Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
First Night Halal


__ADS_3

🌺🌺🌺


Gelora asmara begitu memabukkan kedua insan yang telah bergelayut dalam cecapan nikmat. peraduan sepasang lidah saling bergulat dan menyesap, terdengar gesekan bibir dari mulut keduanya yang bermain dengan begitu liarnya. Guntur dan Bulan saling memejamkan mata, merasakan sensasi nikmat antar peraduan dalam rongga mulut itu. Guntur mengangkat tubuh sang istri, Bulan langsung melingkarkan kakinya di pinggul pria itu tanpa disuruh. masih dalam berpagutan dalam, Guntur melangkahkan kaki ingin menaiki tangga dalam posisi yang sama dan bibir saling bermain tanpa dilepaskan.


Tubuh Bulan dengan hati-hati ditaruh diatas ranjang, ia bergeliat hingga membusungkan dada tatkala tangan nakal itu mulai bergerilya menyentuh tubuhnya. meraba, menyentuh halus, dan itu membuat darahnya berdesir hebat. sesekali ia melenguh merasakan sensasi tersebut.


Guntur melepaskan ciuman mereka, menatap dalam-dalam wajah cantik Bulan yang menggigit bibirnya. bibir ranum yang basah oleh ciptaan sang suami, sedikit bengkak tapi menggoda.


"Kamu senang?" tanya Bulan


"Ternyata kamu berbohong."


"Ya, karena ingin memberikan kamu surprise." ujarnya


Guntur terus saja tersenyum, tatapannya beralih pada tubuh Bulan yang berada dibawah kungkungan nya.


"Siapa yang ajari kamu kayak gini, hm? dari mana dapat pakaian itu?"


"Hmmm .... dari sahabatku." ia tersipu malu


"Oh, astaga. sahabat pengertian, dan pasti begitu memanjakan suaminya."


Bulan mengangguk.


"Kamu harus sepertinya, Sayang. tiap malam pakailah pakaian ini lagi, ya?"


"Hah?"


"Tidak ada bantahan." Guntur langsung membenamkan bibirnya di bibir sang istri, kembali memagutnya lebih dalam dan buas. seakan ia begitu kelaparan yang butuh asupan untuk membangkitkan semangatnya.

__ADS_1


Bulan melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami, telapak tangannya menekan kepala itu agar perpagutan mereka semakin lebih dalam lagi. Guntur tersenyum didalam ciumannya, wanitanya nakal sekali malam ini dan begitu agresif kepadanya


Pria itu melepaskan pagutannya, bibirnya beralih menyapu pipi hingga telinga dan turun ke ceruk leher jenjang wanita dibawahnya. memberikan tanda merah sebagai kepemilikan atas dirinya seorang tanpa yang lain. wanita itu melenguh dan mende*ah, terdengar sangat indah di indra pendengaran Guntur.


Guntur melepaskan pakaian kurang bahan itu dari tubuh sang istri, kemudian dirinya hingga kedua pengantin baru ini telah sama-sama polos. Guntur memasukkan miliknya ke dalam goa mulus yang cetar membahana ini, gadis ini benar-benar usil sampai membohonginya perihal masa haid. Bulan mengeram, ini terasa sesak dan penuh, beriringan dengan rasa perih yang kemudian berubah nikmat. Guntur menghentakkannya dengan pelan, membiarkan milik mereka beradaptasi sebelum hujaman itu semakin kencang dan dalam.


Empat jam kemudian dengan banyak gaya yang mereka mainkan, akhirnya percintaan panas itu berakhir dengan tubuh yang dirasa pegal. tubuh keduanya sudah berkeringat penuh, padahal AC diruangan ini telah disetel sedingin mungkin. Guntur menjatuhkan tubuhnya disamping sang istri, kedua nafas mereka terengah-engah seperti tengah dikejar setan saja.


Guntur tergelak, ia menoleh ke samping menatap sang istri. "Nggak nyangka malam pertama pernikahan kita akan seindah ini."


"Tapi capek tau! kau benar-benar memakai banyak gaya. badanku terasa remuk."


"Tapi enak. haaaah!!"


"Aku ingin tidur, jangan lagi, ya." Bulan memeluk tubuh suaminya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki ini


"Baiklah." hingga keduanya memutuskan untuk tidur disaat waktu telah menunjukkan pukul satu dinihari.


***


Bulan yang mendengar teriakan itu hanya bisa menggeleng-geleng, pasalnya suara itu terdengar masih jauh. lelakinya terdengar begitu semangat pada pagi ini.


"Biasakan jangan berteriak. masih pagi." peringat Bulan yang sedang menata nasi goreng ke piring keduanya, tak lupa ada sosis, nuget dan bakso untuk cemilan diatas meja itu. beserta coklat hangat, kopi dan air mineral


"Aku sedang bahagia, tau!" Guntur langsung mendudukkan tubuhnya di kursi, memandang dalam-dalam wajah cantik itu


"Jangan melihatku seperti itu! nih, makan!" Bulan tersipu malu bila dipandang lekat, menaruh milik Guntur dihadapannya


"Aku ingin makan yang lain."

__ADS_1


"Hah?" Bulan menatapnya. "Makan apa? sandwich?"


Guntur menggeleng.


"Lalu?" Bulan mengernyit heran


"Makan apem legit dan bakpaw."


"Hah? kau membuatku bingung." Bulan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Guntur tersenyum miring menatap wajah lugu yang menggemaskan ini.


"Aku akan beli, ya?" Bulan melangkahkan kakinya berniat ingin membeli kue tersebut, namun langkahnya terhenti tatkala Guntur meraih tangannya dari belakang.


"Ada apa?"


"Bukan makanan tapi mahkotamu." Guntur menunjuk mahkota berharga ditubuh Bulan dengan dagunya. sontak saja membuat wanita itu memutar bola matanya, jengah.


"Nanti! makan dulu setelahnya kita pergi ke Psikiater." tegas Bulan, ia kembali duduk di bangku miliknya


"Kesitu terus. nantikan bisa?"


"Nggak!"


Guntur menghembuskan nafasnya dengan kasar. dan mereka memulai santapan paginya bersama-sama.


***


Guntur memainkan ponselnya menanti Bulan yang sedang bersiap-siap membersihkan diri sebelum mereka pergi. ia membuka pesan WhatsApp untuk melihat video yang dikirimkan anak buahnya barusan. entah apa itu, Guntur tersenyum miring melihatnya.

__ADS_1


"Sudah siap! ayo!" Bulan menuruni tangga dengan langkah yang cukup cepat, suaranya yang menggelegar begitu mengagetkan Guntur. sontak ia langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.


🌺🌺🌺


__ADS_2