
πΊπΊπΊ
Ting tong!
Bell berbunyi menghentikan langkah Bulan yang hampir mencapai pintu kamarnya. Ia menoleh ke belakang, menyeka air mata yang telah membasahi pipi. Bulan urungkan niat untuk ke kamar, ia melangkah pelan menuju pintu utama sembari menghapus jejak tangisan diwajahnya.
Ceklek
Bulan mengulum senyum, sedikit menundukkan kepalanya menatap orang ini. Bulan berpikir keras, ia seperti mengenal pria ini tapi entah di mana.
"Selamat malam ..." sapanya
Pria itu hanya diam, mengernyitkan dahi sembari memerhatikan lekat wajahnya.
"Kamu--anak Tuan Cakra, bukan?" tebaknya
"Iya benar, Tuan, kok bisa tahu? ah, mari masuk." Bulan menyilakannya, memberikan ruang untuk ia masuk ke dalam Apartement ini. Lelaki itu tersenyum dan melangkahkan kakinya, sejurus itu pula tampak Guntur yang berlari cepat ingin mengejar Bulan, tapi langkahnya terhenti melihat sang ayah berada dikediamannya. Ia pun turun secara perlahan
"Saya tahu kamu, karna almarhum selalu mengajak kamu untuk bertemu Klien, bahkan menghadiri rapat."
"Ah, iya. itu sudah lama sekali." Bulan tersenyum kikuk, mengelus tengkuk lehernya
"Papa, ngapain kemari?" sahut Guntur yang telah menginjakkan kaki di lantai dasar. Bulan menatap kesal padanya, ia bergegas pergi ke dapur untuk membuat minum kepada tamunya
Guntur memerhatikan Bulan yang menghindari dirinya, tanpa ia sadari ada segumpal hati yang tertohok saat melihat sikapnya, seakan diremat kuat membuat hatinya sedikit sakit. mungkin saja karena tidak biasa melihat kemurkaan wanita itu, dan ia merasa bersalah namun ada rasa lega juga telah menghancurkan benda itu.
"Ada apa, Pa?" Guntur mendudukkan tubuhnya di sofa panjang
"Papa bawa kabar baru yang selama ini tidak Papa tahu." ucap lelaki parubaya itu, ia duduk dengan salah satu kaki bertumpu pada lutut, kedua tangan ia taruh diatas lengan sofa
__ADS_1
"Apa?" Guntur meremang, ia takut kenyataan tentang dirinya telah terungkap
"Kamu pengidap, dan tidak memberitahu Papa! lebih parahnya lagi kau menghentikan pengobatan sejak setahun yang lalu." geramnya, disaat itu pula Bulan kembali datang membawa secangkir kopi hangat untuk tamu, yang diketahui adalah orang tua Guntur
"Pengidap apaan! hahahahaha .... aku sehat, Papa." Pria itu tergelak, Bulan menatap heran pada lelaki itu, seperti orang gila saja, pikirnya.
"Silakan, Tuan." sela Bulan, menaruh kopi diatas meja
"Terima kasih, Nak, tapi--kenapa kamu berada disini?" Pria parubaya itu menegapkan tubuhnya, ia jadi ingin tahu penyebab pewaris Cakrawala ada dikediaman anaknya
Bulan terlihat bingung untuk menjawab, ia melirik Guntur untuk membantunya mengatakan hal ini. apalagi kini ia mengenakan pakaian rumahan, tidak mungkin ia mengatakan seorang tamu yang bermain ditempat ini. dan itu sangat tidak masuk akal
"Dia kekasihku, Pa, aku menyuruhnya untuk tinggal disini beberapa hari saja." sahut lelaki itu, yang ditanya hanya diam saja seraya terpelongo mendengarnya
"Kekasih? tinggal disini hanya berdua?" ulang Tuan Perkasa, diangguki oleh kedua anak muda itu
"Astaga!" Tuan Perkasa tergelak, entah apa yang lucu hingga membuat sepasang insan itu menatap bingung. "Anak jaman sekarang memang agresif, belum menikah saja tapi sudah serumah." Ia menggeleng-gelengkan kepala
"Kamu pikir saya percaya? lebih baik kalian cepat menikah, tidak baik juga bila berlama-lama tinggal serumah." usulnya, Bulan mendengus sebal. seharusnya ia menyelonong masuk saja ke kamar dari pada harus membukakan pintu untuk lelaki ini. dan kini--mereka malah disuruh menikah olehnya.
Namun disisi lain, Guntur malah tersenyum lebar, benar juga yang dikatakan Papanya jika mereka harus menikah. dengan cara itu ia akan mendapatkan keturunan dari rahim wanita ini.
"Aku setuju, Pa." sahut Guntur, semangat
Bulan semakin terpelongo, ingin rasanya ia pingsan sekarang juga.
"Sayang, kenapa kau berdiri saja? kemarilah, duduk disampingku." titah Guntur menepuk sofa disebelahnya
Bulan menurut demi menghormati tamunya walaupun didalam hati ia masih sangat marah kepada pria ini.
__ADS_1
"Aku tidak akan mau menikah denganmu!!" bisik Bulan tepat ditelinga Guntur, Guntur hanya tersenyum miring mendengarnya
"Ah, saya lupa siapa namamu, Nona Cakra."
"Bulan, Tuan." jawabnya
"Hah, iya! saudari kembar model itu kan."
Bulan mengangguk mengiyakan.
"Jadi kapan kami bisa ke rumah kamu?" tanya Tuan Perkasa, Guntur merasa lega karna tidak membahas tentang dirinya lagi
"Untuk apa?" Bulan terkesiap
"Tentu saja untuk melamar kamu, Nak. kamu lucu sekali."
"Maaf, Tuan, saya belum---
"Besok atau lusa, Pa." sela Guntur, merangkul pundak tawanan yang akan menjadi istrinya, Guntur tersenyum mengejek menatap Bulan yang hanya diam terpaku
"Siiip, nanti papa hubungi kamu. tapi sebelum itu--" Papa Perkasa menjeda kalimatnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana yang ia kenakan. Guntur mulai panas dingin, apakah malam ini juga dirinya ketahuan dihadapan mereka? entahlah, ia hanya pasrah sepertinya.
"Ini! kamu tau, Nak Bulan, kalau Guntur mengidap suatu penyakit?" tanyanya pada Bulan, wanita itu menggeleng
Tuan Perkasa tersenyum miris, bisa-bisanya sang putra menyembunyikan ini semua kepada semua orang, termasuk pada ayahnya sendiri.
πΊπΊπΊ
Ayo kasih aku hadiah guys π
__ADS_1
plis, follow ig ku ya ... elceshan2408
fb, elce kha