
πΊπΊπΊ
Bulan melangkah menuruni tangga sembari mengelus-elus perutnya yang dirasa telah membuncit. kehamilannya telah memasuki bulan ke empat, pertumbuhan sang janin terasa semakin cepat baginya. namun, tetap saja waktu bergulir dengan sangat lambat jika mengingat perpisahan sementara antara dirinya dan sang suami. bahkan mereka saling mengungkapkan rasa rindu kala melakukan panggilan via video call.
Bulan menghampiri kedua mertuanya yang sudah berada dimeja makan, Clara menyusul dibelakangnya dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Maaf, Ma, Pa, Bulan telat." ucapnya
"Nggak apa-apa, ayo makan." ajak Mama Anna
Satu keluarga itu menikmati makan malam bersama dengan penuh suka cita, begitu pula dengan Guntur diseberang sana, menikmati makan malam disebuah ruangan besar seperti aula dengan jejeran kursi dan meja yang sudah diatur sedemikian rupa. banyak pasien yang bersuka cita melahap santapan malam yang menggiurkan ini.
Beruntung saja Guntur telah pulih dari efek kehamilan simpatik yang ia alami, perlahan tapi pasti ia sudah bisa melahap nasi beserta lauk pauknya.
"Wah, kamu cepat sekali makannya." puji seorang wanita yang kini menjadi teman satu tim dalam melakukan kegiatan apapun yang mampu membangunkan energi positif didalam diri
"Lapar banget, rasanya pengen nambah." ucap Guntur
"Biasanya kamu makan kayak orang nggak berselera." sela teman lelaki yang lainnya
"Mungkin ini efek kehamilan istriku, aaargh! aku jadi rindu lagi dengannya." Guntur tertunduk lesu, mengingat Bulan rasa rindu kembali menjalar
"Dasar bucin! tadi siang juga istrimu menjenguk." sahut gadis tersebut
"Kurang, aku pengen dia disini selamanya."
"Aaih!" kedua orang itu menggelengkan kepalanya bersamaan
"Sepertinya aku harus ke kamar duluan, aku ingin menghubungi istriku." Guntur pamit, ia pun berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Guntur melangkah cepat menuju kamarnya yang ditempati oleh empat orang dengan empat ranjang pula disudut kanan, kiri, dan juga diatas, seperti ranjang tunggal yang bertingkat. Guntur menaiki tangga, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang atas. ia mengambil ponsel yang ia simpan dibawah bantal.
"Oh, Bulan ... aku rindu lagi." gumamnya sembari menunggu panggilan diangkat
"Hai, Sayang!" tampak Bulan melambaikan tangannya, wanita itu memeluk cemilan box yang entah apa isinya
"Kamu makan apa?" tanya Guntur, tampak perempuan itu merogoh isi dari box makanan tersebut
"Tada!! keripik pisang, enak banget."
Seketika saja Guntur menelan salivanya dengan kasar, ia ingin sekali melahap cemilan itu.
"Kamu mau? besok aku antarin, ya ... nanti ku suruh Bibi buat lagi."
"Serius? ya ya, aku mau!" Guntur mengangguk kegirangan
"Apa dia nakal didalam sana?" suara itu kembali mengalihkan perhatian Bulan
"Nakal sekali, dia minta makan terus sampai aku nambah porsi nasi dua kali lipat." adunya
"Ck! tidak sama aku, sama mamaknya juga. dasar bayi kita." Guntur tergelak disana
"Emang kamu juga?" tanya Bulan
Guntur mengangguk. "Ya, aku sengaja ambil porsi setinggi gunung." racaunya, Bulan mendelik
"Nggak apa-apa, itu artinya dedek pengen Daddynya sehat, semangat, tapi jangan lupa selalu berolahraga."
"Pasti, Yang. banyak banget kegiatan disini sebagai bagian terapi, disini juga nggak boleh menyendiri, harus bersosialisasi. sampai kami disuruh menanam tanaman organik, lucu kan? seumur-umur aku nggak pernah melakukan semua yang ada disini."
__ADS_1
"Malahan kegiatan itu bagus, kamu harus terbiasa. siapa tahu nanti setelah pulang kamu ingin beralih profesi sebagai tukang kebun. hahahaha!" ledek Bulan
Guntur mencebikkan bibirnya.
"Iya, tukang kebun yang sering menebar benih ke dalam rahimmu." balasnya, tawa Bulan terjeda
"Aish, mulai mesum!"
"Sudah lama enggak, aku jadi pengen." lirih Guntur
"Puasa dulu, kamu sih gilanya akut banget."
"Gila sama cintamu."
"Preeeet!"
Bulan tersenyum-senyum setelah memutuskan panggilannya yang berlangsung hingga waktu tidur telah tiba diseberang sana. sang suami harus terlelap pada pukul sembilan malam dan akan bangun pukul lima pagi untuk menunaikan shalat subuh. disana sangat diwajibkan menunaikan ibadah sholat lima waktu, karena kegiatan spiritual termasuk dalam terapi yang mampu membuka diri kepada sang pencipta.
Bulan mengambil figura foto pernikahan mereka yang ditaruh diatas nakas, mengelus-elus wajah Guntur yang teramat ia rindukan. tanpa terasa setetes air bening pun jatuh membasahi pelupuk matanya, entah sampai kapan cobaan ini berakhir, untuk menginap disana pun ia tidak bisa.
"Semoga kamu cepat pulih biar kita bisa sama-sama lagi, aku pengen banget pas lahiran dedek bakal ditemani sama kamu." lirihnya
"Kamu tau, aku selalu memanjatkan doa supaya Allah cepat-cepat mengangkat penyakit kamu hingga bisa menjadi pria yang seutuhnya."
"Selamat tidur, Sayang, aku juga ingin tidur. besok harus kembali ke kantor." Bulan mengecup figura photo mereka, kemudian menaruhnya kembali ditempat semula.
Sudah dua minggu ini Bulan dipercayai oleh sang mertua untuk mengurus perusahaan, mengingat Tuan Perkasa kembali mengalami kambuh akibat kelelahan mengurus pekerjaan yang sangat padat. hingga Bulan memberanikan diri untuk mengacung dirinya. Papa Perkasa sempat menolak karena wanita itu tengah mengandung, tapi Bulan berhasil membujuknya bahwa dirinya kuat, begitu pula kandungannya.
πΊπΊπΊ
__ADS_1