
πΊπΊπΊ
Bulan menatap penampilannya yang tampak menggoda dari pantulan cermin. lekuk tubuhnya terbentuk sangat jelas dan mampu memancing syahwat kaum pria yang memandangnya. pakaian kurang bahan berwarna hitam dengan modelnya yang terlihat sangat seksi, tak membuatnya menyesal telah memilih sebagai umpan untuk sang kekasih.
Bulan menatap wajahnya, bahkan wajah itu belum dipermak sama sekali oleh alat make-up. seketika Bulan tertegun memandang luka bakar yang masih membekas, senyum manisnya seketika memudar kala mengingat kejadian naas yang menimpanya beberapa tahun yang lalu
"Tidak-tidak! jangan diingat lagi! itu sudah takdir, oke? dan Papi sudah tenang di alam sana." gumam Bulan menasihati dirinya sendiri sembari meraih foundation dan mulai memolesnya ke seluruh wajah dengan rata. "Sekarang fokus bersama keluarga baru yang lebih mencintaimu, Bulan, its oke!" sambungnya lagi
Bulan memperbanyak bedak cairnya dibagian luka, berniat ingin menutupinya dengan bedak. sama seperti saat hari pernikahan, wajahnya dipermak semulus mungkin. ia tersenyum simpul, hasil karya oleh tangannya sendiri tidak semenyedihkan yang dipikirkan, ternyata ini adalah sebuah bakat yang terpendam dalam menata wajahnya bak pengantin yang telah di make over.
Disisi lain, Guntur Anderson baru saja tiba di kediaman Perkasa untuk kedua kalinya setelah berpisah dari anggota keluarga. usai sholat isya berjamaah, pria tampan itu langsung berangkat meninggalkan Panti ingin menuju ke kediaman yang disinggahi sang istri.
Guntur melangkahkan kakinya memasuki pintu utama, berteriak heboh disepanjang langkahnya hingga sapaan seseorang mengalihkan perhatian lelaki tersebut.
"Bul! Bulan .... sayang!! im coming, Hunny!" teriaknya dengan suara yang sangat menggelegar, sungguh memekakkan telinga bagi yang mendengarnya
"Hei! pulang-pulang langsung teriak! lupa sama orang tuamu?" sembur Papa Perkasa, suaranya berasal dari sisi lain.
Guntur menoleh ke asal suara, tampak Mama Anna dan Papa Perkasa sedang duduk manis diruang keluarga sembari menonton televisi.
__ADS_1
"Eh, hehehe, Ma, Pa." sapanya
Papa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang putra.
"Nanti kita mengobrolnya, ya? aku ingin ke kamar," ucapnya, kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti
"Dasar! pulang-pulang langsung nyergap istrinya." ucap Papa Perkasa
"Maklumkan saja, Mas, kamu kayak nggak ngerti ih." Mama Anna tergelak
"Hmmm, anak muda."
"Sayang!"
Ceklek
Deg!! Guntur terpaku ditempatnya melihat pemandangan erotis nan memukau dan menawan diatas ranjang sana. sosok bidadari tengah berbaring miring menghadap ke arah pintu dengan gayanya yang nakal. tak hanya itu, pakaian yang dikenakan berhasil membangunkan alat tempur raksasa miliknya.
"Udah sampai?" Bulan, dengan suara sensual yang ia buat. ia beranjak bangun dan datang mendekat menghampiri suaminya
__ADS_1
Guntur menelan salivanya dengan kasar, dua bukit kembar itu terlihat jelas ditutupi oleh kain transparan nan kurang bahan, beralih pada area kesukaan rudalnya, bentuk v itu terlihat sangat jelas. perut buncit sang istri pun juga tampak mau kalah, pusar nya pun juga terlihat
"Hai, kenapa melamun, hm?" saking terlalu menghayati penampilan Bulan, Guntur bahkan tidak sadar jika sang istri telah menempel padanya. Bulan dengan nakalnya mengelus dada sang suami, perlahan tangan itu naik menyentuh pundak hingga tengkuk leher suaminya. wajahnya pun ia tenggelamkan diceruk leher pria itu, menghirup dalam-dalam aroma khas sang suami yang begitu amat ia rindukan
"Apa kau istriku? sejak kapan berubah nakal?"
"Tentu saja aku istrimu, terlalu banyak bicara!" Bulan berjinjit, langsung meraup bibir itu dan menyesapnya. kedua tangannya sudah mengalung dileher sang suami, hasrat yang telah membara sedari tadi tidak bisa dibendung lagi.
Guntur buru-buru menutup pintu kamar lalu menguncinya, dalam sekali angkat wanita itu telah berada digendongannya. Guntur melangkah menuju ranjang, menaruh pelan wanita berbadan dua ini diatas singgasana mereka.
"Aku merindukanmu, Sayang." desah Guntur, dengan ligatnya tangan itu melucuti seluruh pakaiannya
Bulan bergelinjang merasakan sentuhan bibir sang suami yang menyapu lehernya, memberi kecupan disana dan sebuah tanda kepemilikan bahwa wanita ini benar-benar miliknya. kemudian beralih pada belahan dada itu, bermain disana dengan puas sampai suara erotis itu kembali menggelegar
Alat tempur yang telah menegang sedari tadi, ia tuntun memasuki sarang yang selalu dirindukan. mengayunkan pinggulnya menghantam goa kesukaannya dengan ritme sedang, tak ingin menyakiti janin yang sedang tumbuh didalam sana
Suara erotis keduanya terdengar merdu, memenuhi ruangan yang terasa panas oleh hawa gairah yang menggebu. begitu agresifnya dua anak manusia yang sedang bercinta, menyalurkan hasrat terpendam diatas singgasana cinta keduanya.
Bulan mengusap pundak sang suami, lidah keduanya saling bergoyang dan menyentuhnya satu sama lain sembari menikmati rasa yang tak pernah ada rasa bosannya.
__ADS_1
πΊπΊπΊ