
πΊπΊπΊ
Clara memberengut kesal disepanjang perjalanan dari Restoran hingga ke kediamannya tatkala dirinya telah usai dikenakan oleh Om tampan yang sudah menemaninya tiga bulan terakhir ini. rasanya ada yang berbeda, dirinya sudah terbiasa menghabiskan malam bersama lelaki tersebut. dan kini entah apa lagi yang harus ia perbuat untuk mengisi malam-malamnya.
Clara melangkah melewati ruang keluarga, bahkan ia tidak menyapa dua orang yang sedang duduk disana. perasaannya masih kesal dan ingin meredamnya dengan rendaman air didalam bathup.
"Kenapa anak itu?" Mama Anna bingung
"Entahlah, mungkin ada masalah sama kawannya." ucap Papa Perkasa
"Hmmm, dasar anak muda."
Papa Perkasa memiringkan bibirnya menatap langkah demi langkah putri tirinya diatas sana. sudah pasti ia tahu apa penyebabnya atas sikap Clara seperti itu, memohon kepada Felix untuk menghentikan kegiatan Clara yang memang tidak seharusnya terjadi. dan syukur saja Felix, sugar daddy gadis itu, dengan senang hati menurutinya. lagi pula ia merasa kasihan sama gadis semuda itu sudah menjadi jal*ng diusia dini.
"Kesal!!"
"Om Felix nggak seru lagi!" teriaknya
Disisi lain Bulan sedang seru-serunya melakukan video call bersama sang suami, menyampaikan kabar baru yang akan dijalani oleh Guntur esok hari. pemuda itu pun menanggapinya dengan perasaan yang deg-degan, jantungnya berdetak kencang tak karuan menghadapi hari esok. ia gugup dan belum mempersiapkan apapun.
__ADS_1
"Aku jadi gugup, Yang."
"Tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan. nggak usah gugup, demi kebaikanmu ke depan."
Guntur melakukannya, kemudian berkata, "Bagaimana kalau Hakim mempidanakan aku? kamu tau, aku bisa dipenjara 5 tahun, bahkan 10 tahun mungkin." ia berpikiran buruk tentang nasibnya yang sedang diambang-ambang batas
"Ssssttt! banyak-banyak berdoa semoga saja kamu tidak dipidana, aku yakin kok. dan aku juga berdoa untuk kamu, katanya kalau doa istri itu lebih mujarab."
"Serius??"
"Hu'um, aku yakin kamu bakal di Rehab."
"Aaakh, aku jadi pengen kamu disini, apalagi aku rindu sama dedek, pengen jengukin." Guntur cengengesan dengan mesumnya
"Senang kau! mentang dikurung." Bulan berdecak kesal, tawa Guntur malah semakin menggelegar.
"Aduh-duh, sakit perutku!" rintih Guntur gara-gara tawanya tidak bisa difilter
"Rasain!" umpat Bulan, ia langsung menekan tombol merah pada layarnya.
__ADS_1
πΏ
Kinilah harinya yang dinanti-nanti oleh semua orang. baik dari keluarga pelaku, keluarga korban, dan tak lupa sang pemburu berita, siapa lagi kalau bukan wartawan yang akan mencuri kesempatan untuk mengambil keputusan Hakim dan menyebarkannya ke media. tak hanya itu, relasi bisnis Papa Perkasa pun turut andil ingin mengetahui nasib yang akan menimpa pewaris Perkasa itu.
Semua orang telah berkumpul di ruang pengadilan, jejeran kursi yang sudah diatur telah dipenuhi oleh korban dan para orang tuanya, termasuk keluarga Cakrawala. dan juga beberapa orang yang akan menjadi saksi bisu, saksi pembullyan yang dialami Guntur beberapa tahun silam.
"Jangan lupa berdoa didalam hati, tarik nafas dalam-dalam, oke? tenangkan pikiranmu." saran Bulan kepada suaminya yang tengah duduk ditengah-tengah mereka, tepatnya dihadapan meja Hakim. tak luput kedua anak buah Guntur juga akan disidang, namun raut wajahnya tampak tenang seolah tahu jika mereka pasti akan dipidana.
Bulan kembali ke tempat duduk semula bersama mertuanya, berada dibarisan pertama sisi kiri. sedangkan disisi kanan terdapat para korban dan orang tuanya yang menatap kesal pada ketiga tahanan didepan sana. dibelakang Bulan terdapat para saksi dan juga Dokter yang menangani Guntur sebelumnya.
"Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua, para hadirin yang terhormat. pada hari ini kita akan melaksanakan persidangan pidana yang dilakukan oleh penuntut umum dan terdakwa."
"Pelaku saudara Guntur Anderson Perkasa beserta kedua rekannya, saudara Tomi dan Riko, telah melakukan tindak kriminal kepada dua belas korban semenjak dua setengah tahun yang lalu. Saudara Guntur terlibat pasal berlapis, penganiayaan dan pembunuhan. sedangkan saudara Tomi dan Riko, terlibat pasal pelecehan sek*ual yang dilakukan kepada tujuh korban wanita."
Hakim terus membacakan catatan kriminal terdakwa dengan panjang lebar, semua yang hadir hanya diam menyimak dengan pandangan yang tertuju kepada beberapa orang yang duduk dimeja hijau. sedangkan Bulan dan Tuan Perkasa terus memanjatkan doa untuk sang pelaku, berharap lelaki tersebut tidak dipidana dalam tuntutan berlapis.
"Untuk saudara Guntur Anderson Perkasa, terlibat pasal berlapis dalam pasal xxx ayat xxx dan ayat xxx dapat dipidanakan selama sembilan tahun."
Para orang tua korban akhirnya bisa bernafas dengan lega mendengarnya. namun seketika itu, nafasnya kembali tertahan tatkala mendengar kelanjutan kalimat dari mulut Hakim.
__ADS_1
"Namun--
πΊπΊπΊ