
πΊπΊπΊ
"Nyonya, sebaiknya anda makan malam dulu dan beristirahat, mengingat ini sudah pukul sembilan malam." tegur Bibi menghampiri para emak-emak yang masih merundung sedih akan kehilangan para putrinya
"Kamu belum makan, Jeng?" sahut Ibunya Felisha, Mami Vega menggeleng lesu
"Sama, aku juga belum." sela Ibunya Ratu
"Lebih baik kalian makan malam dulu, dari pada jatuh sakit. benar kata Bibi."
Mami Vega menegapkan badannya, menatap ibunya Ratu dan Felisha secara bergantian. "Aku benar-benar tidak berselera, Jeng. tapi yasudah lah, ayo kita makan malam." ajaknya, bangkit berdiri
Kini Mami Vega telah berada di kamarnya, esok pagi ia akan berencana menyuruh sang Assisten untuk melapor ke pihak berwajib, mengingat ini sudah dua puluh empat jam pasti segala laporan akan diterima. tapi dirinya masih belum tenang juga, kemana kah anak kesayangannya itu.
"Tari nggak mungkin ke tempat Bulan, kan? dan Bulan nggak mungkin menculik kakaknya sendiri." ia menerka-nerka
"Sial sekali anak itu memblokir nomorku, aku jadi tidak bisa menghubunginya!" decaknya kesal
"Bintang---ck! anak itu harus belajar serius di sana, jangan sampai dia tahu keadaan kakak-kakaknya." Mami Vega benar-benar bingung harus mengadu kepada siapa, lagi pun ia belum berhasil mencari jejak putrinya yang menghilang entah kemana.
***
Guntur merasakan pusing saat kesadarannya mulai pulih. salah satu tangannya memegang kepala, wajah dikerut, sedangkan sepasang mata mengerjap-ngerjap perlahan dibuka. ia memandang langit-langit ruang inap, ada pula tiang infus disebelah sisinya. ia berpikir sejenak, ini pasti di Rumah Sakit.
__ADS_1
Tangan kanannya terasa kaku sekali, ia menoleh dan tertegun mendapati Bulan yang terlelap dilengannya. Guntur mengulum senyum, tangannya terasa hangat digenggam oleh wanita ini. hangatnya tangan mungil itu tersalur pula ke dalam sanubari hatinya yang turut menghangat.
"Bulan ..." lirihnya, Guntur berusaha mengangkat kepalanya, ia ingin mencapai puncak kepala gadis ini untuk mengecupnya. namun--pergerakan Bulan mengurungkan niatnya untuk melakukan itu. Guntur kembali terlelap dan memejamkan mata, pasti karna ulahnya yang krasak-krusuk mengganggu lelapnya tidur gadis itu
"Eeeemmh ...." desis Bulan, ia bangun lalu menegapkan badannya. terdengar uapan yang keluar dari mulut wanita itu
"Hmmmm, udah jam enam pagi rupanya, enak sekali tidurku." Bulan terkekeh, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku tatkala ia tertidur dalam posisi duduk.
Bulan menoleh menatap wajah Guntur yang tidak sepucat semalam. ia tersenyum lega, pria ini sudah dalam keadaan yang baik-baik saja. Bulan bangkit berdiri, mencondongkan tubuhnya ingin menatap lekat wajah tampan ini dalam jarak yang cukup dekat.
Sepasang mata miliknya menelusuri setiap ukiran indah yang Tuhan ciptakan kepada pria malang tersebut. "Mukanya udah bersemu merah, tidak seputih vampir lagi. apalagi bibirnya, kamu seperti habis pakai lipbalm aja sampai pucatnya hilang." Bulan cekikikan, hembusan nafas wanita itu begitu terasa menampar wajahnya
"Enak banget tidur kamu sampai nggak bangun-bangun, sudah seperti putri salju saja." ocehnya
"Cium dulu baru putri saljunya bangun." sahut Guntur memanyunkan bibirnya, sepasang mata itu masih terpejam
"Kelamaan!" dengusnya, Guntur tersenyum manis menatap wajah kaget itu
"Is! kebiasaan!" pekik Bulan, menyeka bibirnya yang dikecup oleh pria ini
"Kamu sih memerhatikan aku sampai segitu kalinya, jangan-jangan sudah mulai suka, iya kan?" tebaknya dengan penuh percaya diri. Guntur berusaha membangkitkan tubuhnya
"Aku nggak akan pernah suka sama kamu! kau pria kejam, pembunuh dan suka melukai diri sendiri." gerutu Bulan cemberut
__ADS_1
"Tapi aku sayang sama kamu." lirih Guntur, menggenggam tangan Bulan dengan sentuhan lembut yang ia berikan
Bulan terkesima, ia membiarkan Guntur menggenggam tangannya. matanya memutar karena merasa sebal dengan pria ini.
"Duduklah disini." Guntur menepuk sisi kasur disampingnya, Bulan melirik sekilas namun masih terpaku ditempatnya berdiri sembari menatap ke arah lain
"Ayolah, Sayang, turuti keinginan orang sakit ini." bujuknya
Bulan menghembuskan nafas dengan kasar. "Hhh! pria kejam yang manja." gumamnya, Bulan melepaskan genggaman Guntur, lalu berpindah duduk disamping pria ini
"Ada apa?"
"Aku kangen sama kamu." pria itu memeluk tubuh Bulan, melingkarkan tangannya pada perut ramping wanita ini dan kepala ia sandarkan dipundak miliknya
"Risih tau!" Bulan meronta-ronta
"Kamu sudah pandai jutek rupanya, mentang-mentang aku lagi dalam kondisi nggak berdaya." Guntur tersenyum, mengecup tengkuk leher Bulan sekilas
"Kamu nggak nanya keadaanku gimana?" tanya Guntur
"Sebaiknya biar Dokter yang bertanya dari pada aku." Bulan beranjak turun dari ranjang, ia bergegas melangkah menuju pintu untuk bertemu dengan Dokter. dan kebetulan, Dokter beserta Suster berpapasan pula dengannya.
Bulan tersenyum ramah menyapa tenaga medis itu, menyilakan keduanya untuk masuk yang ingin memeriksa keadaan pasiennya.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok?" tanya Bulan
πΊπΊπΊ