
πΊπΊπΊ
Guntur melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan ibukota yang tidak sepadat pagi tadi. pria tampan itu bertandang ke Pasar tradisional untuk membeli buah jeruk kehijauan yang sesuai dengan permintaan sang istri. ia menggeleng-gelengkan kepala disela setirnya, merasa lucu dan gemas dengan tingkah wanita itu dikala sakit mendera. apalagi mendengar rengekannya yang meminta hal semacam ini, sungguh aneh menurutnya.
"Biasanya orang sakit minta dibuatin bubur, minta dibeliin makanan manis, lah--dia malah minta jeruk asam." gumamnya sembari terkekeh
"Dasar gadis manja! giliran sakit, manjanya keluar." sambungnya meledeki wanita yang bersedia bersamanya itu.
Beberapa menit kemudian, Guntur telah tiba ditempat tujuan. hirup piruk lautan manusia tampak memenuhi tempat kumuh seperti ini untuk sekedar berbelanja harian dengan harga terjangkau. Guntur celingak-celinguk mencari pedagang jeruk, jejeran pedagang menjajakan berbagai jualannya ditepi jalan, ada pula didalam gedung dengan beragam sandang dan pangan yang dibutuhkan semua orang.
Disisi lain, Bulan memilih untuk menonton televisi yang menayangkan drama Korea romantis dan penuh komedy. sering kali ia tertawa melihat tingkah kocak para pemeran utamanya yang tampan dan cantik. terkadang sepasang netranya tidak berkedip menatap si pria yang terlalu tampan dan gagah, oppa yang begitu banyak diidamkan para wanita seantero dunia.
"Oh, dia sangat lucu dan menggemaskan." puji Bulan terkagum-kagum
"Akh, andaikan suamiku seperti dia, hehehe." ia terkekeh, merasa salah tingkah sendiri sama khayalannya
Ceklek!
Suara decitan pintu yang terbuka dari luar mengalihkan perhatian Bulan dari layar televisi, tepatnya Oppa tampan yang sedang melawak sama lawan mainnya. seketika saja tawanya terhenti, sudut bibir yang mengembang perlahan memudar.
"Nonton apa sampai ketawanya terdengar dari luar, hm?" Guntur langsung memberondongnya dengan pertanyaan
"Eh, nonton drakor, lawak sih." jawabnya, terkekeh
"Hmmm ..." Guntur menoleh ke televisi, menatap apa yang sedang ditonton istrinya
__ADS_1
"Heleeeh! nggak ada lucu-lucunya." cibir Guntur, mendudukkan tubuhnya diatas sofa, menaruh nampan yang berisi sepiring jeruk yang sudah ia kupas, tak lupa air mineral untuk melegakan tenggorokan
"Ayo kemari!"
"Apa itu asam-asam manis?" tanya Bulan sedikit menjengit, padahal ia inginn melihat kulit jeruk kehijauan secara langsung
"Tentu saja, aku sudah mencobanya."
"Serius??" matanya langsung berbinar-binar, ia turun dari ranjang dan mendekati suaminya
"Iya, sesuai keinginanmu."
Bulan menghiraukannya, ia langsung menyantap jeruk tersebut dan mencicipi rasanya. seketika saja matanya terpejam menikmati sensasi ini, bersamaan dengan senyum manis mengembang sempurna. Guntur memperhatikan raut wajah istrinya.
"Hmmm, ini yang aku inginkan!" girangnya
"Apa itu enak? kau suka asam-asam sejak kapan?" tanya Guntur
"Enak! sejak sekarang." jawabnya dengan senyum manis yang dipamerkan
"Aneh, apa tiap sakit dirimu ingin makan yang asam?"
Bulan berpikir, kemudian menggeleng. "Enggak, biasa aja sih. paling aku biarin saja, tapi kalau sudah parah baru deh berobat." ujarnya
"Yang benar saja, sudah parah baru berobat." gumam Guntur menggeleng-gelengkan kepalanya
__ADS_1
Bulan hanya melemparkan senyuman, kembali melanjutkan suapan demi suapan.
"Nanti siang kita berobat, ya? badanmu masih hangat." Guntur menyentuh kening sang istri dengan penuh perhatian, kemudian beralih pada ceruk leher dan lengannya, memang masih hangat, hangat sekali tidak seperti hangat normalnya manusia
"Ish, nggak deh, kamu lebay banget. biasanya demam cuma sehari dua hari, bukan berhari-hari. lagi pula tadi ada obat, kan? minum itu aja udah cukup." seloroh Bulan
"Hmmm, keras kepala!" Guntur mencubit pipi chubby wanita itu
***
Bintang menuruni tangga dengan langkah cepat setelah mendapat kabar dari Bibi bila Assisten Stev berkunjung ingin berjumpa. dari atas tangga ia dapat melihat lelaki tersebut tengah menanti diatas sofa ruang tamu.
"Gimana? ada kabar dari kakakku?" pemuda itu langsung memberikan pertanyaan inti tanpa berbasa-basi
"Sudah, Tuan." Assisten Stev menyodorkan satu amplop berwarna coklat
"Anak buah kita sempat mempotret Nona bersama Tuan muda Perkasa Group, Tuan."
"Siapa?" Bintang mengernyitkan dahinya
"Tuan Guntur Anderson, ah, saya baru ingat kalau Nona menjalin kasih dengan pewaris Perkasa Group. saya juga baru ingat kalau Nona tinggal di Apartemen. tapi--yang didapati anak buah kita, mereka tinggal satu atap."
"Apa???" Bintang terlonjak kaget
Ia bergegas membuka amplop tersebut, matanya memicing melihat kakaknya tersenyum manis kepada lelaki itu dan tampak jika keduanya baru saja keluar dari Klink kejiwaan. dan difoto lainnya, potret mobil milik Guntur juga terpampang saat perhentian lampu merah
__ADS_1
"Ini, kan, mobilku? jadi kemarin pas lampu merah, kakak ada di belakangku?"
πΊπΊπΊ