanya, Bulan memutar bola matanya, jengah.
Mobil telah tiba di pelataran Rumah Makan tersebut, ia segera memarkirkannya mengikuti arahan tukang parkir. tempat ini tak luput dari yang namanya lengang, selalu ramai pengunjung untuk menikmati makanannya yang berporsi besar. apalagi jika dibungkus, porsinya jauh lebih besar dari makan ditempat. ditambah lagi aromanya langsung menguar kala bungkusan itu dibuka, itulah yang menjadi ciri khas dari makanan Nusantara ini.
Mesin mobil telah dimatikan, Bulan yang sudah tidak sabar segera membuka pintu. namun apa yang ingin ia lakukan terurung tatkala Guntur mengunci pintu tersebut.
"Kenapa di kunci, is!"
__ADS_1
Guntur menyeringai, ia mencondongkan tubuhnya mendekati Bulan. langsung meraup pipi itu dan menenggelamkan bibirnya dibelahan kenyal menggoda milik Bulan yang sudah mengobrak-abrik hasratnya sedari tadi. Bulan meronta, berusaha mendorong tubuh Guntur agar menjauh. namun kekuatannya tidak sepadan dengan tubuh kekar lelaki ini. perpagutan Guntur seketika meluruhkan niatnya untuk menjauh, bagaikan terhipnotis akan rasa nikmat dari sensasi ciuman ini Bulan turut membalas cecapan itu dengan lihainya. Guntur tersenyum dalam ciuman yang menggelora ini. hingga beberapa saat kemudian bibir keduanya saling terlepas, dua pasang mata saling memandang bibir pasangan yang telah basah. Guntur langsung menyeka bekas liurnya diarea bibir Bulan, begiti pula sebaliknya.
"Ayo, turun." ajak lelaki tersebut. Bulan mengangguk hingga kedua kakinya berhasil menginjak bumi ini.
Guntur dan Bulan langsung menyambar makanan menggiurkan dihadapannya dengan tangan telanjang. tanpa sendok maupun garpu, melainkan dengan kulit telapak tangan langsung. memang seperti itulah jika ingin menikmati nasi padang, lebih afdol jika dinikmati dengan tangan langsung. Bulan tersenyum, lidahnya bergoyang didalam sana menikmati cita rasa rendang yang bumbunya bukan main-main. apalagi dicampur dengan kuah gulai dan balado hijau, sensasinya semakin luar biasa.
"Enak, ya?"
"Jangan ditanya, ini makanan yang paling enak di seluruh dunia. kebetulan sudah lama sekali aku tidak makan ini." ujar Bulan disela kunyahannya
"Suara kamu lucu kalau lagi ngunyah sambil bicara." ledek Guntur, kemudian menyuapi mulutnya dengan segumpal nasi ditangannya. Bulan hanya mengulum senyum menanggapi.
Keduanya saling terdiam untuk beberapa saat.
"Gun, nanti beli lauknya yaa, buat makan malam kita." pinta Bulan
Bulan menghembus nafas dengan kasar, lagi-lagi diberikan syarat oleh pria gila ini. "Apaan?" suaranya terdengar sedikit kesal
Guntur menyeringai. "Kita mainin banyak gaya lagi, sampai makan malam tiba." selorohnya
"Hah??? apa!!" tanpa sadar Bulan menaikkkan suaranya hingga menjadi perhatian orang-orang disekitar. Bulan tersenyum kecut kepada orang-orang yang menoleh menatap mereka
"Suaramu!" geram Guntur, wanita itu cengengesan
"Pokoknya nanti kita bikin anak lagi biar cepat jadi." sambungnya
__ADS_1
"Harus ya, secepat ini?"
Guntur mengangguk. "Aku ingin, Sayang."
Bulan mengangguk paham. "Baiklah."
"Oh iya, nanti kita singgah ke Kantor papa ya,"
"Ngapain?"
"Ada sesuatu."
"Oke."
Dan disinilah keduanya, telah tiba di pelataran gedung yang menjulang tinggi hingga beberapa lantai keatasnya. gedung milik Perkasa Group, usaha orang tua Guntur sejak jaman kakeknya dulu. sepasang suami istri ini melangkahkan kakinya memasuki lobi yang sudah mulai ramai kala jam istirahat telah selesai. Guntur berjalan sedikit was-was, takut jika banyak karyawan akan mengenali wajah cantik Bulan yang mirip dengan model yang menghilang itu. namun karena ada sedikit luka diwajah gadis ini, ditambah naturalnya wajah itu, membuat wajahnya tidak terlalu kentara miripnya dengan Mentari yang notabene selalu berdandan itu.
Keduanya pun masuk ke dalam lift, mengantarkan mereka langsung ke lantai atas.
"Oh iya, kamu pengen lihat hasil kerja keras Mamimu, nggak?" tanya Guntur memecah keheningan
Bulan menoleh, ia baru ingat akan hal itu. "Tentu saja. setelah ini kita kesana, kan?"
"Tidak usah deh."
πΊπΊπΊ
__ADS_1
Lah, kenapa bambang??? π