
πΊπΊπΊ
"Bukan gitu, ih! iya sih hari Kamis, tapi kan nih hari spesial gitu buat aku. kau ini, ah!" Bulan benar-benar kesal, ia langsung memutuskan panggilannya secara sepihak
Pria itu benar-benar tidak tahu hari lahirnya, padahal katanya waktu itu Guntur selalu mengintainya dari jauh-jauh hari, dan pasti telah mencari tahu tentangnya selama bertahun-tahun, bahkan dia tahu kalau dirinya masih perawan. lagi pula Bulan pernah merayakan hari lahirnya bersama sang sahabat.
Ia berpikir. "Beneran emang nggak tahu? apa mengintaiku cuma untuk balas dendam doang? is!" sebalnya
Disisi lain, Guntur tampak bingung, emangnya hari ini hari spesial apa? ia yang malas berpikir, mungkin lebih baik menelpon ayahnya saja. pemuda tampan berambut lebat nan gondrong itu bergegas mencari kontak sang ayah tercintanya.
"Hallo, Gun, tumben nelpon, hmm?"
"Pa, ini hari apa?"
"Kamis, apa nggak ada kalender di sana? kau bukan di kamar terus, kan, sampai nggak bisa melihat siang dan malam, diponselmu pasti juga tertera tanggal dan hari, kenapa bertanya itu?"
"Ya ampun, panjang amat cakap Papa! maksudku, ini hari spesial apa buat Bulan?"
"Oh, yang jelas ngomong itu! hari ulang tahunnya, kamu nggak tau sebagai suami?"
"Ulang tahun??" Guntur terhenyak sembari menepuk jidatnya
"Ya, itu saja kau tidak tau! taunya cuma nyerang diatas ranjang aja, dasar!" Papa Perkasa tergelak diseberang sana
"Is!" Guntur langsung memutuskan panggilan telponnya
Kemudian ia kembali menelpon sang istri via video call
"Apa lagi!"
"Happy Birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday my wife."
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Sayang, maaf ya aku benar-benar nggak tau kapan kamu ulang tahunnya."
Bulan tertegun mendengarnya, apa ia harus senang atau merajuk lagi? tidak-tidak, lebih baik ia tepiskan keegoisannya.
"Terima kasih, gitu dong, sekarang udah tau kapan ulang tahunku." ucap Bulan sembari mengulum senyum
"Nggak merajuk lagi, nih?"
Bulan menggelengkan kepalanya
"Dasar! cuma karena ucap ulang tahun, emosinya langsung lenyap." gerutu Guntur, wanita diseberang sana hanya tersenyum manis nan imut, sangat menggemaskan.
"Kamu tau, dua hari lagi aku juga ulang tahun, lho." ucap Guntur
"Ohya? keberapa tahun?" tanya Bulan dengan penuh semringah
"Dua puluh lima tahun." jawabnya
"Apa!! nggak dua enam, gitu?" Bulan terhenyak kaget, pria itu menggelengkan kepalanya
"Berpaut dua hari juga." sahut Guntur
"Aku menikah sama berondong, oh my God!"
"Nggak berondong juga kali, Yang." Guntur memutar bola matanya
"Ya ya ya."
***
Pagi-pagi sekali Rembulan telah rapi dengan dress ungu yang membaluti tubuh gembulnya, membiarkan rambut tergerai dihiasi dua jepit rambut dengan warna senada yang membuat dirinya tampak cantik, manis dan sangat anggun.
__ADS_1
Ia mengulum senyum didepan cermin menatap takjub pada dirinya sendiri, apa lagi melihat perut buncitnya yang telah besar memberikan kesan seksi pada tubuh gembul itu. ini sangat imut, bahkan ia tidak insecure dengan tubuh gembul. pipi yang mengembang, sebagian tubuh juga turut mengembang, terlihat sangat menggemaskan menurutnya.
Mungkin bagi banyak wanita yang sedang mengandung tua, hal ini adalah suatu yang menakutkan, takut bila suami akan berpaling dan tidak berselera lagi dengan istrinya. tapi tidak bagi Bulan, suaminya masih setia walau ada kehadiran jabang bayi didalam tubuhnya.
"Kita ketemu Daddy, ya? kita berikan surprise buat Daddy." ucap Bulan pada bayi yang ia kandung
Membawa paperbag yang berisi baju kantornya, flatshoes dan tas kerja, yang akan ia kenakan setelah bertemu dengan Guntur di Panti Rehab. Bulan menuruni tangga dengan hati-hati, sembari melirik jam ditangan kirinya yang telah menunjukkan pukul enam pagi
"Bi, nanti kalau Papa nanya, bilang aku ke Panti, ya ... aku sarapan pagi diluar aja entar." pesan Bulan kepada Bibi sembari mengambil cake tart didalam lemari pendingin.
"Baik, Non." turutnya
Bulan bergegas meninggalkan dapur setelah memberi pesan kepada Bibi. mengayunkan kedua kakinya menuju pintu utama hingga terlihatlah Pak Sopir yang sedang mengelap mobil didepan teras.
Bulan menyapanya. "Pagi, Pak."
"Eh, pagi, Non. berangkat sekarang?" Pak Sopir bergegas membuka pintu penumpang
"Iya, Pak." ucapnya, Bulan masuk ke dalam mobil bagian jok tengah.
Kendaraan roda empat yang dikendarai Pak Sopir pun melesat sempurna meninggalkan pekarangan kediaman Perkasa pada pagi itu. beruntung sekali jalanan raya masih terlihat sepi, udara segar menyeruak sehabis hujan dari malam hingga subuh, suasana yang begitu nyaman Bulan rasakan saat ini.
Setengah jam lebih mobil berkendara dengan mulus tanpa hambatan, akhirnya kendaraan berwarna silver itu telah tiba di pelataran Panti Rehabilitasi. tampak para pasien sedang melakukan senam di depan gedung bertingkat dua itu, Bulan mencoba mengedarkan pandangan mencari suaminya yang entah berada di mana
"Apa aku salah datang secepat ini? nggak mungkin aku mengganggu rutinitas mereka. ya ampun ... saking semangatnya sampai sepagi ini aku kemari."
"Sebaiknya aku hubungi Assisten Dika, syukur-syukur kalau pagi ini jadwal sedang kosong."
πΊπΊπΊ
Happy new year, Guys ...
__ADS_1
Gak apa-apalah aku ucapin sesore ini, nggak sabar buat update soalnya π
Besok Inshaallah kalau ada waktu aku angsur nulis, soalnya sekarang ada diluar kota sedang berliburan dengan sanak keluarga. π€π