
"Kakak!" Bulan terbelalak kaget melihat Mentari dengan wajah hancurnya, tubuh lemah bersandar dikursi roda didorong oleh Assisten Stev dan disisinya juga terdapat Mami Vega
"Keren sekali mantan kekasihku itu, eh, suamimu ya? dengan lancangnya menyekap kakakmu ini bahkan menyiksaku!" erang Mentari seraya menunjuk dirinya
Bulan mendengarnya sungguh tak percaya, bagaimana mungkin, Guntur berjanji untuk tidak menyakiti seluruh keluarganya. dan kini ia mendapati kenyataan bahwa saudari kembarnya terkulai lemas dikursi roda dengan keadaan tubuh yang tak pernah ia duga. dan disisi lain, suaminya sendiri berada didalam jeruji besi dengan kasus penganiayaan.
Bulan menoleh menatap suaminya yang tertunduk, pria itu sungguh menyesal karena tidak menuruti kata istrinya.
"Benar apa yang dikatakan Kakakku?" suara itu terdengar menahan amarah
Guntur mengangguk, ia mendongak menatap wajah istrinya dan kemudian beralih pada mantan kekasihnya. "Ya, itu karena dia sendiri yang memulai duluan! kamu tau, Kakakmu pernah melakukan pelecehan kepadaku bersama teman-temannya itu! tak hanya itu, membully dan menghinaku disatu sekolah."
"Kau pasti masih ingat, kan, Mentari? itulah alasanku menyiksa kalian!" tatapan tajam menghunus lekat kepada saudari kembar istrinya
Seketika saja gadis itu terdiam, memorinya kembali terngiang pada beberapa tahun silam. sejurus kemudian ia tersenyum miring, "Tapi memang benar, kan, kau pria impoten. bahkan disaat kau ingin menyiksaku, malah menyuruh pecundang itu menyetubuhi ku!" Mentari menunjuk dua anak buah Guntur yang berada dalam satu sel dengannya. "Kenapa tidak kau saja? hahahahaha! jelas sekali kau masih belum sanggup untuk melakukannya." sambungnya, tergelak
"Brengsek! milikku begitu berharga untuk brsentuh dengan barang bekasmu!" Guntur mulai mengamuk, genggamannya mencengkeram kuat pada besi yang mengurungnya. bahkan mengguncang besi tersebut berharap akan patah jika ia melakukannya. keadaan semakin riuh, dua anak buahnya dengan sigap menenangkan Guntur, tak terkecuali Bulan yang tak kalah panik. kali ini Guntur benar-benar ingin menghajar wanita jahanam itu.
"Permisi!" penjaga tahanan datang mendekat setelah mendengar kegaduhan
"Pak, tolong suami saya, dia masih sakit jadi tolong dilepaskan." Bulan menangis histeris, ia tak tega melihat suaminya teraniaya seperti ini. penyakitnya benar-benar belum pulih seratus persen.
Bulan merasakan kepalanya sangat pusing, pandangannya mengabur dan terlihat berputar-putar. ia memegang kepalanya, satu tangan yang lainnya menggapai besi untuk menahan tubuhnya yang ingin ambruk. melihat tubuh Bulan terhuyung, Papa Perkasa langsung menyambut tubuh mungil ini ke dalam pelukannya. sontak saja gadis itu tak sadarkan diri didekapan sang Ayah mertua
"Kakak!"
"Bul!"
__ADS_1
***
"Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?"
"Bagaimana keadaan Kakakku!"
Dokter menatap dua orang dihadapannya secara bergantian.
"Pasien hanya shock dan tertekan, ditambah lagi ia sedang mengandung, Tuan."
"Mengandung? hamil??"
Dokter mengangguk mengiyakan. sontak saja mulut Papa Perkasa menganga, begitu pula orang sekitarnya. sungguh tak percaya sekali disaat Bulan mengandung anak Guntur, bersamaan dengan itu juga dia menanggung kesedihannya seorang diri. sungguh malang, namun tak ayal ini juga kabar gembira untuk semua orang.
"Saya mau bertemu dengannya."
"Permisi." seorang suster menyapa Mami Vega, seketika saja lamunannya terbuyarkan
"Ya?"
"Harap pasien Nona Mentari kembali ke kamarnya, ya, Nyonya? kondisinya masih belum stabil."
"Hmm, ya." Mami Vega mengantarkan putrinya ke kamar yang sebelumnya ditempati
Di kamar inap yang ditempati Bulan, gadis itu masih betah bergelayut didalam tidurnya. enggan untuk bangun, membuka matanya menatap semua orang yang masih peduli dengannya. apalagi sebentar lagi akan ada buah cinta yang menghiasi hari-harinya, pengganti sang suami yang entah sampai kapan dia ditahan.
"Tuan yang terhormat, pergilah dari sini. Kakak saya bukan siapa-siapa anda." usir Bintang yang juga terpaku menatap wajah lelah Bulan
__ADS_1
"Saya mertuanya, anak saya belum menceraikannya! dan tidak akan ada perceraian." tegas Papa Perkasa, menatap tajam pada pria muda ini
"Dan saya yang akan merawatnya." ucapnya lirih
"Anaknya saja penjahat, pasti ayahnya juga seperti itu." Bintang menatap sinis
Papa Perkasa memejamkan matanya sejenak, berusaha untuk menenangkan hati dan pikiran. ia mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian ia hembus perlahan. disisi lain, Mama Anna mengelus-elus punggung suaminya, berusaha untuk menenangkan pria itu
"Kami tidak punya waktu untuk berdebat, jadi tolong jaga sikap kamu, anak muda. ini Rumah Sakit dan Kakakmu terbaring lemah disini. harap dimengerti!" ucap Mama Anna
Bintang berdecih, sungguh menyebalkan berada diruangan ini. ia mendudukkan tubuhnya diatas sofa, menanti kakaknya kembali siuman.
"Guntur ..." Bulan mengigau, menyebut-nyebut nama suaminya
Mama Anna yang sedang menjaganya, mendongak menatap sang pemilik suara.
"Bulan."
Perlahan sepasang kelopak matanya terbuka sempurna, Bulan tercenung sejenak menatap langit-langit ruangan yang kini ia entah dimana.
"Guntur ..." ia menoleh ke samping, ada Mama Anna, Papa dan Bintang
"Ssssttt! Guntur baik-baik saja, dia ada dikamar sebelah sedang tidur."
"Apa Mas Guntur kambuh lagi, Pa?" lirihnya lemah, air mata pun kembali lolos membasahi pelipisnya
Papa mengangguk. "Dia sudah tenang sekarang."
__ADS_1
πΊπΊπΊ