
πΊπΊπΊ
Bulan mengapit bantal ke atas wajahnya, menenggelamkannya diatas sana. ia merasa malu mendengar pembahasan itu, apa lagi mengingat percintaan mereka yang usai dihampir subuh. sungguh konyol, dan sang suami malah meladeni kekonyolan mertuanya
"Aish! mereka itu!" desisnya geram
"Kamu kenapa, Yang?" suara bariton itu kembali terdengar, sontak saja Bulan menoleh ke asal suara yang berdiri diambang pintu seraya menutupnya
"Ng-enggak."
"Terus kenapa wajahmu ditutup pakai bantal? bosan hidup?" ketusnya
"Mulutmu! aku kesal samamu!"
"Lah--kesal ngapa?" Guntur mendekati sang istri, langsung memijat salah satu kaki Bulan yang mulai tampak bengkak
Bulan terpaku menatap kakinya yang dipijat lembut oleh Guntur Anderson, seperti--ada sesuatu yang diinginkan tapi mencoba untuk berlaku baik padanya.
Bulan menatap curiga, "Pasti ada maumu!"
"Apaan? dekat denganmu memang mauku."
"Jadi kesal kenapa?" Guntur mengulanginya lagi
"Kau nggak tau malu! masa masalah hubungan diobrolkan sama orang tua, nggak sopan tau!" Bulan menarik kedua kakinya, menjauhinya dari tangan sang suami. namun--tak cukup sampai disitu, Guntur kembali menarik kakinya yang terlihat gemas dan sangat mulus tanpa bulu halus.
Guntur sedikit bangkit dari duduknya dari ranjang, hanya mengangkat bokongnya saja. kemudian ia mencondongkan tubuhnya meraih kedua paha sang istri, ia melebarkannya sampai Bulan ternganga melihat aksi sang suami. Bulan kembali merapatkan kakinya, namun sia-sia tatkala Guntur langsung masuk disela-sela kaki sang istri.
"Ma-mau apa lagi?"
"Menghabiskan sisa waktu denganmu, besok pagi aku harus kembali dan kita kembali berpisah. enggan-kah kau melakukannya lagi denganku, hm?"
"Tapi tadi malam udah sampai subuh, dan pas mandi juga udah." Bulan mengingatkannya
__ADS_1
Sebenarnya Bulan juga ingin, tapi ia juga takut jika terlalu sering melakukannya akan berdampak buruk pada sang jabang bayi. apalagi tadi malam sampai lima jam pergumulan panas itu terjadi.
"Hanya sebentar."
"Apakah boleh terlalu sering? aku takut sama dedek." Bulan mengelus perutnya
"Boleh kok, kita cuma sesekali melakukanya, Sayang. come on, baby! waktu kita sangat singkat."
Tanpa banyak kata lagi Guntur langsung melucuti seluruh pakaiannya, kemudian balutan benang yang menutupi tubuh gembul Rembulan juga ia lucuti dalam sekali tarikan hingga keduanya benar-benar polos
Guntur mulai melakukan pemanasan, mengawali percintaan dengan memagut bibir seksi Rembulan yang semakin membuatnya candu. perpagutan didalam sana dirasa sangat liar, Bulan mengusap-usap punggung Guntur dan menekan kepala itu untuk memperdalam ciuman mereka. Guntur tersenyum dalam pagutannya, wanita ini benar-benar lebih agresif tanpa ia duga.
Guntur kembali menjelajahi tubuh itu, mengecup pipinya, telinga, turun ke ceruk leher, tak lupa meninggalkan jejak dipermukaan sana. lidahnya semakin bergerilya hingga menuruni bukit tanpa ada sentuhan yang ditinggalkan. ia meraup pucuk gunung yang tampak padat dan berisi, memainkannya disana sampai suara merdu itu terdengar mendesah
Guntur menyukainya, ia pun bergegas memasuki rudal raksasa yang telah mengeras ke dalam goa kesukaannya. hingga--terjadilah perang panas diatas singgasana cinta.
***
Tok tok tok
"Ada orang, Yang, udah dulu." rasanya Bulan ingin beranjak dari kungkungan suaminya
"Ssstt! dikit lagi!" Guntur mempercepat tempo goyangannya, berusaha mengejar pencapaian agar percintaan ini terasa sempurna. ia tidak mempedulikan sosok pengganggu yang terus saja mengetuk pintu, mencoba menulikan pendengarannya dan fokus pada satu titik yang berhasilnya memberikannya kenikmatan
"Oh, Gun ... sudah, aakh!"
"Kak Bul! buka pintunya, kita harus ke Rumah Sakit!" teriak seseorang yang sudah dipastikan itu adalah Clara. sepasang sejoli itu tidak terlalu mendengarkannya, rasa yang menggelora didalam sana seketika meledak seiring lenguhan panjang keluar dari tenggorokan mereka.
Tok tok tok
"Kak! kalian ngapain sih?"
"Kita harus ke Rumah Sakit!"
__ADS_1
Bulan mengernyitkan dahinya mendengar kata Rumah Sakit, untuk apa dan ngapain ke sana? apakah terjadi sesuatu pada orang rumah? entahlah, buru-buru Bulan mendorong tubuh suaminya dan ia berusaha bangkit dari tidurnya.
"Ngapain ke Rumah Sakit? turun, Yang, ini pasti hal penting."
Guntur pun menurut, ia turun dari atas tubuh istrinya. buru-buru mereka kenakan baju yang telah berserakan di lantai.
Ceklek
"Clar, ada apa?"
"Ngapain sih, Kak? Mama Kakak masuk Rumah Sakit."
Bulan terpaku mendengarnya, seketika saja tubuh itu mematung.
"Siapa masuk Rumah Sakit?" Guntur menyusul setelahnya
"Mertua kamu, Kak."
"Astaga!" Bulan melenggang pergi meninggalkan dua orang ini, buru-buru dia menuruni tangga dengan langkah yang cepat. Maminya, maksud Clara adalah Mami nya, bukan? Bulan tak menggubris teriakan suaminya yang meminta untuk melangkah pelan, pikirannya langsung kalut mendengar kabar Mami Vega masuk Rumah Sakit.
Apa yang terjadi? entahlah, dalam waktu beberapa menit saja akhirnya sekeluarga itu telah tiba di Dreka Hospital.
"Siapa yang kasih tau kalau Mami kecelakaan?" Bulan mempercepat langkahnya
"Assistennya, Mami mu terpengaruh alkohol."
"Ya ampun!" Bulan mengusap wajahnya dengan kasar
Apa dia stress mengurus ****** itu? batin Guntur sembari menyeringai
"Hei, tunggu!!"
πΊπΊπΊ
__ADS_1