
πΊπΊπΊ
Hamparan kota dan gedung-gedung tinggi pencakar langit diluar sana menjadi objek pemandangan kala pagi itu sembari menikmati sarapan pagi didalam kamar bersama sang suami. santapan roti dan cake beserta coklat hangat dan kopi, mampu menggoyangkan lidah mereka didalam sana. cita rasanya yang lezat menghipnotis lidahnya untuk terus melahap sarapan yang mereka pesan.
"Hari ini weekend, aku ingin kita ke sesuatu tempat." ujar Guntur
"Ke mana?" tanya Bulan
"Ke Mall, kita beli pakaian untuk kamu."
"Nggak perlu, terima kasih."
"Kenapa? pakaian kamu semuanya daster, kaos, celana sebetis, cuma dua gaun yang bagus."
"Iya sih, tapi aku betah pakai gituan. lagian aku disekap di Apartement kamu terus. jarang banget keluar kayak gini." gerutunya
"Kamu nggak boleh nolak! atau tidak---"
"Ck! ngancam terus, iya-iya!" turutnya, Guntur tersenyum senang. kemudian ia menyeruput kopi miliknya seraya memandang wajah Bulan yang cantik
Sepasang suami istri ini telah siap dengan penampilannya yang rapi, Bulan mengenakan dress merah muda yang sempat diambil sang suami dari kediaman mereka pada malam kemarin. Kini keduanya bergegas keluar dari kamar Hotel dan akan bertandang ke Mall untuk berbelanja.
Disinilah mereka pada hampir siang itu, dibawah terik mentari yang terletak sejengkal diatas kepala, sepasang pengantin baru telah menginjakkan kaki di pelataran salah satu Mall ibukota. tatkala hari ini weekend, banyak masyarakat yang berkunjung kemari untuk sekedar belanja, jalan-jalan, memanjakan diri dari segala penat selama seminggu ini.
__ADS_1
Guntur menggenggam tangan Bulan dengan lembutnya, mengayunkan kaki bersamaan menuju pelataran gedung terbesar ini.
"Pilihlah pakaian yang kamu suka." titahnya kepada Bulan yang masih termanggu menatap deretan gaun berbagai macam model
"Berapa biji boleh ku ambil?" tanyanya yang masih belum beranjak, sedangkan Guntur mendudukkan tubuhnya di atas sofa
"Sesuka hati kamu, semuanya pun boleh." jawabnya
Bulan mencebik. "Ck! entar yang ada kita malah buka toko." gerutunya, Bulan berbalik badan dan mulai melangkah untuk memilah-milah pakaian yang cocok untuknya, tentu saja pakaian tertutup dan tidak terlalu terbuka. Bulan menatap binar pada pakaian-pakaian yang memang seleranya, sangat cantik, anggun dan ellegat. Saking cantiknya ia tidak sadar telah mengambil banyak pakaian.
"Ini saja, cukup deh kayaknya." gumamnya. Kemudian menghitung jumlah dress yang ia ambil, sontak membuatnya ternganga karena telah mengambil delapan pieces.
"Ya ampun, ini banyak banget. saking sukanya benar benar tidak terkendali nih tangan." ucapnya
"Kalau dikurangin--sayang. ah bodo amat! lagi pun dia bilang ambil sesuka hati. yoweslah segini aja." Bulan mengangkut dress miliknya, membawanya ke kasir untuk melakukan pembayaran.
Guntur menarik tangan sang istri memasuki toko sepatu dan tas, tentu saja itu semua barang branded. Bulan terperangah, sejurus itu ia terdiam menahan langkah kakinya agar tidak masuk ke dalam sana. Guntur mengernyit menatap heran pada gadis dihadapannua. "Ada apa?"
"Disini pasti mahal, ditempat lain aja."
"Tidak terima bantahan, Bulan!"
Bulan menghembuskan nafas kasar, kemudian masuk menuruti pemuda ini.
__ADS_1
***
Disisi lain, Mentari benar-benar sudah tidak berdaya. ia merasa lelah dengan hidupnya sekarang yang telah berminggu-minggu berada ditempat seperti ini. kedua tangan yang slalu terikat diatas, mulut yang terus disumpal, penampilan yang sudah acak-acakan tak karuan mengenakan setelan baju tahanan. ia tertunduk lesu, berharap ingin mati saja dari pada terus tersiksa di dalam sini. dirinya pun bisa sedikit bebas untuk sekedar makan, buang hajat dan melayani nafsu bejat mereka. sedangkan untuk disiksa dengan benda tajam, sangatlah jarang tatkala Guntur hanya sesekali mendatangi tempat ini
Lepaskan aku ... Mami ... Tari nggak sanggup. hiks hiks hiks
Air mata pun lolos membasahi pipi mulusnya, entah seperti apa kini bentuk wajahnya yang cantik itu, ia tidak bisa membayangkan betapa kucelnya dia, betapa cacatnya dia, apalagi ia tidak pernah mengenakan skincare lagi. Ingin rasanya ia menjerit kuat berharap ada yang mendengar teriakannya,namun sayang sekali ia hanya bisa membatin dan menelan kenyataan pahit ini.
Lebih baik bunuh saja aku
Ceklek
Mentari terkesiap mendengar pintu yang terbuka, ia bergidik takut menatap sosok bertopeng itu melangkah mendekatinya. ia menggelengkan kepala, keduanya kakinya yang terikat pada kursi berusaha mundur seolah ingin menghindari lelaki tersebut.
"Hai, manis." sapanya, menaruh nampan yang berisi sepiring makanan dan segelas air putih khusus untuk tahanannya
"Eeeeemmmh!"
"Apa? ingin dilepaskan? tentu saja, karena kau harus makan siang. akan ribet urusannya jika kau sakit dan mati, bukan?" pria itu melepaskan ikatan dikedua tangan gadis ini, lalu membuka sumpalan mulut itu.
"Aku mohon, bunuh saja aku. dan buang mayatku ke kali, pasti orang akan mendapati jasadku." ia mengatupkan kedua tangannya, bermohon. ia sudah sangat lelah untuk tersiksa
"Bunuh? jangan menghalu! makanlah!"
__ADS_1
πΊπΊπΊ
Maaf ya, senalam nggak update π