Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Demam


__ADS_3

🌺🌺🌺


Sang mentari menyambut pagi dengan sinarnya yang begitu menyengat, menyorot sepasang anak manusia yang masih lelap tertidur begitu pulas. Guntur mengerutkan kelopak matanya ketika tubuhnya menghadap sang istri, yang berarti sorot cahaya langsung menembak matanya. pelan pelan ia buka kelopak mata yang terpejam, sesekali menguceknya. pandangan pertama yang ia lihat adalah sang istri yang masih pulas terlelap disisinya.


"Nghh .... jam berapa ini?" gumamnya dengan suara khas serak bangun tidur


Guntur mendudukkan tubuhnya, menatap jam yang melekat di dinding, telah menunjukkan pukul sembilan pagi. sontak saja ia terbelalak, bagaimana bisa mereka berdua bangun kesiangan. apalagi Bulan, yang biasanya telah bangun jam setengah tujuh untuk menyiapkan sarapan.


"Ya ampun .... tidur terpanjang." ia menggelengkan kepala, kemudian menguap dengan cukup keras


Guntur menoleh menatap istrinya. "Tumben dia nggak bangun?" Guntur mengernyit heran, ini bukanlah kebiasaan sang istri


Pria itu pun menyentuh dahi Bulan, ia tercenung merasakan suhu tubuh sang istri yang begitu tinggi. "Panas." ia berbelalak


"Eeemmh ..." Bulan bergumam, meringkukkan tubuhnya seperti anak bayi.


"Bobolah, Yang." Guntur merapikan selimut yang menutupi tubuh sang istri, ia kemudian turun dari ranjang dan melangkah tergesa-gesa entah kemana.


Guntur kembali lagi pada istrinya, meluruskan tubuh mungil itu sembari menatap pucat wajah cantiknya. "Maaf, kalau aku yang membuatmu jadi sakit." ucap lirih Guntur dengan menunjukkan wajah sendu penuh rasa bersalah. ya, ia merasa telah menjamah tubuhnya terlalu berlebihan sekali sehingga rasa bersalah menyeruak didalam dadanya.


Guntur meremas kain yang telah ia rendam dengan air hangat, gemercik air merembes kedalam baskom. kemudian Guntur menaruh kain hangat tersebut dipermukaan kening sang istri, berharap dengan cara mengompres suhu tubuhnya bisa kembali normal.


"Semoga kamu cepat sembuh, Yang. jangan sampai kenapa-napa." ucapnya pada tubuh tak berdaya itu. berulang kali ia celupkan kain kepada air hangat yang kemudian ia taruh lagi diatas kening.


Tok tok tok


Ketukan pintu mengalihkan perhatian Guntur, ia bangkit berdiri untuk menemui seseorang diluar sana.


"Ya, Bi?"

__ADS_1


"Buburnya sudah siap, Tuan."


"Terima kasih, Bi. siapkan sarapan pagi untuk saya dan buburnya, bawa kemari ya? oh, sekalian obat penurun demam ada dikotak p3k." titah Guntur pada Assisten rumah tangganya yang baru saja tiba tadi pagi.


"Baik, Tuan."


Awalnya saat Guntur ingin membuat bubur untuk Bulan, ia terhenyak kaget mendapati Bibi yang mulai membersihkan kediamannya. ternyata sang istri yang membukakan pintu untuk Bibi pada pagi tadi. mungkin saja karena kurang enak badan, Bulan kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya. pantasan saja Guntur mendapati wanita ini telah berpakaian lengkap setelah pergumulan panas terjadi tadi malam.


Guntur kembali memeriksa suhu tubuh sang istri, ia pun bisa bernafas lega mendapati suhunya sudah berangsur normal.


"Tuan, ini sarapannya."


"Masuklah, Bi, taruh di meja." titah Guntur dengan lembut, sementara ia melangkah ke kamar mandi untuk membuang air yang telah mendingin


Guntur mengguncang tubuh sang istri dengan pelan, bersamaan dengan suara lembutnya membangunkan Bulan yang masih nyenyak dalam lelapnya


"Setelahnya kamu bobo deh, yang penting isi perut dulu sama minum obat biar nanti sehat lagi." sambungnya, masih membujuk wanita itu


Merasa tidurnya terganggu, Bulan mulai mengernyitkan dahinya bersamaan kedua kelopak mata yang mulai terbuka. ia mendapati wajah Guntur diatasnya, tengah mengguncang tubuh kecilnya sembari mengatakan sesuatu.


"Hei, bangun dulu, yuk."


"Hmmm, udah siang?" Bulan menoleh keluar jendela, terang benderang yang telah diselimuti cahaya mentari


"Ya, sudah jam sepuluh. sekarang kamu harus makan." Guntur meraih mangkuk bubur dari atas meja bersama segelas air putih hangat


"Ya ampun! maaf, ya ... aku malah milih tidur dari pada buat sarapan pagi." sesalnya


"Nggak perlu minta maaf, badanmu kurang enak. lagi pula sudah ada Bibi yang kemari."

__ADS_1


"Oh, iya." Bulan baru teringat. "Iya, Bibi kemari tadi pagi." .


"Nah, sekarang makan, minum dulu!"


Bulan menggeleng dengan wajah sendu menatap makanan itu. "Kenapa?"


"Aku nggak selera makan, pengen buah aja, boleh?" ia memelas memohon pada suaminya


"Buah apa? semoga masih ada stock di kulkas."


"Jeruk yang ada asam-asamnya." Bulan menelan ludahnya dengan kasar membayangi jeruk asam manis melegakan tenggorokannya


"Kenapa yang asam? emangnya ada yang jual? setahuku jeruk yang sudah oren pasti rasanya manis." Guntur bingung


"Di Pasar, ada. cari yang kulitnya kehijauan, aku pengen!" rengeknya


"Ya, ya, baiklah. tapi kalau kamu pengen makan jeruk asam, lambungmu harus diisi sama ini dulu supaya nanti tidak kaget kalau langsung dihadapkan sama yang asam-asam, bisa bahaya!"


"Huh!" Bulan mencebikkan bibirnya, ia benar-benar tidak selera dengan makanan lain selain jeruk yang asam-asam. namun mau bagaimana lagi, benar juga kata suaminya jika perutnya harus diisi sama karbohidrat lebih dulu.


Ia pun terpaksa mengangguk. "Tapi tiga suap aja, ya?"


"Lima suap deh."


"Tiga, ih!"


"Ck! ternyata kalau dirimu sakit, manjanya minta ampun." gerutu Guntur, namun tak ayal ia juga gemas melihatnya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2